Sastra Indis

Oleh Tanti Johana

Jika anda masih ingat Paul Bettany yang memerankan dokter Stephen Maturin dalam film Master and Commander: The Far Side of the World tentu tidaklah sulit membayangkan bagaimana sebuah kekayaan alam jaman dulu didokumentasikan. Sesampainya kapal HMS Surprise pimpinan Kapten Jack Aubrey di kepulauan Galapagos, dokter Stephen Maturin dengan sangat antusias mengumpulkan berbagai jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, memasukkannya ke dalam keranjang dan bermaksud membawanya untuk diteliti dan digambar. Gambaran tindakan dokter Stephen Maturin membantu kita memahami bagaimana kekayaan alam abad lampau didokumentasikan.

Mungkin dengan metode yang serupa pula flora dan fauna kepulauan Maluku didokumentasikan oleh Georg Rumphuis. Menurut catatan sejarah tidak hanya flora dan fauna saja yang didokumentasikan oleh para ahli pada jaman itu, tetapi juga lingkungan sosial budaya dan situasi Nusantara, seperti yang dikerjakan oleh François Valentijn dan Rijklof van Goens. Indahnya pemandangan tak disia-siakan untuk dilukis oleh Nicolaus de Graaff dan Cornelis de Bruijn.

Novel Indis
Munculnya bacaan, selain berhubungan dengan teknologi percetakan juga berkaitan erat dengan kemampuan dan minat baca masyarakat pada saat itu.

Teks-teks pertama yang beredar untuk masyarakat Hindia Belanda terbit pada tahun 1617 berbahasa Melayu berhuruf latin dan dicetak di Belanda. Kemudian East Indies Company mendirikan percetakan di Batavia yang menghasilkan teks-teks sastra, ilmu pengetahuan dan religi dalam bahasa Belanda, Portugis dan Melayu, tiga bahasa yang paling populer pada masa itu.

Novel Indis dapat disebut “masih muda” jika dibanding dengan lamanya orang Belanda berada di Indonesia. Novel Indis lahir pada akhir abad ke-19 seiring dengan berkembangnya jumlah wanita Belanda yang semakin meningkat, selain dipublikasikan dalam bentuk buku, novel Indis juga ditampilkan berserial dalam koran-koran Hindia Belanda berbahasa Belanda, bahkan ada yang dipublikasikan di Belanda pula lalu dicetak ulang di Jawa.

Banyak sekali kemungkinannya kenapa novel Indis baru muncul pada akhir abad ke-19, antara lain karena sebelum abad ke sembilan belas tidak banyak wanita Belanda yang ada di Indonesia, dalam sejarah, membaca selalu dikaitkan dengan suatu kesenangan milik perempuan kalangan terpelajar, meskipun begitu di Indonesia penulis perempuan baru muncul pada kisaran tahun 1890-an. Konon kabarnya budaya membaca telah ada di Belanda sejak bertahun-tahun yang lalu, mungkin para wanita Belanda itu yang membawa budaya membaca novel di Indonesia ? Masih terbuka penelitian dalam hal ini.

Meskipun novel Indis ditujukan hanya untuk kalangan yang bisa berbahasa Belanda saja takdapat dipungkiri bahwa karya sastra ini merupakan salah satu wujud kebudayaan Indis yang mengisahkan kehidupan di Hindia Belanda pada jamannya. Darinya dapat diambil gambaran kehidupan pada jaman lampau dalam hal ini semasa Kolonial.

Jakarta, akhir Maret 2004


%d blogger menyukai ini: