Gedung Sate, ”Gedung Putih”-nya Bandung

Oleh Teguh Amor Patria

ADALAH hal yang lumrah bila setiap ibukota negara di dunia memiliki gedung pusat pemerintahannya sendiri, seperti Istana Merdeka di Jakarta, Buckingham Palace di London, atau Gedung Putih di Washington D.C. Namun menjadi luar biasa bila ibukota provinsi seperti Bandung memiliki gedung pemerintahannya yang megah dan unik, yaitu Gedung Sate.

Gedung Sate sempat dinyatakan sebagai bangunan terindah di Indonesia (Ruhl, 1952). Hal ini tidaklah mengherankan, sebab pada awalnya gedung ini dirancang sebagai gedung pusat pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda (landmark) Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Sangat disayangkan, masih banyak warga Bandung, khususnya, dan warga Indonesia, umumnya, yang belum memiliki kesempatan masuk dan menikmati interior gedung kebanggaan warga Jawa Barat ini. Padahal sejak beberapa tahun terakhir Gedung Sate telah dibuka untuk para pengunjung (khusus untuk jumlah banyak atau kelompok perlu mendapatkan izin terlebih dahulu). Mungkin juga kurangnya pengunjung karena masih ada anggapan bahwa Gedung Sate hanya bisa dimasuki oleh wisatawan asing, padahal gedung ini bisa dinikmati oleh siapa saja termasuk warga Indonesia sendiri.

Penulis cukup beruntung berkesempatan memasuki dan menelusuri setiap lantai di dalam Gedung Sate, melalui acara heritage walk yang diselenggarakan Desember tahun lalu. Dari sekira 150 peserta yang ikut, sekitar 95% mengatakan belum pernah masuk ke dalam Gedung Sate dan mereka sangat senang bisa melihat interior gedung untuk pertama kalinya, serta naik ke atas menara dan menikmati panorama Kota Bandung.

Gedung Sate terdiri dari 4 lantai. Lantai dasar merupakan lantai bawah tanah atau basement yang dihubungkan oleh lorong-lorong dan memiliki sejumlah ruang kantor serta musala.

Lantai pertama adalah lantai dimana pintu masuk utama berada. Ketika memasuki pintu utama ini, kita akan tiba di reception hall, yang mengarah langsung pada ruang terbuka di mana terdapat patung perunggu Badak Bercula Satu. Tempat ini juga sering digunakan sebagai tempat pergelaran musik Sunda ketika kunjungan atau upacara resmi berlangsung.

Ruang terbuka ini juga merupakan penghubung antara kedua sayap, yaitu ruang aula barat dan timur yang megah, yang digunakan untuk upacara-upacara resmi. Di hampir semua sisinya berdiri kokoh pilar-pilar dengan dekorasi karpet beludru berwarna hijau, serta lampu hias cantik dan mewah pada pusat langit-langitnya. Di sepanjang koridor lantai pertama terdapat ruang-ruang kantor para kepala biro.

Lantai dua juga terdiri dari sayap barat dan sayap timur yang dihubungkan dengan koridor. Di sepanjang koridor terdapat ruang-ruang yang digunakan sebagai kantor, di antaranya ruang kerja Gubernur Jawa Barat dan 3 orang wakilnya, serta sekretaris daerah.

Pada bagian tengah lantai dua terdapat tangga kayu sempit yang mengarah ke menara sentral Gedung Sate (sejak 1998 ditambah lift yang menghubungkan semua lantai). Menara sentral dibagi lagi menjadi 2 ruangan; Pertama adalah ruang pameran foto-foto pembangunan di Jawa Barat, dan yang kedua adalah “Teras Kopi” yang dibatasi oleh dinding-dinding berkaca.

Untuk menuju “Teras Kopi” pengunjung harus menaiki lagi tangga di bagian luar menara. Dari sini pengunjung dapat menikmati panorama Kota Bandung dan pegunungan yang mengelilinginya. Pemandangannya cukup indah, terutama di kawasan sekitar Gedung Sate yang hijau oleh pepohonan. Ke arah utara dapat dilihat dengan jelas Monumen Perjuangan dengan panorama Gunung Tangkuban Perahu sebagai latar belakang.

Selain itu, “Teras Kopi” juga biasa digunakan untuk menjamu para pengunjung Gedung Sate. Di sini juga terdapat teleskop tua yang dapat digunakan untuk melihat secara lebih detail pegunungan di sebelah utara Bandung, juga kawat penarik yang pernah digunakan untuk menarik bahan dan barang dari bawah ketika gedung dibuat.

Di atap puncak menara sentral terdapat tiga atap bertumpuk yang diyakini meniru atap pura di Bali, atau ada juga yang menyebutkan atap pagoda Thailand. Di puncaknya terdapat “tusuk sate” dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden – jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Gedung Sate sendiri, di samping keunikan arsitekturnya, memiliki sejarah yang menarik dalam skala nasional. Setelah Pemerintah Hindia Belanda berencana untuk memindahkan ibukota Nusantara dari Batavia (Jakarta) ke Bandung pada tahun 1917, mereka menyewa tenaga seorang arsitek muda lulusan Fakultas Teknik Universitas Delft, Negeri Belanda, bernama J. Gerber untuk merancang gedung pusat pemerintahan (Gouvernemens Bedrijven atau GB) yang baru. Sebagai lokasi dipilih suatu kawasan di timur laut Bandung seluas 27 hektar, yang kala itu dizonasikan sebagai kawasan pemerintahan berikut perumahan bagi 1.500 pegawai pemerintahan.

Selain itu, di halaman depan terdapat sebuah batu besar untuk memperingati gugurnya 7 orang pemuda Indonesia yang mempertahankan gedung dari pasukan Ghurka (Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia dibantu Inggris) pada tanggal 3 Desember 1945.

Peletakan batu pertama gedung dilakukan oleh Johanna Coops, putri sulung Wali Kota Bandung saat itu, B. Coops, dan Petronella Roelofen, wakil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Selama pembangunannya yang memakan waktu 4 tahun, sekira 2.000 pekerja terlibat dalam pengerjaannya, termasuk 150 pemahat batu dan pengukir kayu dari Canton, Cina. Pada bulan September 1924, Gedung Sate resmi selesai.

Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moorish Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand.

Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Gedung Sate sendiri terletak di pusat suatu lahan yang dialokasikan sebagai kompleks pemerintahan. Dengan pohon-pohonnya yang rimbun, kompleks pemerintahan ini tampak indah dan sering digunakan untuk berjalan-jalan, bersantai, atau lokasi pemotretan. Pada tahun 1980, di kawasan kompleks bagian barat dibangun tambahan sayap yang urung dirampungkan pada zaman pembangunannya dulu, yang kini dikenal sebagai Gedung DPRD Jawa Barat.

Gedung Putih Bandung
Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah.

Diperbolehkannya umum berkunjung ke Gedung Sate dalam beberapa tahun terakhir merupakan suatu kemajuan yang menarik. Hal ini sebetulnya sudah banyak diterapkan di bangunan-bangunan pusat pemerintahan lain, seperti Gedung Putih di Washington D.C., Amerika Serikat. Gedung Putih, tempat resmi Presiden AS bekerja, telah lama dibuka untuk umum dan menjadi salah satu objek wisata terkenal di ibukota Paman Sam tersebut. Rasanya upaya pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memugar, mempercantik menara, dan membuka Gedung Sate untuk publik patut diacungi jempol (mungkin yang kurang adalah guide lokal), karena bagaimanapun juga gedung ini merupakan gedung kebanggaan milik warga Jawa Barat khususnya, dan Indonesia umumnya, yang juga berhak untuk menikmati.

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 22 Februari 2004


%d blogger menyukai ini: