“Plesiran Tempo Doeloe” Kian Diminati

Jakarta, Kompas – Masyarakat Jakarta dan wisatawan mancanegara kian berminat mengetahui lebih dalam tentang bangunan-bangunan lama peninggalan sejarah perkembangan Jakarta. Setidaknya itu tampak pada tingginya antusiasme warga Jakarta dan wisatawan asing mengikuti perjalanan wisata mengunjungi kompleks bangunan lama di sekitar Passer Baroe, Jakarta Pusat, yang diadakan Yayasan Sahabat Museum, Minggu (25/1).

Jumlah peserta perjalanan wisata ini hampir mencapai 500 orang atau sekitar dua kali lipat dari perkiraan panitia, sehingga perjalanan sempat tertunda 30 menit.

Dalam perjalanan wisata mengenal Jakarta Lama kemarin, peserta diajak menyusuri kembali perkembangan Kota Jakarta yang mengadopsi berbagai macam gaya seni bangunan. Kompleks Passer Baroe dianggap sebagai salah satu lokasi yang menarik karena banyak mempunyai bangunan lama bercorak bangunan tradisional Cina, Eropa, hingga perpaduan antara keduanya dengan corak bangunan asli Indonesia yang disebut bangunan Indis.

Perjalanan diawali dari Kantor Pos Filateli yang bergaya art deco. Bangunan ini belum pernah berubah fungsi sejak resmi didirikan tahun 1912-1929. Kemudian peserta diajak menuju Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Gedung yang hampir berumur 200 tahun ini memang dibangun sebagai pusat aktivitas kesenian oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu pemandu perjalanan yang juga Ketua Panitia Perjalanan Wisata Ade Purnama mengatakan, sekilas GKJ seperti bangunan Eropa, tetapi sebenarnya banyak dipengaruhi budaya Cina, terutama ornamen hiasannya.

Bangunan bergaya tradisional Cina juga banyak ditemui di dalam Kompleks Passer Baroe. Beberapa bangunan milik usahawan Tionghoa terkenal masa awal abad ke-20, Tio Tek Hong, masih dapat ditemui sampai saat ini.

Peninggalan usahawan besar itu, antara lain Restoran Tropic yang terkenal dengan ice cream-nya, bekas toko senapan yang sekarang telah beralih fungsi menjadi toko pakaian, dan bekas toko alat musik yang saat ini menjadi toko buku.

Jusni Hilwan, salah seorang keturunan Tio Tek Hong yang ikut sebagai peserta, mengisahkan kenangan masa kecilnya hidup di kawasan Passer Baroe. “Menyenangkan melihat kawasan ini lagi yang pernah saya tinggali selama 30 tahun. Beberapa bangunan, seperti Toko Kompak, masih seperti aslinya dulu. Akan tetapi, lainnya sudah berubah sama sekali,” katanya.

Jusni lahir dan tumbuh di kawasan ini tahun 1947-1978, sebelum akhirnya hijrah dan menjadi warga negara Toronto, Kanada. (k08)

Sumber: Kompas, Senin, 26 Januari 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: