Dasima dan Kisah Para Nyai

Laporan: Alwi Shahab

Terletak sekitar 10 km dari pasar Parung, daerah Ciseeng di Kabupaten Bogor berkembang pesat. Belasan tahun lalu jalan menuju Ciseeng sebagian masih tanah dan rusak berat. Kini sejumlah perusahaan real estate membangun perumahan di sana. Sementara pesantren Al-Mukhlisini pimpinan KH Zainal Abidin yang memiliki ribuan santri kini sudah membesar dengan membangun perguruan tinggi. Di kawasan ini juga terdapat pemandian air panas yang belum dikelola baik. Berbelok ke arah kanan dari Ciseeng dari Parung, terdapat desa Kuripan, setelah naik ojek sekitar dua kilometer.

Diriwayatkan di desa yang berhawa sejuk inilah lahir dan dibesarkan gadis cantik bernama Dasima. Kemudian untuk mencari penghidupan yang lebih baik, ia mengadu nasib ke desa Curug, Tangerang. Sulit dibayangkan bagaimana Dasima mencapai Curug dari desa terpencil dan belum ada jalan macam sekarang ini. Yang pasti, Dasima kemudian bekerja pada seorang Inggris kaya raya, Edward Williams, yang merupakan orang kepercayaan Raffles. Karena tergoda gadis desa yang bahenol ini, William memeliharanya sebagai nyai atawa gundik, tanpa dinikahi.

Kisah Dasima selanjutnya memilukan hati. Menurut versi G Francis (1896), sekalipun Dasima diberlakukan baik oleh tuannya, tapi ia mengalah pada guna-guna dan meninggalkan suami serta putrinya yang masih kecil bernama Nancy. Ia lantas menjadi istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang. Tapi, sebenarnya bukan karena guna-guna Dasima meninggalkan tuan dan putrinya, tapi setelah diinsafkan bahwa hidup tanpa nikah adalah dosa besar. Akhirnya nyai dari Kuripan ini mati dibunuh Bang Puase atas perintah istri pertama Samiun, Hayati yang gila ceki (permainan judi Cina). Mayatnya dilemparkan ke kali Ciliwung dari Jembatan Kwitang, dekat toko buku Gunung Agung dan Hotel Aryaduta sekarang. Sedangkan, tempat kediaman William, pada peristiwa dua abad lalu itu diperkirakan terletak di samping gedung Pertamina dan Dirjen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur. Kisah Nyai Dasima ini telah beberapa kali diangkat ke layar film dan sinetron serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Kisah nyai-nyai yang berlangsung pada dua abad lalu ini menjadi jamak karena orang Belanda dan Cina yang tiba di Batavia saat itu sering tanpa disertai istri. Mereka mengawini wanita pribumi atau mengambil nyai (gundik), terutama dari kalangan budak. Sebetulnya, pergundikan yang merupakan tradisi masyarakat kolonial Portugis sangat dibenci Gubernur Jenderal JP Coen. Tapi, hal itu terjadi karena penduduk Batavia sebagian besar pria. Coen ingin menjadikan Batavia sebagai kota Belanda yang murni. Untuk itu ia berkali-kali minta agar banyak wanita Belanda termasuk para gadis yatim piatu untuk dikirim ke Batavia, tapi tidak berhasil. Kecuali kepada para pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak, Heren 17 (Dewan Tertinggi VOC) melarang mengirim wanita Belanda ke Asia.

Orang-orang Eropa yang mengawini wanita pribumi cendrung kehilangan ciri-ciri Eropa tertentu dan mengambil berbagai gaya hidup pribumi. Mereka inilah yang sampai tahun 1950-an disebut Indo Belanda. Mereka sendiri oleh kaum Belanda totok diberlakukan sebagai orang Eropa kelas II, bahkan kelas III dan IV. Tidak heran banyak warga Belanda yang setelah mengawini wanita pribumi akan lebih memilih untuk tetap hidup di Indonesia setelah masa jabatannya habis. Apalagi pada masa VOC mereka tidak disediakan tiket untuk pulang.

Sejak JP Coen menaklukan Jayakarta (1619), ia memang memerlukan banyak tenaga kerja. Sementara Belanda dan Cina yang datang tanpa istri membutuhkan para budak wanita untuk dikawini atau dipelihara sebagai nyai dan gundik. Jumlah budak lantas berkembang sangat cepat, hingga pertengahan abad ke-17 jumlahnya mencapai separuh penduduk Batavia. Sensus tahun 1681 mencatat dari 30.740 penduduk Batavia, sebanyak 15.785 adalah budak belian. Tahun 1730 jumlah mereka meningkat dua kali lipat menjadi 30 ribu sehingga menjadi kelompok penduduk terbesar. Perbudakan baru dihapuskan pada 1860. Di antara para budak belian di Batavia, banyak yang dibeli di pasar-pasar budak di India, seperti di pantai Malabar dan Coromandel, selain dari Bali dan Sulawesi Selatan. Di Batavia kala itu juga terdapat tempat jual beli budak. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) hampir setiap tahunnya dilakukan impor empat ribu budak.

Tentu saja nasib para budak sangat menyedihkan. Mereka bekerja tanpa dibayar dan tidak ada jaminan hukum terhadap mereka. Menurut Adolf Heuken, warga Jerman yang banyak menulis tentang Jakarta, justru para nyai atau gundik inilah yang bernasib baik. Beberapa nyai bahkan memiliki beberapa budak belian untuk berbagai keperluan sehari-harinya. Para budak juga dipekerjakan di kebun-kebun yang dibeli para nyai. Sebagai contoh Nyai Rokya (1816) yang memiliki 22 budak. Ia masih kalah dengan seorang janda kaya yang jadi gundik Cina kaya raya yang mewarisi 32 budak belian. Baru pertengahan abad ke-19, setelah dibukanya Terusan Suez dan pelayaran dengan kapal uap ke Hindia Belanda hanya butuh waktu satu bulan, banyak warga Belanda datang ke Batavia dengan disertai istri dan keluarganya. Sebelumnya pelayaran dari Eropa ke Batavia memerlukan waktu enam bulan dengan berbagai risiko di laut.

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: