Gereja Sion, Gereja Tertua di Jakarta

“Gereja tua ini ditopang 10.000 kayu dolken bulat sebagai fondasi bangunan, ya, semacam pasak bumilah untuk ukuran zaman sekarang,” kata Hadikusumo, jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat Sion, Jakarta Barat.

Berkat fondasi itu, kata Hadi, gedung tua ini tetap tegak berdiri sampai saat ini. Bahkan, gempa bumi besar yang menjalar sampai ke Australia Selatan, Sri Lanka, dan Filipina, akibat letusan Krakatau pada Agustus 1883 tak sedikit pun meretakkan gereja ini.

Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.

Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal. “Batu nisan itu berasal dari India dan bernama Koromandel, mungkin nama tempat asal batu itu,” kata Hadi.

Melayangkan pandangan ke altar gereja, hanya keagungan Tuhan semata yang terucap. Betapa tidak, interior Gereja Sion sangat menakjubkan. Terlebih lagi, kanopi berukuran besar dengan bentuk atap menyerupai mahkota, yang konon berasal dari bongkaran Gereja Kubah, Jakarta. Tepat di bawah kanopi terdapat mimbar bergaya Barok, yang hampir serupa dengan mimbar Gereja Katedral. Menurut Hadi, mimbar ini bergaya Katolik yang sekarang jarang digunakan. Ornamen pada sisi bawah mimbar berbentuk kepala malaikat lengkap dengan sayap yang dicat serupa warna kulit manusia.

Bagian depan gereja sisi utara, ada balkon yang memuat orgel gereja. Menurut Hadi, orgel ini hibah putri Pendeta John Maurits Moor, pada abad ke-17. Orgel ini masih dapat digunakan sesuai mekanisme aslinya, hanya saja pemompa orgel kini tak lagi diengkol dengan tenaga manusia. Orgel ini terbuat dari kayu terukir dengan pipa-pipa besi di dalamnya.

Enam tiang besar menopang langit-langit yang berbentuk lengkungan. Ada pula, empat kandelar kuningan, kandil tempat lilin yang kini digantikan lampu bohlam. Kandelar itu dipesan dari India dengan lambang singa, perisai, dan pedang sebagai lambang Kota Batavia. Lantai gereja tersusun dari ubin granit berwarna keabuan.

Menurut skala peta Gunter W Holtorf, Gereja Sion hanya berjarak 200 meter barat kompleks pertokoan Mangga Dua dan bukan mustahil perluasan kompleks Mangga Dua akan merambah ke Gereja Sion. (K01)

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Desember 2003


%d blogger menyukai ini: