Gereja Immanuel, Bangunan Bersejarah yang Mulai Kusam

GOEDEMORGEN dames en heren…. Mag ik mij voorstellen, ik ben Hans…, Selamat pagi bapak dan ibu…. Izinkanlah saya memperkenalkan diri, saya Hans,” demikianlah Hans Hukom (71), pria yang selalu menyelipkan sebatang Dunhill di bibirnya, membuka percakapan dengan sepasang suami istri lanjut usia warga negara Belanda.

Selanjutnya mereka berjalan beriring seraya bercakap tentang kejayaan masa silam, omong kosong tentang cuaca, dan pembicaraan hangat perihal keturunan mereka, di bawah kubah gedung tua putih bergaya klasisisme atau neoklasik, di antara pilar-pilar Romawi atau Toskan. Tapi, jangan salah duga! Pembicaraan tersebut bukan di masion tua di sisi Dam Square, ataupun salah satu gedung kuno di tepian Canal Cruise, Negeri Belanda. Akan tetapi, di sebuah gereja tua di sisi timur Lapangan Monas, Jakarta Pusat, yakni gereja GPIB Immanuel, yang berhadapan dengan Stasiun Gambir.

Hans, mantan sekretaris di Kedutaan Yunani, adalah jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel, Jakarta. Opa ini selalu merayakan perjamuan kudus, tiap hari minggu pukul 10.00. Pria necis asal Maluku, yang fasih bahasa Belanda sejak kanak-kanak tersebut mengikuti kebaktian bahasa Belanda bersama para ekspatriat dan para oma-opa lain, yang sedari dahulu berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

Gereja Immanuel mulai dibangun tahun 1834. Gereja yang terletak di sudut Jalan Merdeka Timur dan Pejambon ini semula bernama Williamskerk. Penamaan tersebut diberikan untuk menghormati Raja Willem I, yang menurut daftar raja Negara Rendah terbitan Utrech 1971 menjadi raja Belanda antara tahun 1813-1840.

Gereja Williamskerk merupakan perwujudan mimpi beliau untuk mempersatukan umat Protestan Belanda dalam satu gereja. Upaya yang lalu direspons umat Reformasi dan umat Luteran meski sesungguhnya persatuan kedua umat baru benar-benar terjadi tahun 1854, atau 15 tahun setelah gereja diresmikan.

Mengacu definisi klasisisme dalam The Columbia Encyclopedia 2001, yang bersinonim kesempurnaan, kesimetrisan, serta rasa seni tinggi, rancangan gereja yang diarsiteki J H Horst sangatlah superb, berkualitas unggul.

Gaya ini antara lain terlihat dari desain dasar lantai gereja yang sangat simetris, berbentuk bundar sempurna berdiameter 9,5 meter, ukiran-ukiran indah pada kayu pegangan tangga, serta pilar-pilar monumental, yang berjumlah enam pilar pada tiap sisi gereja. Terdapat pula ornamen kepala pilar berwarna kuning keemasan, dengan ukiran yang rumit dan indah, bergaya korint. Sementara itu, pencahayaan gereja dipasok sempurna melalui menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dengan dihiasi plesteran bunga teratai berdaun enam helai, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Sebuah orgel pipa raksasa tua buatan J Batz pada tahun 1843 digunakan mengiringi lagu pujian saat kebaktian. Orgel tua ini konon memiliki 1.116 pipa yang berfungsi baik sesuai sistem aslinya meski kompresor telah dieletrikkan. “Pengoperasiannya mirip piano biasa, hanya saja pedal kaki bernada dua oktaf sehingga harus menggunakan dua kaki untuk memainkannya. Secara umum, orgel ini masih berfungsi baik, paling satu dua tuts saja yang tak berbunyi lagi. Beberapa tahun lalu orgel ini dibongkar, dikontainerkan, lalu dikirim ke Belanda untuk direparasi. Boleh percaya atau tidak, perusahaan pembuat orgel tersebut masih berdiri hingga kini,” kata Ricky, salah seorang pemain orgel di Gereja Immanuel.

Menurut buku Gereja-gereja Tua di Jakarta karangan A Heuken SJ, di dalam gereja disimpan Kitab Suci (Staatenbijbel), cetakan tahun 1748 oleh N Goetzee di Belanda. Sementara itu, di bagian belakang mimbar gereja terdapat beberapa papan kayu yang bertuliskan nama-nama pendeta beserta tahun karyanya. Papan tersebut tak hanya memuat nama pendeta gembala Willemskrek, namun juga pendeta gereja-gereja lain, antara lain nama pendeta Jemaat Jerman Rendah (Nederduitse Gemeente) atau Jemaat berbahasa Belanda (1619-1810), nama pendeta jemaat berbahasa Melayu (sejak 1622). Kemudian, papan lain bertuliskan nama pendeta jemaat berbahasa Portugis (1633-1787), jemaat Lutheran (1746-1854), dan jemaat Injili (sejak 1855).

Rumah ibadat tua ini, sejak 1948 dinamai Immanuel, kata dalam bahasa Ibrani, bahasa penduduk Israel sejak 250 sebelum Masehi (Before Christ), yang melambangkan kepercayaan dan pengharapan bahwa “Tuhan selalu beserta kita”.

Kini, gereja tua ini sedikit memprihatinkan. Warna putih tembok gereja memudar, anak tangga berderak, eternit ternodakan bercak-bercak air, pelituran kayu mengusam, dan karpet merah gereja telah lusuh. Jangan pandang gereja ini sebagai tempat ibadah semata, namun pandanglah sebagai peninggalan masa lampau, sebagai bagian perjalanan bangsa. Ketahuilah bahwasanya berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993, Gereja Immanuel telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Tengoklah saksi bisu sejarah bangsa ini karena dia bukan milik umat GPIB, bukan milik umat Kristen semata, namun juga milik bangsa Indonesia.(K01)

Sumber: Harian Kompas, Rabu, 17 Desember 2003.


%d blogger menyukai ini: