Revitalisasi Kampung Tidak Hanya Mengubah Keadaan Fisik

Jakarta, Kompas – Dalam melihat perkembangan kota, kampung harus dilihat sebagai sebuah entitas yang unik sehingga ketika usaha untuk merevitalisasi kampung sebagai bagian dari perkembangan kota tidak sama dengan hanya mengubah kondisi fisik kampung. Komunitas yang lingkungannya direvitalisasi harus ikut merasakan bahwa transformasi itu membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi mereka.

Demikian benang merah yang muncul dalam kompetisi desain urban dengan tema “Transforming Asian Cities” dengan topik “Confronting Scale” yang diadakan oleh Delft University of Technology (TU Delft), Berlage Institute of Architecture, dan Erasmus Huis Jakarta di gedung Erasmus Huis Jakarta, Senin kemarin.

Kompetisi diikuti oleh mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi di Jawa. Juri yang berjumlah 11 orang, diketuai oleh Prof Dipl Ing Jürgen Rosemann dari TU Delft dengan anggota antara lain Prof Dr Ir Han Meyer (TU Delft), Dr Stephen Read (TU Delft), Prof Dr M Danisworo, MArch (Institut Teknologi Bandung), Prof Dr Sandi A Siregar, MAE (Universitas Parahyangan), Dipl Ing Jo Santoso (Universitas Tarumanegara), dan Sandyawan, SJ (Sanggar Ciliwung).

Tujuh kelompok peserta kompetisi yang masing-masing merupakan gabungan dari berbagai jurusan arsitektur berbagai universitas mengambil tema revitalisasi kampung dengan kasus Kampung Bukit Duri, Kampung Luar Batang (Jakarta Utara), Kampung Penas Cipinang, dan Kampung Balokan (Jakarta Kota).

Kampung Balokan Menang
Pemenang pertama adalah kelompok yang mengintegrasikan revitalisasi Kampung Balokan yang berada di belakang gedung BNI Kota dengan kegiatan komersial di sekitar kawasan tersebut. Caranya dengan membuka akses terhadap daerah itu serta menghidupkan kegiatan komersial di kawasan yang masyarakatnya antara lain hidup dari berdagang dan menyediakan jasa.

Menurut Rosemann, kompetisi, yang merupakan bagian dari workshop sepekan di Jakarta yang akan ditutup dengan pameran arsitektur serta seminar sehari pada Rabu (17/12) di Erasmus Huis, ini merupakan upaya untuk saling bertukar gagasan mengenai pengembangan kawasan urban di Asia dengan ide-ide urbanisme Barat.

Tema kompetisi yang juga tema workshop, direspons peserta kompetisi dengan membuat desain revitalisasi kampung seraya tetap menghargai nilai sosial budaya dan aktivitas ekonomi kampung.

Dalam komentarnya Rosemann menyebutkan, definisi mengenai kampung mungkin perlu dievaluasi lagi mengingat sumbangan kampung terhadap keberlangsungan kota dan menjadi tugas para ahli desain urban mencari solusi yang realistis. Dengan menunjukkan solusi-yang berarti membuka imajinasi dan pemahaman masyarakat mengenai kampung- menurut Read akan mengubah arah diskusi mengenai kampung yang bersifat politis, misalnya mengenai hak hukum atas kepemilikan tanah. (NMP)

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 16 Desember 2003


%d blogger menyukai ini: