Sukses dari Balik Bangunan Tua

Segala sesuatu berkonotasi belum tentu merugikan. Apalagi jika dibalik ketuaan itu, tersembunyi sejarah yang sarat nilai dan arti penting tentang riwayat perjalanan sebuah bangsa. Begitu pula dengan bangunan-bangunan tua yang tersebar di seluruh penjuru Surabaya. Setiap bangunan cagar budaya yang notabene berusia sekurang-kurangnya 50 tahun dan memiliki nilai kesejarahan itu, sebenarnya mampu memberi nilai lebih bagi pengelolanya.

Yang dibutuhkan hanyalah kejelian menangkap peluang, strategi pengembangan yang tepat dan keberanian mengambil resiko, niat baik, dan kesabaran. Bersama bangunan tua nan bersejarah itu, mereka justru mampu meraih sukses yang lebih hebat, bahkan dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sebut saja Mandarin Oriental Majapahit Hotel. Bangunan di Jalan Tunjungan 55 ini adalah salah satu yang mewakili bangunan cagar budaya, yang justru semakin maju di usia tuanya.

Bangunan itu dulunya dikenal dengan nama Orange Hotel (pada masa pendudukan Belanda) dan Yamato Hoteru (pada masa pendudukan Jepang). Kini di Surabaya, orang dengan gampang menyebutnya Hotel Majapahit dan menunjukkan di mana letak hotel bersejarah karena peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi Sang Merah Putih, yang dilakukan Arek-arek Suroboyo, 19 September 1945.

“Masyarakat mengenal Hotel Majapahit sebagai cagar budaya. Ini justru menjadi nilai tambah karena setiap kali kami kontak ke klien, mereka sudah tahu. Ini tentu merupakan hal positif,” tutur Director of Finance & Human Resources Mandarin Oriental Hotel Majapahit Surabaya I Wayan Carma di Surabaya.

Bangunan cagar budaya di Majapahit Hotel sama sekali tidak diubah, bahkan tetap dijaga keasliannya. Selain mematuhi peraturan, juga sekaligus menjadikannya daya tarik yang justru mendatangkan keuntungan.

“Orang asing senang dengan sejarah. Mereka merasa bangga jika bisa tinggal di hotel yang memiliki nilai sejarah, apalagi jika mereka pernah belajar bagaimana peristiwa tersebut terjadi,” papar Wayan.

Maka dari itu, Majapahit Hotel sering kali melakukan open house bagi masyarakat sekitar. Selain menjalin hubungan, program itu memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk mengunjungi lokasi cagar budaya, sekaligus dimanfaatkan sebagai sosialisasi fasilitas hotel.

Meski sedikit berbeda dengan Majapahit Hotel dalam hal pemanfaatan cagar budayanya, PT Wismilak, yang menempati gedung tempat gencatan senjata antara NICA dan Indonesia di Jalan Dr Soetomo No 27 Surabaya, memiliki komitmen tersendiri terhadap bangunan-bangunan cagar budaya.

Wismilak terbuka terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Bagi Wismilak ini merupakan kontribusi perusahaan kepada pariwisata, terutama mempertahankan sejarah dan napak tilas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

“Kami tertarik melestarikan bangunan cagar budaya di Surabaya karena di sini banyak bangunan bernilai sejarah, tetapi bentuk aslinya tidak dipertahankan. Yang dilihat hanya sisi strategisnya saja,” ungkap Marketing Manager Wismilak Stefanus Handojo Kusumo.

Ketertarikan tersebut memang tidak terlalu jauh dari image (citra) yang ingin dibangun oleh Wismilak. Selain komitmen pelestarian, Wismilak juga menyejajarkan produk rokoknya yang tradisional dengan nilai sejarah yang terkandung di dalam bangunan cagar budaya yang digunakan sebagai kantor itu. Ini menjadi nilai tersendiri bagi Wismilak untuk memperkuat brand image product yang ditawarkan.

Ketidakleluasaan mengembangkan bangunan dan banyaknya ruangan yang tidak dapat dimanfaatkan maksimal memang kendala bagi pengelola bangunan cagar budaya. Meski demikian, sejumlah strategi dapat diambil sebagai langkah kompromi antara melestarikan bangunan cagar budaya dan kepentingan bisnis.

“Bangunan cagar budayanya masih ada. Hanya interiornya yang dibuat mewah. Termasuk penambahan kolam renang, spa, dan gym (tempat olah raga) sesuai fasilitas hotel bintang lima,” ungkap Wayan dari Hotel Majapahit.

Sementara bangunan yang ditempati Wismilak, masih tetap sesuai asli. Hanya fungsinya yang diubah. Seperti pemasangan kaca karena alasan polusi dan lantai yang diganti total karena rusak berat.

Biaya perawatan tampaknya tergantung pada pemanfaatan bangunan itu. Untuk hotel mungkin tidak terlalu masalah karena berbarengan dengan anggaran yang dikeluarkan hotel setiap tahun. Akan tetapi, bagi Wismilak, anggaran perawatan membutuhkan dana yang cukup besar.

Meski demikian, segala kendala tidak membuat para pengelola mundur. Dengan niat baik serta kearifan memanfaatkan apa yang ada, menjadi nilai tambah tersendiri. Bangunan tua yang identik dengan ketidakberdayaan ternyata mampu membawa pengelolanya mencapai sukses dan menangguk keuntungan, baik secara materi (tangible) maupun image positif (intangible). (l04)

Sumber: Kompas, 17 November 2003


%d blogger menyukai ini: