Jembatan Merah Nasibmu Kini

Jembatan merah…

sungguh gagah berpagar gedung indah

Sepanjang hari yang melintasi

silih berganti

Jika Komponis keroncong Gesang berjalan-jalan di jembatan yang melintasi Kalimas itu sekarang, tentu tak akan syair “Jembatan Merah” sedemikian indah.

Jembatan merah sungguh berubah. Tak tampak lagi kegagahannya. Ukiran besi pagar yang indah tertutup berjubelnya antrean becak. Sebagian bangunan bergaya kolonial tidak terawat di sekitar jembatan, memberikan kesan kumuh. Tidak lagi jadi pagar yang indah.

Sejumlah bangunan baru seperti Bank BCA dan pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plasa tidak ramah dengan gaya arsitektur bangunan situs cagar budaya Jembatan Merah yang bergaya kolonial.

Ada pula bagian yang hilang dari jembatan bersejarah tersebut. Pada tahun 1974, pemerintah pernah menandai situs kepahlawanan yang ada di Surabaya dengan patung berwujud tokoh pahlawan, seperti yang ada di utara bangunan Siola.

Tetapi, di situs Jembatan Merah, patung tersebut sudah lenyap dan tidak pernah lagi ada penanda bahwa situs tersebut pernah menjadi bukti kepahlawanan arek Surabaya.

Yang tak kalah menyedihkan, tubuh jembatan itu kini tak sepenuhnya asli. Jembatan Merah diganti jembatan beton yang jelek.

Seperti pernah dituturkan pengamat perkotaan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Johan Silas, awal tahun 1990-an, ada proyek yang hendak membongkar Jembatan Merah dengan alasan besi-besinya sudah keropos sebab usianya sekitar 100 tahun. Alasan lain adalah perlu menghilangkan kaki jembatan agar bargas pembersih sungai dapat lewat.

Rencana tersebut sempat menuai protes keras dari dosen dan mahasiswa Arsitektur Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Mereka berhasil menghubungi Dr Roeslan Abdulgani serta Ibu Lukitaningsih, pejuang perempuan 10 November.

Namun, ternyata imbauan kedua tokoh 10 November itu tetap tidak digubris tim Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya. Semula mahasiswa hendak berdemonstrasi, namun dibatalkan dan diganti dengan upacara memberi karangan bunga duka (krans) menjelang jembatan dibongkar.

Tawaran ITS untuk memasang kembali bongkaran jembatan di Kampus ITS ditolak dengan alasan kelak akan dipasang di sebuah taman kota.

Dalam proses pembongkaran jembatan ternyata yang keropos hanya besi kaki jembatan yang mudah diganti dan dilebarkan agar bargas dapat lewat. Besi lainnya masih baik seperti baru.

Saat pembangunan jembatan baru selesai, peresmiannya bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jembatan Brooklyn di New York (Amerika Serikat) yang dipestakan meriah dengan kembang api dan dijamin masih tahan 100 tahun lagi. Kini, terbukti semua janji pemerintah daerah tentang bargas dan memasang kembali jembatan, seperti biasanya : hanya omong kosong, melompong.

Sejumlah situs dan bangunan bersejarah yang lekat dengan kepahlawanan Arek Suraboyo antara lain Gedung Internatio, Tugu Pahlawan, Hotel Majapahit, dan situs Jembatan Merah.

Dari semua situs tersebut, Jembatan Merah dan sekitarnya mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, namun ironisnya justru kondisinya paling memprihatinkan.

Padahal, Jembatan Merah asli merupakan benteng para pejuang berhadapan dengan tentara Sekutu yang berlindung di Gedung Internatio.

Kebesaran nama Jembatan Merah mengingatkan warga Kota Surabaya tentang tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945 dalam pertempuran tiga hari yang sengit. Kejadian ini merupakan casus belly “Pertempuran 10 November 1945”.

Jembatan Merah yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya merupakan saksi perjalanan pertumbuhan Kota Surabaya sejak organisasi perdagangan Belanda, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pertama kali mendarat di Surabaya hingga sekarang.

Kawasan Jembatan Merah adalah kawasan yang mulai berkembang akibat perjanjian antara pada tahun 1743. Disepakati Jawa bagian timur diserahkan oleh Pakubuwono kepada VOC. Sehingga, VOC semakin mengembangkan perniagaan wilayah ini.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1808-1811, Surabaya dibagi menjadi karesidenan dan kabupaten dengan Kota Surabaya menjadi ibu kotanya.

Belanda lalu membangun kota benteng di kawasan Jembatan Merah. Saat itu Gedung Karesidenan yang merupakan pusat pemerintahan Kota Surabaya berdiri di pusat kota, yaitu di ujung barat Jembatan Merah. Bangunan tepat di mulut jembatan itu.

Seiring perkembangan perdagangan dan industri, kawasan tersebut memiliki kantung-kantung tempat tinggal. Permukiman orang-orang Eropa (Europeesche Wijk) di bagian barat Gedung Karesidenan, permukiman Cina (pecinan) di seputar Jalan Kembang Jepun, serta kantung Melayu dan Arab (Arabische Kamp) di sisi utaranya, di kawasan Ampel. Jembatan Merah lah yang menghubungkan ketiga kantung permukiman tersebut.

Demikian kondisinya hingga Pemerintah Belanda memutuskan menetapkan Surabaya sebagai kotapraja dengan wali kota sebagai pemimpinnya. Pusat pemerintahan pun pindah dari asalnya.

Dari kawasan jembatan tersebut Surabaya berkembang ke arah selatan mengikuti jalur transportasi kereta api saat itu. Terus, merambah ke kawasan Tunjungan, Simpang, dan Darmo sebagai lokasi tempat tinggal sekitar tahun 1910-1920. Hingga kini Surabaya berbatasan langsung dengan Sidoarjo. Dan, seiring bergesernya pusat pemerintahan dari Jembatan Merah, nasibnya pun semakin terlupakan. (Indira Permanasari)

Sumber: Kompas, 17 November 2003


%d blogger menyukai ini: