Masjid Jami Kampung Baru, Punya Mimbar Paling Indah

BERADA di Jalan Bandengan Selatan, Jakarta Barat, Masjid Jami Kampung Baru, adalah salah satu masjid tua yang didirikan pada tahun 1744. Masjid ini dulu cukup banyak jemaahnya. Waktu itu masyarakat Pekojan dan sekitarnya, mayoritas penduduknya adalah warga keturunan Moor. Mereka menetap dan beranak pinak. Masyarakat muslimnya paling banyak, tapi kini menjadi minoritas. Bahkan, di wilayah RT 12 RW 05 Kelurahan Pekojan, wilayah berdirinya masjid yang sudah berusia lebih dari tiga abad itu hanya dihuni oleh dua kepala keluarga muslim, selebihnya nonmuslim.

Tak aneh bila jemaah Masjid Kampung Baru banyak berasal dari wilayah lain. Untuk hari-hari biasa, suasana di masjid itu terasa sepi. Anak-anak muda yang kebetulan berdagang di sekitar masjid inilah yang sering shalat atau berdoa di sana. Selebihnya adalah masyarakat luar wilayah Pekojan.

Seperti diungkapkan oleh H Jamhuri, imam Masjid Kampung Baru yang kini sudah sakit-sakitan, kalau shalat Jumat, jemaahnya cukup banyak. Mereka di antaranya orang-orang mereka yang bekerja di sekitar masjid. Penduduk di sekitar masjid itu umumnya tinggal di gang-gang. Di Jalan Bandengan itu berderet perkantoran dan pusat kegiatan bisnis. Bahkan persis di samping Masjid Jami Kampung Baru, berdiri hotel Jatra. Keberadaan perkantoran, dan perhotelan, mau tidak mau telah menggusur warga yang semula tinggal disekitar masjid.

Jamhuri mengakui, aktivitas masjid biasa-biasa saja. Anak-anak mudanya lebih banyak aktif di mushala. “Mau ke masjid, letaknya jauh. Sementara lingkungan masjid sendiri, rata-rata dihuni nonmuslim. Kita nggak bisa ngapa-ngapain. Paling kita menggerakkan kegiatan pengajian tiap Selasa malam. Kita ngundang ustadz dari Banten untuk mengisi ceramah,” kata Jamhuri yang tinggal di daerah itu sejak kecil.

Hampir 30 tahun menjadi imam masjid itu, laki-laki yang sudah tampak renta itu mengakui letak Masjid Kampung Baru sekarang ini kurang menguntungkan. Karena banyak masyarakat muslim yang pindah ke tempat lain. “Bayangkan saja, di wilayah masjid itu, hanya dua kepala keluarga yang muslim,” katanya. Dia sendiri tinggal di RT 07, yang berjarak kurang lebih 300 meter dari masjid. Akibat penyakit yang dideritanya, dia mulai jarang memimpin shalat berjamaah di masjid itu. Dia lebih banyak melakukan ibadah di rumah. Posisinya diwakili oleh ustadz yang sehari-hari ada di masjid.

Tak banyak referensi yang mennceritakan tentang sejarah masjid tua ini. Seorang peneliti dan penulis buku Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta, A Heuken SJ pun merasa kesulitan untuk mengumpulkan data tentang keberadaan masjid yang selalu kebanjiran setiap datang musim hujan itu.

Masjid yang berada di Kelurahan Pekojan ini dulunya asri, penuh pepohonan. Tapi kini gersang, debu menempel di mana-mana karena kepadatan lalu lintas di jalan Bandengan Selatan. Jalan ini menjadi akses utama bagi pengendara kendaraan dari Kota ke Pluit, atau Bandara Soekarno-Hatta, sampai ke Grogol, Jembatan Lima hingga ke arah Pesing. Kalau siang cukup padat. Apalagi sore pada jam kantor, kendaraan merayap, dan antrean cukup panjang terjadi hingga ke Jalan Gedong Panjang. Persis di samping masjid ada Jalan Pekojan I, yang juga kerap dijadikan jalan alternatif dari Jembatan Lima, Lewat Pekojan Raya. Kendaraan di sini selalu padat.

Kesibukan luar biasa terjadi pada jalur lalu lintas di wilayah ini. Jadi jangan berharap Anda bisa memarkir kendaraan dengan nyaman. Kalau Anda ingin mengunjungi masjid ini usahakan berjalan kaki, atau naik sepeda motor, karena tidak tersedia area perparkiran.

DI sekitar Masjid Jami Kampung Baru yang masuk dalam wilayah RW 05, dikenal sebagai daerah padat penduduk. Antara penduduk yang satu dengan yang lainnya hanya dibatasi oleh gang sempit. Jalan setapak itu terasa sumpek.

Persis di sebelah masjid ini, ada kantor Yayasan Masjid Kampung Baru – Inpak. Inpak di sini singkatan dari India – Pakistan. Konon, yayasan ini dikelola oleh ahli waris pendiri masjid ini. Menurut penduduk yang tinggal di lingkungan Masjid Jami Kampung Baru, pengurus yayasan itu jarang datang. Jamhuri sendiri sebagai imam masjid, mengaku tidak mengenal dekat dengan pengurus yayasan, yang katanya baru datang akhir tahun 1980-an.

Di kampung itu, banyak terdapat rumah Tionghoa. Padahal pada abad ke-17 dan ke-18 perkampungan itu semula dihuni orang Koja dari India, orang Melayu dan Mardijker. Sejak abad ke-19, orang-orang Arab dari Hadramaut (Yaman Selatan) berbondong-bondong ke sini. Mereka tinggal di gang-gang seputar Jalan Pengukiran (I-V). Di sekitar tempat itu juga terdapat kelenteng tua.

Menurut informasi, masjid ini adalah yang kedua yang didirikan oleh orang Moor, yang tinggal sejak sebelum abad ke-17 di daerah Pekojan. Masjid pertama, didirikan tidak jauh dari situ, yaitu Masjid Al Anshor (1648), tapi letaknya di gang, sehingga terlalu sempit. Heuken menulis, pembunuhan massal orang Tionghoa (1740) memberikan kesempatan dagang yang lebih leluasa kepada orang Moor, sehingga jumlah mereka bertambah. Orang Moor diizinkan membangun rumah ibadat ini, karena mereka mengeluh, bahwa di masjid suku bangsa lain mereka merasa terganggu. Pada tahun 1829, masjid ini di dalam karangan Belanda disebut sebagai Moorsche Temple.

Denah dasar Masjid Kampung Baru persegi, atapnya tumpang satu dengan atap corak limasan pada bagian atasnya. Sedangkan limas bawah seperti terpancung, sehingga digolongkan tipe masjid Jawa gaya pendopo. Di dalam masjid terdapat ukiran buah anggur yang indah. Masjid ini pernah memiliki mimbar paling indah, terbuat dari kayu ukir. Mimbar itu sudah diganti. Menurut informasi, mimbar aslinya kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta.

Rumah-rumah di Pekojan, tampak bergaya Belanda, namun dibangun untuk orang Moor yang agak kaya. Pada masa pembangunan masjid ini, Kampung Pekojan diperluas. Makanya di tempat ini masih ada satu dua rumah tinggal paling tua di Jakarta. Akhir tahun 1980-an, rumah-rumah tua itu dibongkar begitu saja untuk dibangun jembatan layang yang menghubungkan ke Stasiun Kota. Sama halnya dengan nasib rumah-rumah tua, Masjid Kampung Baru pun, tak lepas dari upaya perbaikan tanpa memedulikan nilai-nilai sejarah dan arsitekturnya. Karena wilayah itu sering kebanjiran, masjid itu pernah diuruk setinggi 1,5 meter sehingga proporsinya menjadi hilang. (agi)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 14 November 2003.

Iklan

%d blogger menyukai ini: