Betawi Seabad Silam , Nama Chasse yang Tenar – 3 November 1903

DAFTAR pemakai telepon di Betawi terus bertambah, walau pertambahannya tidak secepat yang diperkirakan gubernemen. Dalam daftar baru pemasangan telepon yang diumumkan Dinas Telepon dan Telegraf, pada bulan Oktober terdapat 27 pelanggan baru. Yang memprihatinkan, hampir semuanya orang Eropa. Hanya terdapat satu nama orang non-Eropa, yaitu Gouw Koen Koei dari Gang Chasse.

Agaknya penduduk non-Eropa, khususnya orang Arab dan pribumi, belum merasakan perlunya memiliki sarana komunikasi modern yang sangat praktis itu. Selain ongkos pemasangannya masih mahal, juga ada kendala psikologis: mereka belum terbiasa berbicara jarak jauh dengan lawan bicaranya. Mereka lebih suka mengobrol langsung, karena bisa melihat emosi lawan bicaranya.

Belakangan orang-orang Cina mulai banyak mempergunakan telepon karena mereka merasakan manfaatnya dalam memperlancar transaksi bisnis mereka. Sebaliknya orang-orang Arab, yang juga banyak bergerak di bidang perdagangan, agaknya tidak tertarik dengan alat komunikasi modern itu. Padahal sebenarnya mereka tidak menghadapi kesulitan dalam membayar langganan telepon. Hal ini berbeda dengan orang pribumi, yang selain tidak memiliki kemampuan keuangan juga tidak memiliki kebutuhan akan sarana komunikasi itu. Sejauh ini orang pribumi di Betawi yang sudah memasang telepon baru satu orang, yaitu seorang bangsawan yang tinggal di Mangga Dua.

Tidak diketahui, apakah Gouw Koen Koei memasang telepon untuk keperluan usahanya atau tidak. Tetapi yang menarik, ia tidak tinggal di Kampung Cina, sebagaimana umumnya para pedagang bangsanya. Ia berdiam di di Gang Chasse, yang masuk Distrik Mangga Besar.

Di mana letak Gang Chasse? Gang Chasse merupakan jalan kecil di sebelah utara Gang Alaydrus. Jadi bila orang berjalan sepanjang kanal Molenvliet (Jalan Gajah Mada sekarang) dari (societat) Harmoni ke arah kota tua, setelah melewati Gang Alaydrus ia akan menemukan sebuah jalan kecil. Itulah yang dinamakan Gang Chasse (sekarang Jalan Pembangunan II).

Di Betawi memang banyak jalan atau gang yang mengabadikan nama-nama asing. Beberapa contoh, Gang Ribalt di kota tua (sekarang Jalan Pintu Besar Selatan I), Gang Scott (sekarang Jalan Budi Kemuliaan) dan Gang Thiebault (sekarang Jalan Juanda III). Nama-nama asing tersebut dipakai untuk gang-gang tersebut, karena mereka memang tinggal di gang-gang tersebut. Jadi pemakaian nama-nama mereka hanya berdasarkan pertimbangan praktis, karena nama-nama tersebut telah melekat pada gang-gang tersebut.

Apakah Gang Chasse juga demikian? Agaknya penamaan Gang Chasse berbeda dengan gang-gang lainnya. Sebab jalan dengan nama Chasse tidak hanya terdapat di Betawi. Bila kita pergi ke Den Haag, kita akan menemukan Chasse-straat. Chasse memang dianggap sebagai seorang tokoh besar Belanda, tidak berbeda dengan Daendels.

Siapa Chasse? Ia adalah seorang tokoh militer yang cukup dikenal pada pertengahan abad ke-18, yang sangat berperan dalam perang di Eropa zaman Napoleon Bonaparte. Nama lengkapnya Karel Johan Chasse, berasal dari Tiel, sebuah kota kecil di Belanda. Dari namanya, kita dapat menduga bahwa ia berasal dari Perancis dan pada mulanya menganut agama Katolik. Di kota kecil Tiel, orang semua mengenal istrinya, Maria Johanna Helena Schull, karena ia merupakan putri seorang walikota. Pada tahun 1757 mereka menikah, dan memiliki lima anak. Salah satunya, seorang anak laki-laki yang diberi nama David Hendrik. Anak lelakinya ini kemudian memperoleh jabatan tinggi dalam pasukan Belanda di India.

Nama Chasse sering dikaitkan dengan Prins dari Oranye, yang setelah menjadi raja bergelar Willem III. Pada bulan April 1849 Chasse sakit payah dan akhirnya meninggal beberapa hari kemudian. Pemakaman dengan penghormatan militer dilakukan terhadap perwira militer itu.

Dalam pasukan Napoleon, Chasse pernah berada di bawah komando Daendels. Walaupun Napoleon akhirnya kalah, tetapi keperwiraan Chasse tetap menjadi buah bibir di kalangan orang-orang Belanda. Itulah sebabnya di Den Haag namanya diabadikan untuk sebuah jalan, sebagaimana juga di Betawi. Tetapi dengan berakhirnya kekuasaan Belanda, maka nama Gang Chasse juga lenyap dari tanah Betawi.

(Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Harian Kompas, 03 November 2003


%d blogger menyukai ini: