Betawi Seabad Silam – Jembatan di Atas Kanal – 28 Oktober 1903

SIAUW A Hok, penduduk yang bertempat tinggal di Pancoran, malam-malam ingin mencari angin. Ia keluar rumah dan duduk di lengan (tempat pegangan tangan) di salah satu jembatan di Pancoran. Malang tidak dapat ditolak, ternyata kayu jembatan yang didudukinya itu patah. Siauw A Hok pun jatuh ke kali, dan kepalanya membentur perahu yang kebetulan sedang lewat di bawah jembatan itu. Ketika tukang perahu menolongnya, kepala Siauw A Hok berlumuran darah. Para tetangganya segera membawanya ke Stadsverband (rumah sakit untuk pribumi dan Cina) di Glodok, tetapi di tengah perjalanan ia meninggal.

Di kawasan kota lama Betawi memang banyak terdapat jembatan. Untuk menyebut beberapa, misalnya, Jembatan Senti di seberang gereja Portugis (sekarang gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta), Jembatan Pasar Ayam (Hoenderpasarbrug) di sebelah utara Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta), dan Jembatan Javasche Bank (kini gedung Bank Indonesia). Jembatan-jembatan itu kebanyakan berbahan kayu dan telah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang lebih satu abad. Tidak aneh kalau kayunya banyak yang lapuk dan membahayakan penduduk.

Mengapa begitu banyak jembatan di kawasan kota lama? Jan Pieterszoon Coen peletak dasar kolonialisme kumpeni, ketika bermaksud membangun kota sebagai pusat kekuasaan kumpeni, minta dibuatkan rancangan seperti kota-kota di negeri leluhurnya. Karena itu kota yang dikelilingi tembok itu penuh dengan kanal-kanal, yang memiliki fungsi untuk keamanan, selain juga sebagai sarana angkutan air. Sementara jalan-jalan dibuat di sekitar kanal-kanal itu yang saling berpotongan tegak lurus.

Agar orang dapat menyeberangi kanal-kanal itu di beberapa tempat tertentu dibuat jembatan dari bahan kayu. Untuk kanal-kanal yang cukup lebar, kadang-kadang dipakai konstruksi batu. Jembatan itu merupakan jembatan angkat (ophaalbrug), dan dibuat tinggi di atas pemukaan air, sehingga perjalanan perahu-perahu yang banyak hilir-mudik di kanal-kanal itu tidak terganggu.

Jembatan angkat yang terkenal dan merupakan satu-satunya yang masih kelihatan bentuknya adalah yang dikenal dengan nama Hoenderpasarbrug (Jembatan Pasar Ayam), yang terletak di ujung utara Kali Besar, di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat.

Sesuai namanya, jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap bisa melewati Kali Besar.

Selain Jembatan Pasar Ayam, di ujung selatan Kali Besar juga terdapat sebuah jembatan, untuk kebutuhan orang-orang yang bermaksud ke rumah sakit (hospitaalsbrug). Setelah rumah sakit dipindahkan ke Weltevreden, lahan bekas rumah sakit itu dimanfaatkan oleh Javasche Bank, sehingga jembatan itu dikenal sebagai Jembatan Javasche Bank. Jembatan Pasar Ayam maupun Jembatan Javasche Bank itu bukan jembatan yang paling tua di Betawi. Yang tertua adalah Jembatan Inggris, yang ketika tentara Mataram menyerang Betawi pada tahun 1628, jembatan itu harus dihancurkan. Baru pada tahun 1655 dibangun jembatan baru melintasi terusan kanal yang bernama Amsterdamsche-gracht. Itulah jembatan yang disebut Hoenderpasarbrug.

Jembatan itu bukan satu-satunya sarana untuk menyeberangi kanal. Ketika para pembesar kumpeni masih tinggal di dalam kastil, selain jembatan untuk penyeberangan itu, di tempat-tempat yang cukup jauh dari jembatan ditempatkan beberapa buah sampan memakai tenda. Sampan-sampan itu dipakai untuk mengangkut ’nyonya-nyonya besar’ yang biasanya malas berjalan itu ke seberang kanal. ’Nyonya-nyonya besar’ itu jelas sulit berjalan, karena gaun-gaun yang mereka kenakan model kurungan ayam. Setiap mereka berjalan, harus ada budak-budak yang memegangi gaun itu. Repotnya lagi, selain budak pemegang gaun, ada pula budak yang khusus memayungi sang nyonya besar, karena matahari Betawi sangat terik. Si nyonya besar sendiri tidak henti-hentinya mengipas-ngipaskan kipas bulu burung merak.(Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, Selasa, 28 Oktober 2003

Iklan

%d blogger menyukai ini: