Betawi Seabad Silam – Kelenteng yang Lenyap – 23 Oktober 1903

DALAM Bintang Betawi diwartakan, polisi kembali menangkap beberapa orang Cina yang asyik main top di Kelenteng Jembatan Busuk. Ini merupakan yang kesekian kalinya kelenteng itu dipakai tempat main judi. Agaknya para penjudi itu menganggap kelenteng yang telantar itu merupakan lokasi aman untuk main top.

Dalam sejumlah peta Betawi lama tidak tercantum nama Jembatan Busuk. Tetapi dari berita-berita yang dimuat Bintang Betawi, kawasan yang kumuh dan penuh dengan kegiatan pekerja seks komersial (PSK) itu agaknya terletak di sekitar Gang Ketapang (sekarang Jalan Zainul Arifin). Jembatan yang memperoleh nama kurang baik itu agaknya melintang di atas kanal buatan Bingam, karena yang disebut (kawasan) Jembatan Busuk ada dua.

Yang pertama di barat kanal, dan yang kedua di timur kanal, yang dikenal dengan nama Kali Goot. Dalam peta Topographische Bureau, Kali Goot terletak di sebelah utara Gang Alhambra (sekarang Jalan Kebon Jeruk 3).

Karena sekarang di sekitar lokasi itu tidak terdapat lagi kelenteng, agaknya rumah ibadat yang sering dipakai untuk main judi itu telah dibongkar atau dipindahkan. Hal yang demikian bukan sesuatu yang aneh. Kelenteng yang dulu terdapat di Kali Lio, misalnya, sekarang telah dihancurkan, sementara kelenteng di Pasar Pagi dipindahkan dan dibangun kembali di Jalan Pejagalan II.

Kelenteng berasal dari istilah Cina Guan-ying ting, artinya kuil bagi Dewi Guan-yin atau yang lebih populer dikenal sebagai Dewi Kwan Im. Bentuk fisik kelenteng mudah dikenali. Ia memiliki ujung atap yang melengkung dari sebuah bangunan khas Cina. Bahkan pada kelenteng tua, bubungan atap itu dihiasi dengan patung naga dan dekorasi rumit lain. Balok-balok di bawahnya dihiasi ukiran berbentuk binatang atau bunga teratai. Di pintu masuk sering terdapat sejumlah patung singa, sementara di bagian kiri dan kanannya biasanya terdapat tempat penjualan hio, lilin, atau uang kelenteng.

Pembangunan kelenteng di Betawi tidak berjalan mulus. Walau memerlukan orang Cina untuk membangun Betawi, pada awalnya kumpeni tidak bisa menerima kehadiran kelenteng, yang menjadi tempat pemujaan orang-orang Cina. Dalam Plakaatboek, yaitu himpunan aturan-aturan yang pernah dikeluarkan kumpeni, ada keputusan untuk memusnahkan kelenteng di daerah kota lama, atas permintaan Dewan Gereja.

Seperti juga penganut agama Islam, orang-orang Cina mengalami kesulitan untuk melaksanakan ibadahnya. Menurut Statuta Van Diemen, yang merupakan undang-undang yang berlaku di Betawi sejak 1642, pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di lingkungan apa yang disebut “Kerajaan Jakarta” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya.

Gubernur Jenderal Carel Reniersz, yang menjabat tahun 1650-1653, merupakan pejabat lemah, yang hanya mengikuti keinginan pendeta Calvinis. Tetapi sebelum masa jabatan Carel Reniersz berakhir, orang-orang Cina telah mendirikan sebuah kelenteng di kawasan Pecinan, di luar tembok kota (sekarang Jalan Kemenangan). Kelenteng yang bersifat Budhis ini didirikan oleh seorang letnan Cina, dan pada tahun 1655 diberi nama Jin-de yuan. Kelenteng ini makin menonjol, karena tidak menolak siapa pun yang ingin beribadah di situ. Karena itu pula banyak tokoh penduduk Cina membantu saat kelenteng ini dipugar.

Kelenteng lain yang didirikan sekitar masa itu adalah kelenteng di Ancol. Tidak seperti kelenteng-kelenteng lain yang didirikan di tengah permukiman orang Cina, kelenteng ini didirikan di tempat terpencil yang nyaris tidak berpenghuni (sekarang dikenal sebagai Jalan Pantai Sanur 5, Ancol).

Kelenteng ini cukup unik, karena tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang Cina, tetapi juga orang-orang pribumi yang menganut agama Islam. Tradisi ini telah berjalan lama. Seorang penulis asing bernama Teisseire pada abad ke-18 telah melaporkan, di masa itu orang Cina dan muslim sama-sama datang untuk berdoa di tempat ini. Sementara orang Cina melaksanakan sembahyangnya, orang-orang Islam tanpa terganggu melakukan ibadahnya, misalnya untuk membayar kaul. Bahkan bukan hal yang aneh, bau hio berampur dengan bau menyan.

Seperti Kelenteng Jin-de yuan, Kelenteng Ancol didirikan untuk menghormati Da-bo gong, dewa tanah dan kekayaan. Tetapi ada kepercayaan penduduk, tentang asal-usul kelenteng ini, seperti dikemukakan oleh A Heuken. Seorang juru mudi kapal Cina mendarat di tempat ini dan jatuh hati pada seorang ronggeng penganut Islam. Karena pernikahan itu menyangkut dua pribadi yang berbeda kepercayaan dan kebiasaan, mereka sepakat untuk tidak makan daging babi yang diharamkan Islam dan jengkol yang baunya tidak disukai orang Cina. Itulah sebabnya orang menabukan dua jenis makanan itu di bawa ke kelenteng tersebut.

Suatu ketika sang juru mudi itu berlayar. Sebelum pergi ia minta dibangunkan satu kuil di tempat itu. Tetapi sebelum kuil itu rampung, sang juru mudi dan istrinya yang bernama Sitiwati itu meninggal, dan kemudian keduanya dimakamkan di lokasi itu. (Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2003


%d blogger menyukai ini: