Bangunan Tua di Menteng Merana

BANGUNAN tua eks Kantor Imigrasi Jakarta Pusat itu betul-betul merana. Dinding-dindingnya berlubang di sana-sini, catnya mengelupas, dan tumbuhan liar terlihat di sekeliling gedung yang dibangun arsitek PAJ Moojen pada tahun 1913.

“Mengapa pemerintah seolah cuek dengan bangunan bersejarah ini, ya,” ujar Sisy, peserta kegiatan “Plesiran Tempo Doeloe”, sambil menggelengkan kepala. Kegiatan yang diselenggarakan Sahabat Museum, Minggu (28/9), itu memang membuat hampir seluruh peserta tercenung. Mereka mengagumi sekaligus memprihatinkan kondisi sebagian bangunan tua di kawasan Menteng yang tidak dipelihara, bahkan ada yang telah rata dengan tanah.

Gedung seluas 3.270 meter persegi di Jalan Teuku Umar itu awalnya digunakan untuk pameran dan pertunjukan seni. Tahun 1936, di sana pernah dipamerkan lukisan Pablo Picasso dan Vincent van Gogh.

Tahun 1974, gedung yang merupakan “pintu masuk” Gondangdia itu difungsikan untuk Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Setelah ditukar guling, dan Kantor Imigrasi pindah ke Kemayoran, bangunan yang pernah digunakan untuk syuting film Tusuk Jelangkung itu dimiliki swasta.

Menurut Darmawan, aktivis dari Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu), sejak saat itulah bangunan mulai dibiarkan tidak terawat. Setelah dibeli Pemprov DKI Jakarta, bangunan itu bahkan dibiarkan begitu saja. “Pernah ada penjarahan secara massive. Dulu ada tangga yang sangat bagus, tapi dicopot. Itu tidak mungkin dilakukan dalam sehari. Namun, entah mengapa pelakunya tidak tertangkap,” katanya.

Bulan Juni lalu, Walibatu bekerja sama dengan Pemprov DKI mengadakan sayembara “Gagasan Fungsi dan Pengelolaan Gedung Eks Kantor Imigrasi”. Pemenangnya pun sudah ada. Namun, hingga sekarang belum terlihat tanda- tanda renovasi.

PARA peserta kembali berjalan menyusuri beberapa ruas jalan di daerah Menteng. Pikiran melayang, membayangkan suasana tempo dulu. Kawasan permukiman terbaik di Jakarta dengan pepohonan dan taman-taman asri nan teduh.

Andi, seorang peserta, menunjukkan foto bangunan eks apotek di Jalan Cikini Raya, yang diambil tahun 1939. Ternyata bangunan itu sudah lenyap. “Rupanya bangunan itu telah dibongkar dan yang ada sekarang adalah bangunan baru yang tampak belum selesai,” katanya.

“Kabarnya, bangunan itu akan dijadikan pusat perbelanjaan atau semacam itu,” ujar seorang pemandu dari Sahabat Museum.

Bangunan eks Asrama Kristen Wanita di Jalan Menteng Raya juga terlihat tidak terpelihara. Rumput liar tumbuh subur. Padahal, tempat itu masih dipakai, antara lain untuk kegiatan misa.

Menurut Darmawan, bangunan tua di Menteng kini hanya tersisa 40 persen. “Padahal, Menteng bisa dilihat juga sebagai suatu cara hidup. Ada ruang di antara rumah satu dengan yang lain sehingga sirkulasi udara terjaga. Tahun 1970-an, Menteng dicanangkan sebagai kawasan pemugaran oleh Gubernur Ali Sadikin. Namun, banyak orang memugar bangunan dengan tidak pas, bahkan ada yang mengubah total,” katanya.

Alhasil, kawasan permukiman kini malah berubah menjadi kawasan bisnis dan pertokoan.

Saat ini sebenarnya Pemkot Jakarta Pusat sedang giat melakukan razia izin mendirikan bangunan (IMB). Bangunan yang tidak sesuai IMB harus dibongkar. Belakangan, sudah dua bangunan dibongkar paksa oleh petugas karena dianggap melanggar IMB. Akankah langkah itu terganjal oleh tawaran komersialisasi? (IVV)

Harian kompas, Senin, 29 September 2003


%d blogger menyukai ini: