Betawi Seabad Silam – Stadhuis Disambar Petir – 19 September 1903

Menurut ’Java Bode’, surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Betawi, Balai Kota (Stadhuis) atau yang lebih dikenal dengan nama Gedung Bicara disambar geledek (petir). Tidak disebutkan kerusakan gedung yang dibangun abad ke-18 itu.

Peristiwa yang terjadi pekan lalu itu baru sekarang muncul di surat kabar. Agaknya gubernemen merahasiakan peristiwa ini, agar tidak jadi gunjingan penduduk. Sebenarnya ini fenomena alam biasa. Gedung bertingkat dua itu (kini ditempati Museum Sejarah Jakarta) memiliki menara belasan meter, sehingga tidak heran kalau petir menyambarnya.

Tetapi sesuai kepercayaan penduduk Betawi, peristiwa sepert ini merupakan pertanda tidak baik. Seorang tua kebetulan sedang minum kopi di seberang Gedung Bicara, saat petir menyambar. Ia menuturkan kepada ’Bintang Betawi’, kantor ini banyak dosanya. Maka sekarang Tu(h)an Allah menghukumnya. Menurut orang tua itu, kalau tidak lekas dilakukan sedekah, dikhawatirkan bahaya itu datang lagi dengan menimbulkan korban lebih besar. Sebab semakin lama, semakin banyak dosa yang terjadi di kantor itu.

Stadhuis sejak dulu dianggap lambang kekuasaan kumpeni. Sekalipun pusat pemerintahan kolonial dipindahkan ke Tanah Lapang Singa (Waterlooplein, kini Lapangan Banteng), gedung itu tetap memiliki kenangan tidak sedap. Dalam kata-kata Dr F de Haan, sejarawan Belanda penulis buku ’Oud Batavia’, “kenang-kenangan menyeramkan.”

Sejarah Stadhuis cukup panjang. Tahun 1620 Jan Pieterszoon Coen merancang balai kota yang diimpikannya, “sebuah gedung besar di tengah kota.” Tetapi baru tahun 1626 batu pertama dipasang. Tahun 1634 bangunan itu dipindahkan ke dekat gereja di lapangan selatan kastil. Tahun 1707 dibangun gedung baru yang megah untuk mengganti lama. Di gedung itu berkantor dua lembaga pengadilan kolonial: Raad der Schepenen dan Raad van Justitie. Juga lembaga lain seperti Weeskamer (Balai Harta) dan College van Huwelijkszaken (Dewan Urusan Perkawinan).

Resminya gedung itu diberi nama Stadhuis (Balai Kota), tetapi di kalangan penduduk Betawi dikenal sebagai “Gedung Bicara”. Soalnya di dalam gedung itu selalu berlangsung pembicaraan penting mengenai kota Betawi dan penduduknya.

Tetapi yang membuat seram bangunan itu, di ruangan bawah tanah dibangun penjara. Dan penjara itu selalu penuh. Tahun 1736, misalnya, penghuni ruangan gelap di bawah tanah itu berjumlah 437 orang. Ada yang karena tindak pidana kriminal, ada juga yang tidak membayar utang. Bahkan budak-budak yang tidak bisa diatur sering dititipkan di situ.

Dalam ruangan dengan ventilasi terbatas itu, mereka hanya diberi makan nasi dengan air dingin. Mereka tidak bisa bebas bergerak, karena kakinya dirantai. Penyiksaan berlangsung setiap saat. Itulah agaknya dosa yang dilakukan di dalam gedung itu. (Adit SH, sejarawan dan pemerhati masalah sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, 19 September 2003


%d blogger menyukai ini: