Perubahan Menteng sebagai Kota Taman Tak Terkendali

Green Map Petakan Menteng
JAKARTA – Pembangunan di sekitar kawasan Menteng dianggap tidak memperhatikan fungsi kawasan itu sebagai kota taman dan tidak mengindahkan peraturan untuk tidak memugar kawasan itu. Hal itu terungkap saat pertemuan warga dengan Green Map, kelompok yang beranggotakan sukarelawan untuk memetakan sejarah Menteng, Minggu (20/7). “Sekarang banyak rumah lama yang dipugar. Bahkan, pagar yang seharusnya tidak boleh menutupi rumah, saat ini dibangun lebih tinggi dari bangunan rumah,” kata Yuniarti, warga Jalan Cirebon.

Kawasan Menteng memang dianggap sudah menyimpang dari kondisi awal. Selain rumah yang sudah banyak berubah dari bentuk aslinya, juga bangunan bersejarah sudah banyak yang beralih fungsi sebagai gedung sekolah dan universitas, atau pun gedung lain.

Padahal, kawasan Menteng merupakan kota taman pertama di Indonesia yang teratur, memiliki konsep dan karakter yang jelas, sekaligus tempat di mana warga merasakan hidup berkota secara baik. Menteng juga ditetapkan sebagai kawasan pemugaran sesuai surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No DIV-6098/ d/33/1975. “Saya khawatir dengan pembangunan Menteng yang dilakukan dengan seenaknya. Asalkan ada uang, bangunan bisa berdiri walau tidak memperhatikan keindahan dan bentuk asli bangunan Menteng,” kata Sitor Situmorang, budayawan yang tinggal di Jalan Besuki.

Beberapa warga yang datang ke pertemuan itu, umumnya lahir dan besar di kawasan Menteng. Mereka mengakui banyak yang “hilang” dari lingkungan Menteng.

Kondisi itu juga mendorong kelompok sukarelawan Green Map berencana membuat peta hijau untuk wilayah Menteng. Sekaligus pemberian pralambang (icon) di tempat-tempat tertentu di Menteng.

Penelurusan bangunan bersejarah, rumah tua, taman, dan pepohonan yang unik dilakukan oleh para sukarelawan ini dalam bentuk kelompok-kelompok. Selain berbekal buku sejarah Menteng, mereka juga mendatangi beberapa tokoh yang masih ada di Menteng dan penelusuran dari buku telepon. “Dari penelusuran kami, ditemukan banyak bangunan bersejarah. Seperti di Jalan Moh Yami, ada rumah Drs Poernomo yang merupakan menantu ibu Sud. Ternyata, di rumah itu, ibu Sud sempat membuat seni batik,” kata Ati Kamil, relawan Green Map.

Ratusan Tahun
Menurut warga, pepohonan di sana juga berusia ratusan tahun. Seperti di Jalan Cik Ditiro, terdapat jejeran pohon asam yang usianya ditaksir sudah ratusan tahun. Selain itu, pohon tua lainnya seperti pohon kenari, petai cina, pohon menteng, pakis-pakisan, masih banyak terdapat di kawasan itu.

Banyaknya pepohonan di sana mengundang burung-burung dari berbagai jenis mendatangi kawasan tersebut. “Dengan tiba-tiba, di rumah kami tumbuh pohon belimbing yang rasanya manis. Padahal kami tidak menanamnya. Kami duga, penyebaran itu dari burung-burung yang kerap datang ke rumah kami,” kata Siti Utamini.

Rumah Siti Utamini yang terletak di kawasan Jalan Lembang berdiri sejak tahun 1935. Bangunan itu sama sekali tidak diubah dari bentuk aslinya, termasuk isi di dalam banguan itu. Penghuni lama, yang tinggal di Belanda, pernah mendatangi rumah itu dua kali. “Dia sampai terkenang masa kecilnya. Karena isi bangunan masih utuh seperti dulu,” kata Siti Utamini.

Beberapa warga tidak menyadari bahwa bangunan di kawasan Menteng yang tergolong bangunan A, tidak boleh diubah dari bentuk aslinya. Kenyataannya sekarang, banyak pemilik lama yang menjual bangunan rumahnya dan pemilik baru mengubah bangunan itu tanpa memperhatikan peraturan.

Hingga bukan pemandangan asing lagi, bila melewati kawasan Menteng, pagar-pagar yang berdiri di depan rumah di sana menutupi bangunan itu hingga tidak terlihat bentuk bangunan.

Tempat Rekreasi
Selain itu, taman di kawasan Menteng juga tidak diperhatikan keindahannya oleh pemerintah. Sebut saja taman Situ Lembang. Siti Utamini, selaku warga Jalan Lembang mengaku tidak keberatan dengan dijadikannya Situ Lembang sebagai tempat rekreasi.

Tetapi, pemerintah seharusnya memperhatikan perparkiran untuk kendaraan di sana. Motor dan mobil memang terlihat semrawut di taman Situ Lembang itu. Belum lagi kebisingan yang diciptakan oleh kendaraan itu.

Bukan hanya Situ Lembang yang tidak diperhatikan kondisinya oleh pemerintah. Tetapi, juga taman lain seperti taman Suropati. Warga sangat menyesalkan beberapa patung didirikan di sana, tanpa memperhatikan arsitektur taman.

Hingga terlihat patung itu asal ditempatkan saja di sana. Belum lagi sangkar burung merpati yang didirikan di sana justru membuat taman itu menjadi tidak indah.

Bukan hanya itu, prostitusi yang bebas diadakan di Jalan Latuharhari, membuat warga gerah dan sudah berulang kali memprotes ke Pemda. Warga pun mensinyalir adanya oknum kepolisian yang nakal dan membiarkan prostitusi itu tetap marak di sepanjang rel Jalan Latuharhari.

Warga memang mendukung adanya pemetaan di kawasan itu. Mereka juga menambahkan perlunya pemetaan pencarian nafkah di sana. Mereka juga berharap agar tradisi memberikan hadiah bagi warga yang memelihara lingkungan di kawasan itu, dihidupkan kembali.

Rencananya Green Map akan merampungkan pembuatan peta hijau itu pada bulan September. Di sana, selain peta juga akan dibuatkan sejarah Menteng dan bangunan-bangunan yang berada di sana. (L-10)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2003/07/21/Jabotabe/jab01.htm


%d blogger menyukai ini: