Jangan Sampai Dijadikan Lokasi Perjudian – Menyelamatkan Toko Merah

JAKARTA-Memerangi praktik perjudian, khususnya di Jakarta dan di wilayah lain pada umumnya, memang kedengarannya merupakan mission impossible alias suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Pengamat-pengamat masalah sosial atau bahkan masyarakat awam sendiri bila ditanya perihal perjudian akan berkata, ”Itu kesalahan pemerintah yang seringkali menjadi munafik kalau bicara tentang judi dan prostitusi, padahal kalau dilokalisasi dengan benar bisa mendatangkan sumber pajak yang besar untuk negara.”

Masih segar dalam ingatan kita mengenai perdebatan di kalangan anggota Dewan maupun pemerintahan mengenai upaya untuk melegalkan dan melokalisasi praktik perjudian di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu sampai pada akhirnya rencana itu sendiri ”tutup buku” karena banyak yang menentang.

Praktik perjudian kemudian terus tumbuh dengan beragam bentuk dan jenisnya sampai di pelosok-pelosok Jakarta. Lebih parahnya lagi, sekelompok orang yang mempunyai modal besar kemudian berusaha menggunakan bangunan tua yang notabene merupakan gedung cagar budaya sebagai sarang untuk membangun kerajaan judinya.

Fakta inilah yang ditemukan SH ketika melihat Toko Merah yang merupakan satu-satunya bekas rumah tinggal elite di zaman kejayaan VOC, yang paling utuh dan terawat sampai saat ini. Dari pengamatan SH, gedung yang terletak di Jalan Kalibesar Barat No. 11, Jakarta Barat, dalam proses pembangunan dan pengalihfungsian menjadi lokasi judi. Hal ini terlihat dari meja-meja judi yang sudah tersusun di lantai dasar. Selain itu pekerja-pekerja juga terlihat sibuk membuat meja-meja judi yang baru.

Seperti yang diketahui, Toko Merah merupakan gedung cagar budaya yang masuk klasifikasi A. Artinya tidak dapat diubah sedikit pun baik di bagian dalam maupun luar bangunannya.
Buntut dari fenomena ini kemudian muncul kritik dari kalangan pemerhati gedung-gedung kuno maupun dari kalangan Pemda DKI untuk mengimbau agar usaha untuk membangun lokasi perjudian di Toko Merah segera dihentikan.

”Kita akan mengecek kebenaran informasi tersebut. Jikalau benar kita akan lakukan tindakan untuk menghentikannya,” ujar Gubernur Sutiyoso seperti yang dilansir harian ini beberapa hari sebelumnya.

Kritikan yang sama juga disampaikan Pater A. Heuken SJ, pemerhati sekaligus penulis buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta. Ia mengatakan memang dalam kenyataannya satu per satu gedung bersejarah di kota Jakarta sudah beralih fungsi menjadi tempat hiburan termasuk perjudian. Kenyataan ini, menurut Romo Heuken, akan sangat memperihatinkan dan sebaiknya pemerintah segera melakukan tindakan yang lebih proaktif untuk menyelamatkan gedung-gedung tua bersejarah.

Dijadikan Museum
Perihal usaha Toko Merah yang akan dijadikan sebagai lokasi perjudian, Thomas Ataladjar, salah satu staf PT Dharma Niaga yang bertanggung jawab untuk mengelola gedung ini mengatakan bahwa Toko Merah sebagai salah satu aset Badan Usaha Milik Nagara sebenarnya diusulkan untuk dipertimbangkan menjadi sebuah Museum Pelayaran dan Perdagangan. Karena dalam sejarahnya, pemakaian gedung Toko Merah sering digunakan menjadi gedung perkantoran untuk usaha industri, perdagangan ekspor maupun impor.

”Itulah target kita ke depan untuk Toko Merah. Makanya saya terkejut sekali dan baru tahu dari Saudara kalau bangunan itu mau dijadikan tempat judi. Toko Merah merupakan bukti bangunan bersejarah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan. Mengenai Toko Merah sudah saya sampaikan ke Ratu Beatrix. Kalau seandainya dia mau melihat Toko Merah apa jadinya,” ujar Thomas Ataladjar, kepada SH.

Toko Merah merupakan salah satu dari 216 monumen cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta yang dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC, sebagai rumah tinggal yang kembar sifatnya. Selanjutnya, Toko Merah kemudian seringkali digunakan menjadi tempat penginapan bahkan perkantoran hingga saat ini.
Asal-usul sebutan Toko Merah sendiri memiliki kisah panjang. Namun, nama resmi yang diberikan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta bagi bangunan tua ini adalah Toko Merah.
Sebelumnya, gedung tersebut pernah bernama Hoofd Kantoor Jacobson van den Berg. Dinamakan demikian karena digunakan sebagai gedung kantor pusat dari NV. Jacobson van den Berg, salah satu perusahaan the big five milik Belanda yang pernah jaya di zamannya.
Namun ternyata, nama Toko Merah telah jauh lebih populer. Hampir semua kepustakaan Belanda yang menulis mengenai Batavia Lama dan menyinggung mengenai tata bangunan era VOC menggunakan sebutan Toko Merah dan bukan Red Shop dalam bahasa Inggris atau Rode Winkel dalam bahasa Belandanya.

Awal penggunaan nama Toko Merah bagi gedung tua ini bermula pada salah satu fungsi yang diembannya sebagai sebuah toko milik seorang warga Cina. Tepatnya pada tahun 1851, seorang warga Cina, Oey Liauw Kong menjadi pemilik bangunan ini dan menjadikannya sebagai rumah toko (ruko).

Hal ini memberi pengaruh arsitektur Cina yang kental. Tembok depan bangunan yang terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester kemudian dicat dengan warna merah hati ayam.
Karena warnanya itulah, bangunan tua tersebut lebih populer dengan sebutan Toko Merah. Toko Merah, menurut Dinas Tata Bangunan dan Pemugaran DKI Jakarta, kualitas arsitekturnya bisa dikatakan yang terbaik di antara bangunan-bangunan bersejarah di DKI Jakarta.

Melindungi Toko Merah
Begitu berharganya nilai sejarah bangunan ini, maka pemeritahan terdahulu berusaha mengeluarkan peratuan-peraturan untuk melindungi dan melestarikan Toko Merah dan gedung-gedung bersejarah lainnya secara umum di wilayah DKI Jakarta.

Sebagai contoh, sejak pemerintahan kolonial Belanda, bangunan tua dan bersejarah telah diupayakan untuk dilindungi dan dijaga kelestariannya terutama nilai-nilai sejarahnya, seni dan budayanya dengan dikeluarkannya Monumenten Ordonantie tahun 1931 (Staatsblad No. 238/1931) dan telah diubah dengan Monumenten Ordonantie No. 21 thaun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 No. 515).

Upaya yang sama juga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta pada masa itu Ali sadikin yang sangat concern dengan bangunan-bangunan kuno di DKI Jakarta. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No.cb.11/1/12/72, tanggal 10 Januari 1972 yang intinya menetapkan tentang pemugaran dan pelestarian bangunan-bangunan kuno yang bersejarah.

Akan tetapi, dalam perjalanan sejarahnya, usaha pemerintah pada masa terdahulu ternyata hanya berlaku pada masa itu saja. Kenyataannya satu per satu bangunan bersejarah mulai hilang ditelan pembangunan kota.

Tak satu pun yang dapat menunjukkan di mana keberadaan bangunan Kastil Batavia, Hotel Des Indes, Societat Harmonie. Semua bangunan tua yang disebutkan itu sudah hilang tanpa bekas, rata dengan tanah.

Akankah Toko Merah dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya akan bernasib sama? Hanya pemerintah dan kesadaran masyarakat akan nilai sejarah yang mampu menjawabnya. (SH/rafael sebayang)

Sumber: Sinar Harapan, 21 Juli 2003


%d blogger menyukai ini: