Yang Masih Tersisa dari Bangunan Stasiun Semut

DENGAN perasaan sangat prihatin dan hanya bisa mengelus dada menyikapi ketamakan manusia yang sudah tidak peduli lagi dengan sejarah masa lalu. Di negara mana pun tempat-tempat bersejarah selalu dipelihara dengan baik, museum menjadi tempat yang ramai dikunjungi.

SANGAT mengherankan apabila kemudian melihat cagar budaya yang usianya lebih dari 100 tahun “digerilya” untuk dijadikan tempat bisnis. Stasiun Semut pasti dikenal setiap orang yang pernah tinggal di Surabaya, sekalipun PT KAI sekarang tidak mampu lagi menghidupkan sebagai tempat bisnis kereta api.

Bahkan kesan kuno dan kusam sangat tampak pada wajah depan dari stasiun yang juga dikenal sebagai Stasiun Surabaya Kota. Berita penjarahan bagian dalam stasiun kuno ini memperlihatkan, betapa tidak pedulinya bangsa ini dengan peninggalan berharga.

Pembongkaran untuk dijadikan ruko adalah alasan yang sangat sederhana, sekadar memenuhi keinginan mendapatkan uang secara cepat. Sekalipun tidak terlihat dari wajah depannya, namun pembongkaran itu hanya menyisakan bongkahan sisa dinding batu yang belum dirobohkan, sejumlah pintu dan kusen berwarna abu-abu kusam di bagian depan dan belakang stasiun.

Pintu serta bingkai jendela di dalam gedung itu sudah raib, atap sejumlah ruangan juga tidak ada lagi. Demikian pula atap peron yang tinggal kerangka besinya. Bahkan gagang pintu sekalipun sudah menghilang. Hanya tertinggal satu buah gagang pintu di salah satu pintu belakang stasiun.

Stasiun Semut yang pernah menjadi salah satu pusat kesibukan di Kota Surabaya dan bagian sejarah panjang perjalanan sebuah Kota Surabaya kini seolah telanjang. Akan jauh lebih berharga kalau stasiun ini dijadikan museum “hidup” untuk memperlihatkan kekayaan masa lalu, sekaligus mempertahankan kereta-kereta lama yang cenderung dijual sebagai besi rongsokan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda cagar Budaya dan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 tidak lagi dihiraukan.

“SAYA sebenarnya sangat eman kalau stasiun ini dibongkar. Ini kan benda cagar budaya dan bangunannya juga bagus dan kuat. Seperti atap seng stasiun yang sudah diambili, saya yakin sampai dengan tiga sampai empat keturunan saya pasti masih akan bertahan,” ujar seorang pria yang bekerja sebagai staf PT Kereta Api Indonesia di tempat tersebut.

Ia mendongakkan kepala ke atas, menantang terik Matahari yang menyiram area bekas peron itu. Mungkin ia juga hanya bisa berkata dalam hati, siapa yang begitu tega melakukan semua ini?

Petugas yang telah 23 tahun bekerja di Stasiun Semut itu tampaknya hanya bisa mengeluh. Apa yang akan dia tunjukkan kepada anak cucunya sebagai bukti pengabdiannya terhadap pekerjaan yang dicintainya itu.

Pria lulusan Sekolah Teknik (sederajat SLTP) itu hanya mengetahui, rencananya pembongkaran dimulai pada 17 Maret, tetapi kemudian diundur hingga awal April. Selama dua-tiga bulan ini pembongkaran dimulai. Dimulai dari bangunan bagian belakang sehingga pekerjaan besar itu tidak terlalu terlihat.

Seng-seng diangkuti, tembok-tembok pemisah dan atap ruangan bagian dalam dihancurkan, kusen dan bingkai pintu dilepas dari dinding bangunan, atap peron pun juga diturunkan. Padahal, kalau pemerintah sekarang disuruh membangun lagi dengan kualitas yang sama rasanya kok tidak akan mampu.

Selain itu pembongkaran tersebut diikuti juga dengan penjarahan oleh sejumlah orang. Seperti dikatakan petugas PT KAI tersebut. Tanpa perlu perintah, marmer-marmer yang menghiasi separuh dinding sepanjang hampir 150 meter di bagian belakang stasiun dicungkili sehingga menampakkan plesteran semennya saja.

Kayu-kayu jati zaman Belanda yang masih sangat berharga ikut dijarah. Gagang pintu antik di pintu-pintu bagian belakang pintu itu juga tak luput jadi korban.

Penjarahan ini juga dibenarkan oleh Dilah (30), perempuan pedagang nasi di dekat lokasi tersebut. “Barang-barang kuno seperti kayu jati dan besinya laku mahal kalau dijual, mbak,” ujar perempuan yang berjualan sejak dua bulan belakangan.

Seperti halnya petugas di stasiun tersebut, ia juga menyesalkan kalau bangunan itu terpaksa dibongkar. “Yang saya tahu, ini bangunan peninggalan Belanda. Gedungnya sebenarnya bagus, tinggal diperbaiki sedikit,” ujar perempuan yang mengaku tidak pernah mengecap bangku sekolah itu.

Padahal di tengah keruntuhannya, stasiun tersebut masih menjalankan sebagian tugasnya. Dikatakan petugas pria di PT KAI itu, setiap hari sekitar 22 kereta datang dan dalam jumlah yang sama berangkat dari jalur rel di stasiun tersebut sebelum menjemput penumpang di stasiun lain.

Kereta api juga masih menurunkan penumpang di stasiun itu sehingga satu-dua orang pekerja pengangkut barang masih berkeliaran di sana.

“Memang kalau membeli karcis atau naik harus ke stasiun lain, meski masih banyak yang turun di sini sampai sekarang. Karena gelap, di waktu malam tak jarang ada penumpang jatuh atau dicopet,” ujar pria itu. Di atas rel-rel Stasiun Semut, aktivitas penyambungan gerbong di tempat itu masih berjalan.

BARANGKALI petugas di stasiun tersebut dan ibu pedagang nasi itu berbicara tentang saksi sejarah sebuah kota dalam bahasa mereka yang sederhana.

Apa yang dituturkan oleh Dukut Imam Widodo dalam bukunya Soerabaia Tempoe Doloe dapat memberikan gambaran betapa Stasiun Semut merupakan bagian tak terpisah dari denyut Kota Surabaya. Menjadi bagian kenangan ketika lokomotif hitam mendengus-dengus dan uap yang menyembur- nyembur dari cerobong menemani perjalanan warga kota saat itu.

Dukut menuliskan, berdasarkan Undang-Undang tertanggal 6 April 1875 Staatsblad No 141 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun jaringan jalur kereta di Jawa dengan biaya dari pemerintah dan diberi nama staats spoorweg (SS).

Pada tahun 1875 dimulailah pembangunan jalur kereta api Surabaya-Pasuruan dan Surabaya-Malang. Stasiun Surabaya Kota yang terletak di kawasan bisnis penting dijadikan pedoman bagi permulaan kedua jalur tersebut.

Spoorstation Semoet atau Stasiun Semut diresmikan oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal JW Van Lasberge tahun 1878, bertepatan dengan dibukanya jalur Surabaya-Pasuruan.

Saat itu jalur Surabaya-Pasuruan dianggap sangat penting lantaran di Umbulan terdapat sumber air yang sangat besar. Pasokan air dari Umbulan ke Surabaya itu diangkut menggunakan kereta api.

Pada masa itu Stasiun Semut merupakan salah satu dari dua stasiun yang terkenal di Kota Surabaya tempo dulu. Lainnya adalah stasiun Pasar Turi.

Stasiun ini merupakan bagian dari jalur selatan yang melayani rute Surabaya-Solo-Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta.

Ketika itu jalur Jakarta-Surabaya masih ditempuh dengan perjalanan selama tiga hari. Begitu malam tiba, kereta berhenti dan penumpang menginap di hotel-hotel untuk melanjutkan perjalanannya keesokan harinya. Entah sudah berapa orang yang datang dan pergi dari stasiun tersebut.

Sebenarnya, dituliskan Dukut, Kota Surabaya pada zaman itu dapat disebut sebagai Kota Sepur lantaran memiliki empat stasiun yang besar, yakni Wonokromo, Gubeng, Pasar Turi, dan Semut yang kini semakin tidak jelas nasibnya. Ia menyayangkan Kota Surabaya tidak memiliki Museum Kereta Api. Bahkan, bangunan bersejarah Stasiun Semut kini terancam roboh.

SUGENG Gunadi, anggota Lembaga Pelestarian Arsitektur Surabaya (LePAS?) sekaligus anggota Tim Pertimbangan Pelestarian Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya, mengatakan, menghancurkan bangunan-bangunan cagar budaya tersebut berarti juga menghancurkan identitas sebuah kota.

“Bahkan, kota-kota besar di Jerman dan Roma yang moderen dalam pembangunannya tidak lantas menggilas bangunan kuno yang mereka miliki. Sehingga jika berkunjung tetap dapat menikmati puing-puing sisa peninggalan Kerajaan Romawi di sana yang hanya berupa pilar-pilar atau serakan puing-puing yang dirawat dengan baik. Demikian juga Malaysia yang merawat bangunan peninggalan masa koloni Inggris di sana dengan sangat baik,” paparnya.

Selain itu, bangunan bersejarah mengandung unsur pendidikan. Ia dapat menjadi laboratorium hidup bagi generasi selanjutnya dalam mempelajari berbagai hal, mulai dari fisik bangunan hingga nilai sejarahnya. Ujungnya, pemeliharaan terhadap bangunan tersebut akan menguntungkan dari segi pariwisata.

Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra Timoticin Kwanda menambahkan, pengalihfungsian menjadi rumah toko dapat dilakukan melalui adaptasi dengan bangunan lama.

Untuk kasus stasiun kota misalnya, dapat dilakukan adaptasi. Tampak depan atau wajah bangunan tidak diubah, namun bagian dalam dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Penambahan bangunan dapat dilakukan dengan menyesuaikan desain dengan bangunan lama. Hotel Ibis misalnya, dapat menjadi contoh yang baik di Surabaya.

Dalam upaya pembangunan yang ramah terhadap bangunan cagar budaya, dikatakan Timoticin, Surabaya masih tertinggal dibandingkan dengan Jakarta yang juga kaya akan bangunan cagar budaya.

Sebagai contoh adalah adaptasi bangunan cagar budaya galangan kapal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Jalan Kakap, Jakarta Utara, menjadi sebuah restoran mewah yang kini ramai dikunjungi.

“Kondisi Galangan VOC saat itu jauh lebih parah daripada Stasiun Semut. Tetapi dengan komitmen dari pengusahanya, itu dapat diwujudkan,” katanya. Bahkan, kini restoran tersebut mempunyai kelasnya tersendiri yang tidak mungkin disaingi oleh restoran mana pun, seperti juga sejarah yang terkandung didalamnya tidak dapat dibeli dengan uang berapa pun.

Untuk sementara, PT KAI memutuskan untuk menunda pembongkaran gudang. Namun, itu belum berarti akan menyelamatkan situs bersejarah tersebut. Butuh beban moral untuk mempertahankan bangunan yang pernah menjadi bagian dari geliat Kota Surabaya tersebut.(Indira Permanasari)

Sumber: Harian Kompas, Sabtu 07 Juni 2003


%d blogger menyukai ini: