Menjelang Kemungkinan Dibongkarnya Gedung Candra Naya

Oleh: Sonny Sutanto

BANGUNAN-bangunan yang tercatat dalam sejarah arsitektur biasanya berada dalam latar yang khas dan khusus mengacu pada suatu waktu dan situasi yang khusus pula. Biasanya bangunan tersebut juga menjadi wadah bagi hal-hal spesifik dalam sejarah.

ARSITEKTUR Cina memiliki beberapa ciri, pada umumnya disusun berdasarkan aturan-aturan yang dapat dimengerti secara rasional. Intelektualitas menjadi latar dari masyarakat tradisional Cina, di mana kota-kota didominasi birokrat terlatih, terutama dalam bidang sastra, walaupun secara umum sejarah Cina adalah sejarah negeri agraris.

Peletakan kota dan bangunan ditentukan secara persis pada sebuah lokasi yang “disayat” dari permukaan kulit Bumi, yang kemudian dipagari dengan dinding kuat dan tinggi, di mana di dalamnya tersusun sebuah masyarakat yang tegas dalam hal hierarki dan nilai-nilai sosial. Hidup di “balik” dinding adalah sebuah tradisi panjang dalam arsitektur Cina.

Secara kosmologis, tradisi arsitektur Cina melambangkan semesta-langit dalam bentuk-bentuk bulat dan dunia-Bumi dalam bentuk kubus. Susunan arsitektur berbatas dinding di Bumi biasanya ditemui dalam penataan geometris yang ketat, persegi panjang, maupun bujur sangkar, ditata berdasarkan arah mata angin.

Arah utara-selatan menjadi acuan utama, mungkin karena secara klimatologis, angin utara yang dingin menjadi kontras terhadap angin selatan. Ruang ditata berlapis-lapis dalam suatu seri pola grid yang tegas baik bentukan ruang-ruang luar (courtyards) maupun dalam susunan ruang-ruang dalam.

Pada bagian tengah, yang menjadi bagian utama, terdapat ruang luar, sebuah taman terbuka yang dilapisi penutup keras seperti marmer, granit, batu alam, dan sebagainya. Dalam ilustrasi film-film silat, taman ini selalu tampil dalam berbagai skala, biasanya sebagai tempat berlaga. Taman ini berorientasi ke utara-selatan, menjadi “pusat” dari penataan bagian-bagian lain. Besar dan proporsi bangunan di sekitarnya, ketinggian lantai dan atap, serta kehadiran elemen estetis sangat ditentukan kemungkinannya untuk dinikmati dari ruang terbuka ini.

Dengan demikian adalah suatu pelanggaran bila bangunan-bangunan di sekitarnya mengganggu “keutuhan”, menghalangi pandangan di as utama bangunan, apalagi jika sampai mengganggu sinar matahari masuk ke dalamnya. Courtyard menjadi ukuran status penghuni ditambah ornamen-ornamen arsitektur lain, baik dalam wujud inskripsi yang menunjukkan tingkat intelektualitas maupun dalam wujud simbol kosmologis yang menunjukkan status si pemilik di dalam masyarakat.

Di courtyard ini terjadi interaksi sosial dengan orang- orang dari luar dinding. Para tamu diterima untuk kemudian dijamu di ruang tengah beratap. Courtyard dan ruang tamu menjalankan fungsi sosial. Di belakang itu disusun bangunan-bangunan berfungsi privat, paviliun tidur, dapur, ruang makan, dan sebagainya.

Secara prinsip, Paola Mortari membagi tampilan paviliun-paviliun dalam tiga bagian, seperti juga ditemukan pada bangunan klasik Yunani-Romawi. Elemen pertama adalah umpak (chiech-chi), semacam teras yang diletakkan lebih tinggi dari permukaan courtyard. Umpak secara proporsional diasosiasikan sebagai “kaki”. Kemudian adalah tiang-tiang (chu) sebagai asosiasi dari “badan”. Konstruksi berbahan kayu menyebabkan munculnya batasan pada tingginya “badan” ini. Elemen ketiga adalah sistem pendukung atap yang disebut Tou Kung, sebuah sistem tumpukan batang kayu penyangga beban atap. Keunikan Tou Kung ini menjadi elemen khas arsitektur Cina, ditambah lagi dengan berbagai ornamen berupa ukiran, warna, dan sebagainya.

Pada kota-kota tua di Cina jarang ditemui bangunan-bangunan umum sebagai tempat kegiatan sosial, kecuali yang bersifat religius. Bandingkan dengan kota-kota di Roma di mana banyak ditemui tempat mandi umum, teater, atau plaza sebagai ruang demokrasi, dan lain sebagainya. Bangunan-bangunan pribadi, rumah, maupun istana menjadi wadah dan simbol dari kehidupan sosial dalam arti seluas-luasnya.

Arsitektur Cina dibangun tidak dengan bahan-bahan permanen, mungkin ada hubungannya dengan negasi terhadap segala sesuatu yang bersifat fana. Susunan geometris, ritual-ritual, dan nilai hadir lebih utama dari bangunan yang dianggap fana. Repotnya, ketika nilai-nilai tersebut kemudian telah menjadi bagian dari keseharian, kehadiran bangunan tidak dapat dengan mudah disingkirkan karena sudah menjadi kesatuan wadah-nilai yang tidak terpisahkan. Inilah masalah besar yang dihadapi Kompleks Gedung Candra Naya di kawasan Kota, Jakarta Barat.

Kompleks Candra Naya (d/h Sin Ming Hui)

Tanggal 26 Januari 1946 berdiri Perhimpunan Sinar Baru (Sin Ming Hui) yang bergerak di bidang sosial. Beberapa pendiri adalah Lie Kian Kiem, Khoe Whoen Sioe, dan Ouwyong Peng Koen (PK Oyong) yang juga pernah menjadi guru di sekolah di daerah Mangga Besar, tidak jauh dari lokasi gedung ini. Mereka didukung keluarga Khouw Kim An yang meminjamkan gedung pribadi mereka untuk kegiatan yayasan sosial.

Tahun 1962, di bawah pimpinan Phoa Thoan Hian (almarhum Padmo Soemasto) perhimpunan ini kemudian berkembang menjadi kegiatan sosial sebagai inti pelayanan mereka ke masyarakat umum, lewat berbagai aktivitas yang berorientasi amal. Ada sekolah umum, sekolah asisten apoteker, kursus fotografi, klub bridge yang telah menghasilkan atlet nasional, pelayanan kesehatan murah bagi masyarakat umum (bahkan sebelum puskesmas-puskesmas didirikan oleh pemerintah).

Ada juga kegiatan komersial yang dikelola penyewa gedung, berupa kursus setir mobil dan pengurusan macam-macam perizinan (termasuk izin-izin “tembakan”), pusat penjualan ikan hias, sasana binaraga, dan bela diri. Halaman depan gedung sering dipakai sebagai lapangan bola bagi anak-anak sekolah dan anak-anak sekitar.

Yayasan Tarumanegara dibentuk pada tahun 1959 oleh beberapa pengurus dan kemudian berkembang menjadi Universitas Tarumanegara, Jakarta, yang kita kenal hari ini. Jurusan Arsitektur Tarumanegara di bawah pimpinan Wastu Pragantha Tjhong, mantan ketua dinas pemugaran yang berkiprah di zaman Ali Sadikin, sangat peduli dengan eksistensi Candra Naya, lewat berbagai proyek penelitian, pengukuran ulang, dan usulan pengembangan dalam tugas akhir mahasiswa.

Ironisnya, hari-hari terakhir ada beberapa pihak di universitas ini yang justru tertarik dengan proyek absurd pemindahan Candra Naya ke TMII (kesepakatan kesepahaman/memorandum of understanding, 29 April 2003).

Kemelut dimulai tahun 1993 ketika Gedung Candra Naya, satu-satunya gedung bergaya arsitektur Cina terbesar di kawasan “kota” Jakarta, diminta kembali oleh cucu keluarga Khouw. Kemudian setelah paruh kedua tahun 1990-an, muncul bangunan tinggi yang “mengangkangi”, menutup langit di atas courtyard Candra Naya tepat di atas sumbu timur-barat gedung tersebut. Semua lewat proses perizinan sah, yang berkali-kali diubah lewat Kantor Pemerintah Daerah DKI Jakarta pada zaman Orde Baru, bahkan sampai mengorbankan bagian belakang paviliun yang tersisa sekarang.

Secara kosmologis, bangunan itu sudah rusak. Usaha menghancurkan gedung itu sudah berlangsung dengan membiarkannya tanpa pemeliharaan. Untuk merobohkan pun sebenarnya cukup mudah, dengan menggerogotinya secara perlahan-lahan tanpa harus menunggu kontroversi seperti sekarang ini.

Hilang pula kehidupan dan fungsi sosial yang begitu besar jasanya bagi Kota Jakarta selama 50 tahun periode kemerdekaan RI. Yang tersisa tinggal kenangan bagi Kota dan warga Kota. Namun, apakah “sisa” bangunan tersebut harus dihilangkan secara paksa karena soal kegunaan?

Bila itu argumentasinya, apa bedanya dengan argumen Hitler untuk menyingkirkan orang- orang “tidak berguna”, orang- orang tua, orang-orang tidak produktif karena kondisi difabelitas mereka?

Secara arsitektural, ada cara menyelesaikan problem relasi bangunan lama dengan bangunan tinggi yang telanjur mengangkangi tersebut. Pindahkan saja bangunan tersebut ke atas bangunan tinggi yang sedang macet pembangunannya. Dengan demikian, ia tetap berhadapan langsung dengan langit. Atau dengan pembongkaran tutup langit di atas sumbu Candra Naya. Tentu butuh pengorbanan, tetapi biarlah bangunan, wadah, yang sudah begitu berjasa kita hormati keberadaannya.

Bukankah etika Konfisius mengajarkan untuk menghormati yang lebih tua. Bongkar, Bento, tapi yang mana…?

Sonny Sutanto Arsitek, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Sumber: Kompas, Minggu, 01 Juni 2003

Iklan

%d blogger menyukai ini: