Berziarah ke Daerah Pecinan Tua Jakarta

Kalau ingin merasanan nuansa pecinan Jakarta tempo doeloe, cobalah jalan-jalan di kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat dengan mata tertutup.

Tentu saja saat berkeliling ingatan kita harus dibawa ke masa saat keemasan kawasan yang saat ini tinggal menyisakan beberapa bangunan lama bernuansa Tionghoa, dengan bantuan suara para pemandu.

Perjalanan menyusuri pecinan zaman Batavia dimulai di Museum Sejarah Jakarta yang terletak sekitar seratus meter dari Stasiun Kota. Dari halaman depan museum, rombongan yang dikoordinir Komuitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia menyusuri jalan dan melewati jembatan di Jalan Kali Besar ini dulunya kanal menuju Toko Merah.

Gedung yang dibuat dari batu bata warna merah sehingga disebut Toko Merah dan di desain bergaya Tiongkok itu didirikan pada 1730 sebagai tempat kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton Van Imhoff. Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti dan kini ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga.

Setelah mengagumi Toko Merah rombongan melanjutkan perjalanan melewati Jembatan Intan yang dulu dikenal Jembatan Jungkit. Sesuai dengan namanya, setiap kali kapal besar hendak melintas jembatan ini diangkat dulu. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.

Gedung pertama yang akan dikunjungi adalah rumah Keluarga Souw di Jalan Patekoan (sekarang Jalan Perniagaan). Rumah ini dibangun pada 1816 dan selalu menjadi rumah tinggal secara turun temurun Keluarga Souw yang dikenal sangat kaya. Menurut sejarawan Batavia Alwi Shahab, begitu kayanya keluarga Souw hingga beberapa di antara mereka diangkat sebagai Luitenant der Chineezen. Pangkat letnan dan kapitein yang kala itu hanya diberikan Kompeni bagi keluarga terkaya di suatu daerah tertentu dengan kewenangan mengatur secara administratif daerah tersebut.

Di Pecinan, pengaturan daerah secara admistratif dilakukan oleh sebuah Dewan Tionghoa (Kong Koan) yang beranggotakan kapitein dan letnan. Hanya tiga kota besar yaitu Batavia, Semarang, dan Surabaya yang memiliki Mayor Tionghoa dan mengetuai Kong Koan. “Kong Koan berwenang menyelesaikan perkara kecil di antara orang Tionghoa tapi atas nama pemerintah Hindia Belanda dan menyerahkan perkara besar kepada pemerintah,” kata Alwi

Pendapatan Kota Batavia kala itu tentu tak lepas dari keberadaan warga Tionghoa. Malah bisa dikatakan kas Kota Batavia sebagian besar diperoleh dari berbagai pajak yang dibebankan pada etnis ini. Diantaranya pajak rambut atau totang, yaitu rambut yang dikepang bagian belakang dan dicukur hingga klimis di bagian depan, seperti dalam film Mandarin yang sering kita lihat. Belum lagi pajak hiburan, judi, dan candu.

Kembali ke rumah Keluarga Souw, bangunan bersejarah itu hingga kini masih dipertahankan keaslian arsitekturnya kendati beberapa bagian sudah tak lagi ada. Dari luar pagar rumah itu terlihat angker dan kurang terawat. Pagar coklat tua yang membatasi rumah itu dari badan jalan digembok dengan kunci gembok kuno dan diperkuat rantai besar sehingga menimbulkan rasa segan untuk sekedar melongok ke dalam. Dindingnya putih kusam dan tampak jarang dicat ulang.

Keluarga Souw yang terkenal di masanya adalah kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong dikenal orang terkaya di Batavia pada masa itu dan memiliki tanah luas di Paroeng Koeda, Kedawoeng Oost (Wetan), dan Ketapang, Tangerang, Banten. Ia juga dikenang berjiwa sosial terhadap masyarakat sekitar, sehingga memerintahkan untuk mendirikan sekolah bagi anak bumiputera di tanah miliknya, menyantuni orang miskin, dan menyumbang makanan dan bahan bangunan ketika kebakaran terjadi.

Souw Siauw Tjong yang menjadi donatur pemugaran Klenteng Boen Tek Bio Tangerang pada 1875 dan Klenteng Kim Tek Ie Batavia pada 1890 juga rendah hati. Dia menolak kedudukan luitenant de chineezen yang ditawarkan Kompeni. Meski begitu, pada Mei 1877 dia dianugerahinya gelar luitenant titulair (letnan kehormatan). Sedangkan saudaranya, Souw Siauw Keng menjadi luitnenant der chineezen di Tangerang pada 1884.

Ada dua versi kenapa Jalan Perniagaan dulu dikenal sebagai jalan patekoan. Pertama, Patekoan berarti delapan buah poci. Seorang Kapiten Tionghoa bernama Gan Djie beristrikan orang yang sangat baik dari Bali. Tiap hari, sang istri ini menyediakan delapan poci berisi air teh di jalanan itu agar masyarakat yang melintas dapat meeguk air bila kehausan. Perlu diingat, di masa lalu, tak banyak ditemui pedagang makanan dan minuman di sepanjang jalan. Kenapa pula delapan poci? Angka ini bagi masyarakat Tionghoa merupakan angka keberuntungan. Versi lain yang berkembang, menurut seorang pemandu perjalanan kami, di kawasan jalan itu pernah hidup delapan pendekar Tionghoa dan mati di jalan itu setelah mengalami pertempuran hebat.

Di awal kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia, mereka tidak mengikutsertakan istri. Sehingga tak aneh jika banyak masyarakat Tionghoa saat itu mengawini perempuan pribumi seperti halnya Kapiten Gan Djie. Tak jarang pula, dari warga bermata sipit dan berambut lurus ini mengambil nyai (gundik) dari para budak. Cara ini kala itu dilegalkan di Batavia. Meski banyak yang melakukan kawin campur, tradisi dan budaya Tionghoa tetap dipertahankan. Ini bisa dilihat dari bahasa Kanton yang tetap digunakan, perilaku, kepercayaan yang diwariskan turun temurun.

Dari rumah hartawan Tionghoa itu perjalanan didiarahkan ke Sekolah Tionghoa yang kini menjadi gedung SMUN 19 Jakarta. Warga Kota menyebut bangunan ini cap-kau yang berarti sembilan belas. Gedung yang berada di Jalan Perniagaan atau Patekoan ini tidak dikatahui kapan dibangun. Yang jelas di tempat ini untuk pertama kali berdiri organisasi modern di Batavia bahkan Hindia Belanda. Namanya Organisasi Tiong Hoa Hwee Koan atau Perhimpunan Tionghoa. Organisasi yang berdiri pada 17 Maret 1900 inilah yang menjadi inspirasi pendirian organisasi modern Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Pada 1901, Perhimpunan Tionghoa mendirikan Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang disebut Tiong Hoa Hak Tong (Sekolah Tionghoa). Pendirian sekolah ini untuk merespon ketidakpedulian pemerintah Hindia Belanda terhadap pendidikan anak Tionghoa. Sekolah yang merupakan sekolah swasta modern pertama di Hindia Belanda ini uniknya tak mengenal tingkatan-tingkatan kelas, dan semua umur bisa bercampur. Para murid yang berasal dari warga Tionghoa dan pribumi kaya ini diajarkan aljabar, aritmatika, adat istiadat dan budaya Tionghoa.

Begitu banyak murid sekolah itu hingga pada 1911 Tiong Hoa Hak Tong sudah membuka cabang hampir di seluruh Indonesia. Belanda yang begitu khawatir atas tumbuhnya sekolah Tionghoa lantas mendirikan Hollandsch Chineesche School– sekolah berbahasa Belanda bagi anak Tionghoa–sebagai tandingannya.

Ketika memasuki gedung sekolah SMUN 19 kita akan menjumpai lorong gelap dan pendek. Saat melintas di lorong itu, bau dupa menyengat. Setelah melewatinya akan dijumpai kelas-kelas yang mengingatkan saya pada sel-sel di penjara. Banyak teralis besi yang menyerupai jeruji sel dan bagian atas dinding dibiarkan terbuka tapi tetap dilindungi genting untuk menahan panas dan hujan. Tepat di tengah sekolah terlihat halaman yang di sekat besi-besi tua khas bangunan masa lalu dan diberi atap seng tua coklat.

Sekolah Tionghoa yang lebih sering disebut Pa Hua agar lebih singkat ini akhirnya ditutup pemerintah Indonesia setelah meletus G 30 S PKI dan bangunannya diambil alih oleh negara.

Keluar dari gedung sekolah ini, perjalanan dilanjutkan ke Jalan Kemenangan III (atau Jalan Toasebio). Di jalan ini, ada tiga bagunan kuno cukup penting. Yaitu Klenteng Hong San Bio (Toa Sai Bio), Gereja Santa Maria de Fatima, dan Klenteng Kim Tek Ie.

Klenteng Hong San Bio juga dikenal sebagai Klenteng Duta Besar untuk menghormati dewa yang dipuja di klenteng ini yaitu Toa Sai Kong atau Paduka Duta Besar. Tidak diketahui kapan klenteng yang awalnya dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiothoa (Changtai) di Privinsi Hokkian (Fujian) ini didirikan. Namun di klenteng persembahan bagi Cheng -goan Cin-kun yang merupakan dewa khusus daerah Hokkian ini dijumpai sebuah hio-louw, altar untuk menancapkan hio atau dupa lidi berangka tahun 1751. Hio-louw di Klenteng ini berangka tahun tertua kedua setelah meja sembahyang tahun 1724 du Klenteng Kim Tek Ie.

Selain altar utama, di ruang kiri klenteng ini, terdapat tempat pemujaan yang dibagi berdasarkan permintaan. Tentu saat memasuki klenteng, kita akan menjumpai lilin-lilin merah setinggi pinggang orang dewasa yang bisa menyala tanpa henti selama sebulan lebih, harum dupa wangi dan asap yang bisa membuat mata perih. Seperti halnya klenteng lain, akan dijumpai pula patung-patung para dewa dan dewi tak terkecuali patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih yang diagungkan masyarakat Tionghoa). Rombongan kami sempat memanjatkan doa mengharapkan sesuatu. Sambil memegang kaleng berisi bilahan kayu kecil-kecil, kami berdoa dalam hati. Kaleng yang dipegang kedua tangan ini, kami goyang-goyangkan hingga keluar sebuah bilahan kayu yang bernomor. Setelah itu, kayu itu kami tancapkan di hio-louw. Lantas kami mengambil sepasang yin dan yang yang terbuat dari kayu dan membuangnya ke lantai. Bila jatuhnya pasangan yin dan yang itu ini satu telungkup dan satunya terbuka, maka doa kita diterima para dewa. Itu artinya, kita bisa mengambil pasangan bilahan kayu yang kita tancapkan itu di loker ramalan (Ciam Sie) dan bila tidak mengerti bahasa ramalan itu, bisa menanyakannya kepada petugas yang menjaga klenteng tersebut.

Saat berada di dalam klenteng ini, suasana persahabatan akan terasa. Meski berbeda keyakinan, kami tetap diterima dengan ramah bahkan ditawarkan mengajukan harapan kami di depan altar kendati dengan keyakinan yang kita anut. Berada di dalam klenteng itu, kita akan disuguhi musik gambang kromong. Ternyata, musik ini menjadi musik wajib setiap merayakan ulang tahun dewa Taois Cheng-goan Cin-kun selama dua hari. Di Klenteng ini pula, tiap perayaan Cap-go Meh, hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek, diadakan upacara kirab keliling Pecinan yang dinamakan Gotong Toapehkong. Tradisi sempat terputus sejak 1958 dan dirintis kembali setelah era reformasi.

Sekitar lima puluh meter dari Toa Sai Bio, kita akan mendapati gereja bagi warga Tionghoa. Di depan pintu gerbang, diletakkan batu peringatan agar situs itu dilindungi dan dijaga keasliannya. Gereja ini awalnya menggunakan bahasa Tionghoa karena jemaatnya memang warga keturunan Tionghoa. Namun sekarang gereja ini melayani misa dengan dua bahasa Indonesia dan Tionghoa. Gedung bersejarah itu tidak diketahui kapan didirikannya, hanya saja disebutkan bangunan ini didirikan dalam rumah besar tempat berdiamnya Luitenant der Chineezen bermarga Tjioe. Rumah ini kemudian dijual pemiliknya setelah Tiongkok jatuh ke tangan komunis pada 1949.

Keistimewaan gedung gereja itu adalah adanya inskripsi aksara Tionghoa. Hiasan Atap gereja ini menggambarkan ian boe heng (ekor walet) yang dikawal sepasang cion sai (singa batu). Pada bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya yaitu di Kabupaten Lam-oa, Karesidenan Coan-ciu (Quanzhou), Provinsi Hokkian. Inskripsi di bubungan atap adalah hok siu khong leng yang berarti rezeki, umur panjang, kesehatan, dan ketentraman. Di depan altar gereja, terdapat beberapa patung dewa Tionghoa yang menunjukkan adaptasi yang dilakukan pastur gereja dengan tradisi masyarakat setempat. Sekitar seratus meter dari gereja berdiri Klenteng Kim Tek Ie atau Wihara Dharma Bhakti. Klenteng ini disebut sebagai klenteng tertua di Jakarta karena didirikan pada 1650 di Jalan Kemenangan III, Petak Sembilan, Pancoran, Glodok oleh Luitenant der Chineezen Kwee Hoen. Ia memberi nama klenteng ini Kaon Im Teng atau Paviliun Koan Im sebagai persembahan kepada Koan Im Hut-cou (Dewi Welas Asih).

Ironisnya klenteng untuk Dewi Welas Asih ini adalah salah satu saksi bisu peristiwa pembantaian sekitar 10 ribu etnis Tionghoa 9-12 Oktober 1740 yang dikenal sebagai Tragedi Pembantaian Angke. Klenteng ini musnah terbakar dan hanya menyisakan sebuah meja sembahyang berangka tahun 1724. Pada 1755 seorang Kapitein der Chineezen Oeij Tjhie melakukan pemugaran Klenteng Koan Im dan menamainya Kim Tek Ie yang berarti Klenteng Kebajikan Mas. (Istiqomatul Hayati)

Sumber: Tempo Interaktif, Juni 2003

Iklan

%d blogger menyukai ini: