Kota Lama Semarang

Kota Lama Semarang – Pudarnya Sebuah Citra Visual Arsitektur

Oleh: Parmonangan

KETIKA dihadapkan pada sebuah kawasan kota lama, maka akan hadir di hadapan kita suatu citra visual yang menyajikan berbagai pengalaman masa lampau. Suatu masa, di mana pernah hadir sebuah kota dengan citra arsitektur yang unik, spesifik, serta mampu memberi- kan suatu identitas yang kuat, yang mampu membeda- kannya dengan kawasan lain. Demikian pula halnya de- ngan kawasan Kota Lama Semarang, sebuah kawasan dengan citra Eropa masa lampau.

KAWASAN Kota Lama Semarang dibentuk sesuai dengan konsep perancangan kota-kota di Eropa, baik secara struktur kawasan maupun citra estetis arsitekturalnya. Kota Lama Semarang yang pada awalnya lebih dike- nal sebagai Kota Benteng, seca- ra struktural, kawasan ini memiliki pola yang memusat dengan bangunan pemerintahan dan Gereja Blenduk sebagai pusatnya. Pola perancangan kota tersebut sama seperti perancangan kota- kota di Eropa. Sementara pada karakter arsitektur bangunan, kekhasan arsitektur bangunan di kawasan ini ditunjukkan melalui penampilan detail bangunan, ornamen-ornamen, serta unsur-unsur dekoratif pada elemen-elemen arsitekturalnya. Dengan keberadaan Kota Lama Semarang, citra arsitektur Eropa telah hadir dan menambah nuansa keberagaman arsitektur di Jawa Tengah dan daerah-daerah sekitarnya, dan pada gilirannya memperkaya khazanah arsitektur di neger ini.

Pudarnya sebuah citra visual arsitektur

Seiring dengan perkembangan Kota Semarang dari waktu ke waktu, telah terjadi pergeseran fungsi pada Kota Lama Semarang. Kawasan Kota Lama Semarang yang pada masa lalu merupakan pusat kota dan struktur utama kawasan, kini tidak lebih sebagai sebuah kota mati yang memprihatinkan.

Bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang dulunya memiliki fungsi vital sebagai bangunan pemerintahan dan komersial, sekarang telah banyak beralih fungsi sebagai gudang, rumah dan kantor. Penurunan (declining) tidak hanya terjadi pada fungsi bangunan semata, kondisi fisik bangunan juga mengalami kerusakan di sana-sini.

Menurunnya kualitas fisik kawasan Kota Lama menyebabkan penurunan aktivitas, terutama pada malam hari. Fungsi bangunan yang hanya hidup pada siang hari (gudang, perumahan, dan perkantoran) menyebabkan ’kematian’ kawasan pada malam hari. Selain disebabkan karena pergeseran fungsi, kematian kawasan Kota Lama Semarang juga disebabkan karena kurangnya elemen pencahayaan pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan keunikan bangunan-bangunan lama dengan unsur dekoratif pada elemen fasade, detail, orna- men, tekstur, dan warnanya akan hilang di dalam kegelapan. Kondisi visual yang tidak mendukung di malam hari menyebabkan hilangnya orientasi terhadap kawasan juga tenggelamnya karakter historis kawasan Kota Lama Semarang, yang pada gilirannya akan kehilangan identitasnya.

Meningkatkan citra visual melalui pencahayaan

Elemen cahaya memainkan peranan yang sangat penting bagi manusia karena cahaya memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang terjadi di se- kitar kita, dan sebagian besar informasi yang kita dapatkan adalah melalui indera penglihatan kita. Pada siang hari, cahaya Matahari memegang peranan pencahayaan sehingga kita mampu melihat berbagai elemen visual yang ada di sekitar kita. Namun, ketika malam hari tiba, maka hampir semua peranan itu dipegang oleh caha- ya buatan, dengan demikian kekhasan karakter visual Kota Lama Semarang di malam hari akan dapat dinikmati kembali melalui instalasi pencahayaan yang tepat.

Kurangnya elemen pencahayaan menyebabkan terciptanya kondisi visual yang tidak mampu menyediakan informasi visu- al yang dibutuhkan bagi orien- tasi, estetika, dan pergerakan pada suatu lingkungan binaan, di samping itu juga mencipta- kan kurangnya rasa aman untuk melalui kawasan tersebut. Pencahayaan memainkan peranan yang sangat penting di dalam suatu perancangan kota (urban design), pencahayaan eksterior (exterior lighting) yang baik dapat memainkan peran yang luar biasa dalam menciptakan perasaan masyarakat terhadap lingkungannya, karena memiliki suatu orientasi yang jelas terhadap lingkungannya. Suatu sistem pencahaya- an yang baik mampu meningkatkan kualitas estetika suatu bangunan maupun kawasan yang pada gilirannya akan memberikan suatu identitas yang jelas dan menciptakan rasa aman bagi orang yang melaluinya.

Melalui suatu instalasi sistem pencahayaan, karakteristik Kota Lama Semarang pada malam hari dapat ditonjolkan kembali. Elemen-elemen bangunan seperti bentuk fasade, detail-detail, ornamen-ornamen bangunan dan karakteristik bangunan lainnya dapat menjadi dominan di dalam konteksnya dengan peran serta suatu sistem pencahayaan.

Pencahayaan pada suatu kawasan kota lama tidak cukup hanya pada instalasi pencahayaan jalan semata. Elemen pencahayaan jalan yang bersifat linear hanya mampu menampilkan kondisi visual jalan terse- but, sementara bangunan bersejarah yang ada di belakangnya akan semakin tertutup oleh bayangan serta tingkat kesilauan (glare) yang tinggi.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengangkat karakter historis kawasan dan menghidupkan kawasan kota lama pada malam hari adalah dengan menciptakan kondisi visual melalui sistem pencahayaan, terutama pada bangunan-bangunan lama berarsitektur kolonial yang unik. Sistem pencahayaan pada fasa- de bangunan (facade floodlighting) tersebut diharapkan dapat menonjolkan kekhasan bangunan, baik melalui elemen fasade, detail, ornamen, tekstur, dan warna pada masing-masing bangunan sehingga menciptakan identitas kawasan pada malam hari. Pencahayaan dapat digunakan pada masing-masing bangunan secara individu, serta dapat digunakan untuk memperkuat konsep perancangan kota pada suatu kelompok bangunan di dalam kawasan dengan memperhatikan hierarkhi bangunan.

Pada bangunan, detail-detail dan elemen-elemen arsitektural yang spesifik dapat ditonjolkan dengan menggunakan lampu sorot (floodlight), baik yang me- ngarah ke atas (uplight) maupun yang mengarah ke bawah (downlight). Dengan penggunaan uplight dan downlight, maka objek-objek tersebut akan menjadi dominan dan menciptakan bayangan pada bagian lainnya. Hal ini tidak dapat kita temui pada siang hari, karena cahaya Matahari memiliki kecenderungan menghasilkan cahaya yang datar dan merata. Sementara untuk menghasilkan caha- ya yang datar dan merata pada malam hari, kita dapat menggunakan lampu dengan distribusi cahaya yang menyebar (diffuse), baik dengan lampu fluorescent maupun dengan menggunakan lampu pijar. Untuk menonjolkan suatu bangunan pada kawasan, dapat dilakukan penambahan filter warna (color filter) pada lampu sehingga mampu membuat bangunan menjadi dominan di dalam konteksnya. Di dalam suatu kawas- an, penambahan filter warna biasanya digunakan pada bangunan yang menjadi landmark pada kawasan tersebut sehingga menciptakan suatu hierarki di dalam kawasan.

Dengan konsep pencahayaan yang jelas, diharapkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang memiliki nilai arsitektural yang tinggi tersebut dapat lebih dominan pada malam hari dan dapat menunjang penampilan kawasan secara keseluruhan. Serta dapat menjadi suatu kawasan yang lebih ’hidup’ dan mampu menjadi magnet bagi perkembangan kawasan lebih lanjut.

Parmonangan Manurung ST MT alumnus pascasarjana teknik arsitektur/desain urban, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Sumber: Kompas, Minggu, 13 April 2003


%d blogger menyukai ini: