Kota Malang 89 Tahun: Masih Menikmati Tata Ruang Kuno

TATA ruang Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), pada tahun 1937 masa kolonial Belanda, pernah dikirimkan ke Paris, Perancis, untuk suatu pameran tata ruang kota-kota di dunia. Ini membuktikan Kota Malang merupakan kota pedalaman yang pernah dibanggakan pada masa itu. Dan tentu menarik. Pada masa itu kota-kota lain di Pulau Jawa, seperti Bandung juga sudah berkembang dan tak kalah menariknya.

PADA 1 April 2003 Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memperingati hari jadinya ke-89. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Suyitno, kini masyarakat Kota Malang masih bisa menikmati keindahan kotanya yang memiliki nilai dan corak tersendiri.

Menurut seorang arsitek di Kota Malang yang menempuh pendidikan terakhirnya di Universitas Teknologi Malaysia di Johor, Ir Respati Wikantiyoso MSA PhD (40), tata ruang Kota Malang dapat tumbuh bagus tidak terlepas dari perubahan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Sentralistik dijadikan desentralistik.

Kebijakan pada 89 tahun silam, persisnya 1 April 1914, pemerintahan Kota Malang yang dipimpin seorang asisten residen mulai dipisahkan dari induknya, Pemerintah Kabupaten Malang. Pada tahun 1903 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) yang disusul dua tahun kemudian, 1905, dengan surat keputusan pelaksanaan desentralisasi. Perubahan menjadikan gemeente-gemeente di berbagai wilayah kota terjadi pada saat itu, seperti Batavia (1905), Bandung (1906), Cirebon (1906), Pekalongan (1906), Tegal (1906), Semarang (1906), Magelang (1906), Kediri (1906), Blitar (1906), dan Malang (1914). Perubahan menjadikan gemeente terhadap wilayah Kota Malang agak terlambat, sebab perubahan itu dilakukan secara bertahap. Implikasi Undang-Undang Desentralisasi 1905 menjadikan wilayah Kota dan Kabupaten Malang masih di bawah wilayah Karesidenan Pasuruan (1908). Selanjutnya, wilayah Kota Malang dipandang paling pesat pertumbuhannya, sehingga dijadikan gemeente pada 1 April 1914.

Keputusan politik itulah yang berdampak pada kelanjutan perkembangan Kota Malang yang dibangun dengan baik. Sehingga pada tahun 1937 tata ruang Kota Malang pernah dipamerkan di Paris. Respati mengatakan, kelebihan dari tata ruang Kota Malang hingga pernah dipamerkan secara internasional, adalah terciptanya tata ruang kota kebun (garden city). Pengembangan Kota Malang saat itu yang sangat menonjol adalah membentuk kotak-kotak kawasan yang berada di sebelah selatan Alun-alun Merdeka yang sekarang. Kawasan tersebut dibangun cenderung untuk memacu perekonomian dan perdagangan kota. Kemudian di kawasan sebelah utara alun-alun cenderung penataan kotanya didasarkan pada konsep garden city. Kondisi sebagian besar bangunan-bangunan maupun jalan masih utuh sampai sekarang. Di sebelah selatan alun-alun itu terdapat rumah kediaman Asisten Residen yang sebelum tahun 1905 ditetapkan memegang pemerintahan Kota Malang. Sedangkan posisinya dalam pemerintahan sejajar pula dengan Bupati Malang. Di seberang Kantor Bupati Malang, atau di sebelah barat alun-alun hingga kini masih terdapat masjid dan gereja. Kemudian di sebelah utaranya terdapat Societiet Concordia, suatu bangunan untuk klub orang-orang Belanda.

Konsep garden city untuk Kota Malang pada saat pertumbuhannya sejak tahun 1914 lalu, lanjut Respati, tak bisa dilupakan dari adanya peran seorang arsitek Ir Herman Thomas Karsten.

Karsten dilahirkan pada 22 April 1884 di Amsterdam. Ia sendiri sebetulnya seorang arsitek dan konsultan perencanaan pengembangan kota yang sudah malang-melintang di berbagai kota di Hindia Belanda. Bahkan, di Kota Malang Karsten sendiri tidak pernah berperan sebagai arsitek bangunan secara penuh, melainkan hanya sebagai konsultan pengembangan Kota Malang setelah berkembang dan dijadikan gemeente sejak 1 April 1914.

Nama Karsten juga dikenal di kota-kota lainnya, seperti Bandung, Jakarta, Magelang, Bogor, Yogyakarta, Madiun, Cirebon, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan, dan Banjarmasin. Peran Karsten di antara berbagai kota tersebut selain sebagai arstitek maupun konsultan pengembangan kota, juga sebagai konsultan peraturan bangunan.

“Penyatuan lingkungan ruang terbuka dengan lingkungan buatan manusia oleh Karsten sangat menonjol dilakukan di Malang. Salah satu contoh adalah bulevar Ijen yang sampai sekarang masih dapat dinikmati,” kata Respati.

Penyatuan lingkungan ruang terbuka di bulevar Ijen tampak melalui penataan bangunan- bangunan rumah yang masih menyediakan ruang luar. Jalan raya yang ada di depan kompleks bangunan perumahan pun dipertimbangkan pula dengan pembuatan taman-taman di pinggir jalan raya.

“Jadi, perencanaan pengembangan kota di Kota Malang itu menonjolkan aspek sosial. Bukan semata-mata pada aspek ekonomi seperti yang menjadi kecenderungan sekarang,” kata Respati.

Penyatuan lingkungan ruang terbuka dengan lingkungan itu kemudian menjadi tren. Itulah yang dijadikan andalan Karsten untuk menyertakan tata ruang Kota Malang dalam pameran internasional tahun 1937.

Penduduk Kota Malang pada tahun 2002 diperkirakan mencapai 830.000 jiwa yang menempati luas kawasan sekitar 110,056 kilometer persegi. Dari kawasan itu kini diperhitungkan mencapai 59 persen sebagai kawasan terbangun.

Adapun faktor geografis yang diperhitungkan Karsten sebagai panorama pengembangan lingkungan Kota Malang, selain Gunung Kawi di sebelah barat, juga di sebelah timur yang terdapat Gunung Semeru, dan Gunung Arjuna di sebelah barat daya.

Jejak-jejak kesejarahan Kota Malang sebagai kota pedalaman yang dapat tumbuh pesat pada masa pemerintah kolonial Belanda, sebetulnya tidak terlepas dari masa kerajaan kuno.

Khususnya Kerajaan Singasari semasa Raja Kertanegara (1268-1292), raja terakhir Singasari, yang diperkirakan berhasil membuka poros utara-selatan dengan baik. Poros tersebut menghubungkan wilayah Malang dengan laut di utara Pulau Jawa. Salah satu bukti konkret dari adanya pengiriman prajurit Kerajaan Singasari ke Melayu pada tahun 1275 yang kemudian disebut dengan istilah Ekspedisi Pamalayu, melalui perjalanan laut. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, poros utara-selatan inilah yang kemudian memperlancar ekspansinya. Peradaban itu dimulai dari masa prasejarah, masa klasik Hindu-Buddha, masa penyebaran Islam, dan masa kolonial Belanda yang masih meninggalkan berbagai peninggalan. (NAWA TUNGGAL)

Sumber: Harian Kompas, 31 Maret 2003.

Iklan

%d blogger menyukai ini: