Kampung Bandan, Kampung Budak

TAK ada yang istimewa dari Kampung Bandan di Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Penduduknya padat dan lingkungannya kumuh. Saluran air, got, dan kalikali kecil selalu tergenang air berwarna hitam pekat dan menebarkan aroma tak sedap. Sudah begitu, banyak anak-anak yang seenaknya buang air kecil dan besar.
Kampung Bandan dalam sejarahnya merupakan lokasi penampungan budak-budak dari Banda di Maluku pada zaman Hindia Belanda. Tahun 1621, Gubernur Jenderal J P Coen menaklukkan Pulau Banda. Di pulau tersebut J P Coen melakukan pembunuhan dan pembantaian yang luar biasa kejamnya.

Rakyat Banda yang selamat ditawan dan diangkut ke Batavia (Jakarta). Di pusat pemerintahan Hindia Belanda itu, orang-orang Banda dikurung di sebuah penjara. Karena tidak muat, banyak dari mereka dimukimkan di sekitar penjara dengan pengawasan ketat.

“Sampai tahun 1633, budakbudak itu masih dirantai,” kata Isa Ansyori, Kepala Seksi Koleksi Museum Sejarah Jakarta. Setiap bulan, Museum Sejarah Jakarta memang menggelar acara jalan-jalan yang diberi tajuk “Program Wisata Kampung Sejarah”. Akhir Januari lalu, Kampung Bandan mendapat giliran dikunjungi.
Menurut Ansyori, pada tahun 1682 budak-budak di Kampung Bandan pernah memberontak melawan VOC di Marunda. Namun, apalah artinya pemberontakan mereka melawan VOC yang saat itu sudah mempunyai persenjataan lengkap. Konsekuensi dari pemberontakan yang gagal itu, sebagian budak Kampung Bandan dikirim ke Srilangka yang juga menjadi daerah kekuasaan Belanda.

Ketika era perbudakan berakhir, para eks budak dari Bangka itu tetap tinggal di Kampung Bandan. Rumah- rumah mereka berbentuk gubuk yang terbuat dari bambu, tikar, dan jerami. Untuk hidup sehari-hari, mereka bekerja sebagai nelayan, petani, dan ada juga yang menjadi serdadu VOC.

WAKTU itu, Pelabuhan Pasar Ikan merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai. Di sanalah budak-budak dari Kampung Bandan dipekerjakan.

Seiring dengan perkembangan perdagangan di Batavia, pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok. Untuk menghubungkan kedua pelabuhan yang berjarak sekitar delapan kilometer itu, Belanda membangun rel kereta api, lengkap dengan stasiunnya.

“Kampung Bandan menjadi stasiun kereta barang yang pertama di Jakarta,” kata Ansyori. Sampai sekarang Stasiun Kampung Bandan masih berfungsi sebagai stasiun kereta barang yang melayani jurusan Jakarta-Surabaya. Dari stasiun itu, setiap hari sedikitnya 50 gerbong diberangkatkan ke Surabaya.

Sekarang, tidak banyak peninggalan sejarah tua Kampung Bandan yang tersisa, selain cerita perbudakan, stasiun kereta api, dan beberapa gudang tua yang tidak terawat. Yang lain, Masjid Kampung Bandan yang didirikan akhir abad XVIII.

Kini, pihak Museum Sejarah Jakarta berusaha menggali kembali cerita-cerita lama tentang Kampung Bandan. Lewat program Wisata Kampung Tua, setidaknya masyarakat diajak kembali menengok sejarah masa lalu yang penuh warna. Dari program itu, setidaknya warga Jakarta mengenali sejarah bangsanya. Bukan saja gegap gempitanya perjuangan para pahlawan melawan penjajah, tetapi juga sejarah penderitaan masyarakat kecil yang menjadi korban rezim imperialis. (LUSIANA INDRIASARI)

Sumber: Kompas, Senin, 17 Februari 2003


%d blogger menyukai ini: