Masyarakat Indis

Oleh Tanti Johana

Kehadiran orang-orang Belanda di Nusantara sudah berlangsung sebelum berdirinya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie, serikat dagang Indis Timur) di Banten tahun 1602. Mereka berdagang serta mempertahankan hubungan dagang dengan penguasa-penguasa daerah, karena selain VOC, terdapat pula serikat dagang bangsa-bangsa lain yang mencoba membina hubungan dagang dengan para penguasa Nusantara. Tahun 1780 meletus perang antara Belanda dengan Inggris. Mereka mengirimkan pasukan tambahan ke tanah Jawa. Tiga tahun setelah perang terjadi, VOC jatuh bangkrut. Sebelum VOC membubarkan diri, mereka meminta bantuan keuangan dari kerajaan Belanda untuk menutup hutang-hutangnya, sambil menyerahkan wilayah Indonesia ke bawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Eropanisasi

Pada umumnya orang-orang Belanda datang ke Nusantara / Hindia Belanda sebagai pedagang atau tentara, mereka yang mempunyai jabatan tinggi di kota mempunyai beberapa pembantu, seperti koki untuk memasak, jongos sebagai pelayan rumah, jagar sebagai penjaga malam, kebon sebagai tukang kebun dan kusir. Orang-orang pribumi inilah yang membuat hidup para totok menjadi lebih enak dan nyaman.

Kehidupan bersama (samenleving) antara wanita pribumi dengan pria Eropa sudah berlangsung sejak lama. Hal ini disebabkan karena pria-pria VOC dilarang membawa istrinya ikut serta ke Nusantara. Dari mereka lahir anak-anak yang disebut Indo / Indo-Eropa. Lebih dari separuh orang-orang Belanda itu hidup bersama dengan wanita pribumi ( nyai ). Dilihat secara sosial kelompok Indis ini merupakan kelompok menengah, yaitu terletak di antara strata Pribumi dan Eropa. Lingkungan di mana mereka tinggal sangat mempengaruhi gaya hidup mereka, maka tak heran jika mereka berkepribadian pribumi dan bukan indo. Hingga tiba pada suatu keadaan Hindia Belanda berada di bawah otonomi pemerintah Inggris (1811-1816), mereka tidak suka melihat keadaan ini, maka dibuat peraturan gaya hidup yang mengharuskan para wanita dan pria Indo memakai pakaian Eropa, wanita Indo tidak boleh lagi memakai kebaya dan jarik dan pria Indo harus memakai kemeja, bersepatu dan menganut monogami. Semakin mirip tingkah laku mereka menyerupai orang Eropa, semakin tinggi pula derajat mereka. Mendekati abad XX, banyak wanita Eropa datang ke Hindia Belanda, kedatangan mereka ini membawa pengaruh besar bagi kelompok tersebut.

Pendudukan oleh Jepang

Pada tahun 1942 Jepang menguasai Hindia Belanda, karena luasnya wilayah yang telah dikuasai, mereka memerlukan tentara tambahan yang kemudian direkrut dari orang-orang Indonesia tak terkecuali orang-orang Eropa totok dan Indo. Ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, terjadi chaos, muncul keadaan yang disebut periode bersiap (bahasa Belanda Bersiapperiode). Suatu keadaan dimana rakyat Indonesia berjuang melawan Belanda yang ingin menguasai Indonesia lagi. Pada saat itu tidak sedikit orang Eropa dan Indo yang memutuskan untuk kembali ke negara asalnya ( repatriasi ).

Diaspora Indis

Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Mayoritas orang-orang Belanda yang masih di Indonesia memilih untuk kembali ke Belanda, sebagian lagi menyebar ke Papua New Guinea, Amerika Serikat dan Kanada.

Generasi Indis

Generasi Indis pertama adalah orang-orang Indo yang lahir pada jaman Hindia Belanda termasuk mereka yang ikut mengalami penjajahan Jepang serta ikut berperang melawan sekutu. Generasi kedua lahir pada saat Perang Dunia II, sebagian lahir di Hindia Belanda, sebagian lagi di Belanda. Biasanya salah satu dari orang tua mereka pernah tinggal di Hindia Belanda dan ikut perang. Orang-orang dari generasi ini masih merasa ada keterikatan dengan Hindia Belanda / Indonesia, mereka meluangkan waktu pergi ke Indonesia, membaca literatur Indis dan meneliti sejarah Hindia Belanda. Tetapi sebagian dari generasi ini sudah acuh tak acuh dengan latar belakang mereka. Generasi ketiga adalah generasi yang mengetahui bahwa mereka keturunan Indis hanya dari cerita saja, sebagai akibatnya karakter Indis hanya mereka peroleh dari proses penceritaan sejarah keluarga dan etnisitas. Jika generasi pertama dan kedua sangat sadar bahwa mereka orang Indis tetapi tidak begitu dengan generasi ketiga. Penampilan generasi ketiga ini sudah seperti orang Belanda, tetapi mereka masih sedikit memiliki rasa sebagai orang timur.

Totok

Identitas Indis tidak hanya dimiliki oleh orang orang Indo saja, tetapi juga oleh orang Eropa totok yang tumbuh di lingkungan Hindia Belanda, kemudian kembali ke Belanda. Mereka yang pernah tinggal lama di Hindia Belanda mempunyai karakter Indis.

Di Belanda ada masyarakat Indis, mereka sering mengadakan pertemuan-pertemuan dan aktivitas lain untuk melestarikan budayanya. Misalnya Pasar Malam Besar Tong Tong (http://www.pasarmalambesar.nl/) yang diadakan setiap setahun sekali di Den Haag, majalah Moesson (http://www.moesson.com/) yang terbit setiap tiga kali dalam setahun, pameran-pameran dan lain sebagainya. Bahkan di Den Haag ada lembaga penelitian Indis / Indisch Wetenschappelijk Instituut (http://come.to/iwi) yang melestarikan, menginventarisasi dan mengadakan pameran budaya Indis, sehingga budaya Indis ini tidak cepat punah karena orang-orang dari generasi pertama sudah banyak yang meninggal.

Daftar istilah
‘Nusantara’ = wilayah di antara samudra Hindia dan samudra Pasifik.
‘Hindia Belanda’ = adalah negara Indonesia sebelum merdeka 1800-1945.
‘Indonesia’ = terdiri dari kata Indos dan Nesos, yang berarti kepulauan India, nama yang diberikan oleh ahli Geografi Jerman pada tahun 1884.
‘Kebon’ = pak bon (bapak tukang kebun)
‘Totok’ = orang Eropa asli (tidak ada darah campuran dari timur), atau orang Eropa yang lahir atau pernah hidup di Hindia Belanda.
‘Jarik’ (dari bahasa Jawa) = kain yang dipakai dengan cara dililitkan, untuk wanita.
‘Nyai’ = wanita pribumi yang beristri orang Eropa totok, tanpa ikatan pernikahan.

Leuven, 5 januari 2003


%d blogger menyukai ini: