LINDETEVES

Pasar Hayam Wuruk Indah (HWI) dahulu bernama Lindeteves. Lokasi ini termasuk yang dilewati peserta acara Wisata Kampong Toea, Museum Sejarah Jakarta.

Tak kenal maka tak sayang. Itu sih kata pepatah lama, tapi ada benarnya juga deh. Selama ini kamu yang tinggal di Jakarta pasti cuma tahu sedikit wajah tempo dulu kota yang supersibuk ini. Atau malah nggak tahu sama sekali. Gimana mau sayang sama Ibukota ini kalau sejarahnya saja kita nggak tahu. Padahal, ada banyak hal yang menarik buat dipelajari dari menelusuri kisah-kisah lama itu. Pastinya sih, kapasitas memori dan pengetahuan sejarah kita bakal ter-upgrade.

Buat nambah pengetahuan kita tentang sejarah Jakarta, Museum Sejarah Jakarta ngadain acara yang namanya “Wisata Kampong Toea”. Acara seru ini digelar pada hari minggu ketiga tiap bulannya. Sudah empat kali bergulir. Tujuan wisatanya juga selalu berpindah-pindah.

Menurut Pak Rafael Nadapdap SE dari Museum Sejarah Jakarta, ide awal acara ini muncul dari pihak museum sendiri. Mereka pengen nunjukin kepada masyarakat bahwa ada banyak tempat yang bernilai sejarah di tengah kehidupan Ibukota. Ironisnya, itu tadi, nggak semua masyarakat sadar dan kenal dengan bangunan-bangunan itu. Sayang kan.

“Benda-benda bersejarah di Jakarta ini kan banyak. Dan nggak mungkin semuanya bisa dipindah ke museum. Apalagi yang bentuknya berupa bangunan entah itu gedung, masjid, gereja atau rumah tinggal. Jadi, mana bisa dimasukkan ke museum. Nah, biar lebih gampang kenapa nggak pengunjungnya saja kita ajak main ke tempat-tempat tadi,” papar Kepala Seksi Edukasi Museum Sejarah Jakarta ini panjang lebar.

Pertama kali diadakan, lokasi wisata yang dipilih adalah Jalan Pecah Kulit, di daerah Pangeran Jayakarta dan Gereja Sion. Kalau kata Pak Isa Ansyari SS, nama jalan ini diambil dari peristiwa penyiksaan seorang Jerman yang bernama Pieter Elbervelt. Dia ini dianggap berkhianat pada pemerintah kolonial Belanda. Ih, siksaannya sadis banget deh. Si Pieter ini ditarik kuda dari empat arah berlawanan sampai kulitnya pecah. “Kepalanya Pieter ini dipenggal terus ditancap di tiang,” cerita Pak Isa.

Terus Tambah

Sejak acara pertama dijalanin, pesertanya nambah terus. Malahan makin ke belakang didominasi sama anak-anak muda. Hebat kan. Sebab museum juga gencar promosiin acara keren ini. Caranya lewat woro-woro dari mulut ke mulut nyampe ngundang media.

“Sasaran kami memang anak-anak muda. Tujuannya agar mereka kenal dengan sejarah Kota Jakarta. Jangan sampai generasi muda ini cuek sama yang namanya sejarah itu. Lagi pula harga tiketnya juga murah, cuma sepuluh ribu,” tambah Pak Rafael setengah promosi. Dari catatan panitia, jumlah peserta wisata Kampong Toea ini pernah menembus angka seratus orang.

Pada acara yang kelima ini, kita akan diajak menyusuri bekas kanal (saluran air buatan manusia) yang namanya molenvliet. “Kanal ini dibangun pada abad 17. Yang menggalinya orang-orang Tionghoa tahun 1648,” ungkap Pak David Kwa Kian Hauw, guide acara ini yang kaya dengan sejarah Jakarta. Ide pembuatan kanal ini sendiri digagas Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, seorang pemuka masyarakat Tionghoa pada masa itu. O, iya kata Pak David, molenvliet ini asalnya dari gabungan kata molen dan vliet. Yang kalo diartiin masing-masing, penggilingan dan sungai kecil.

“Awalnya kanal ini dibuat untuk menghanyutkan kayu bagi pembuatan kapal dan bahan bangunan ke benteng Batavia. Kayu-kayu itu asalnya dari hutan-hutan di daerah selatan, yaitu sekitar Tanah Abang,” terang Pak David kepada para peserta acara dengan semangat. Namun pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, molenvliet juga dipakai untuk mengirim pasokan bagi penggilingan tebu dan pabrik mesiu yang berkembang di selatan Batavia. “Nama molenvliet mulai dipakai sejak 1661, ketika operasi kanal diambil alih Belanda dari kapitein Phoa.”

Dibagi Kelompok

Sebelum berangkat, peserta acara berkumpul di Museum Sejarah. Jam delapan lewat sedikit, mereka dapat pengarahan dari Pak Rafael. Lalu dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Masing-masing kelompok dapat satu orang tour guide. Hampir seluruh tour guide ini adalah teman-teman relawan Museum Sejarah Jakarta.

Waktu jarum jam sudah nunjukin setengah sembilan pagi, kelompok pertama mulai berjalan keluar museum. Arahnya ke stasiun kota. sebelum nyampe di stasiun itu, peserta melewati sebuah jalan yang namanya jalan Pos Kota. “Dulu jalan ini dihuni sama orang-orang kaya. Rumahnya besar-besar,” kata Pak David.

Pas nyampe di depan stasiun Kota, Pak David ngelanjutin cerita, “Kereta api ada di Batavia sejak 6 April 1875. Rutenya, Tanjung Priok – Kota dan Tanjung Priok – Gambir. Stasiun Kota sendiri dibangun pada tahun 1925. Dari pertama kali dibangun sampai sekarang, bentuk stasiun nggak ada yang berubah.”

Puas ngedengerin keterangan sejarah dari Pak David sambil ngelihat bentuk luar stasiun Kota, perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan Pintu Besar Selatan. Nama jalan ini juga ada ceritanya.

“Dulu Batavia ini dikelilingi tembok dan ada pintu gerbangnya yang namanya Pintu Baru atau nieuw port. Nah, yang kita injak ini bagian selatannya. Karena itu disebut Pintu Besar Selatan.” Dari Jalan Pintu Besar Selatan ini perjalanan diteruskan sampai Jalan Hayam Wuruk.

Kemudian berputar balik sebelum kembali ke Museum Sejarah. Selama itu Pak David dan teman-teman relawan terus ngasih peserta dengan segudang kisah tempo dulu. Karena dikemas dengan gaya yang santai, teman-teman peserta malah makin cepat tanggap dan mencernanya.

Buktinya, saat menyimak cerita yang dilontarkan Pak David itu, hati ini segera tergelitik. Ternyata ada banyak bangunan dan tempat bersejarah yang rusak karena dilindas kepentingan segelintir orang.

Contoh paling gampang, gedung Candra Naya. Nasib gedung ini begitu amat menyiksa hati. Gimana nggak, gedung yang pernah dipakai Sin Ming Hui atau Perhimpunan Sinar Baru pada tahun 1946 itu kondisinya tak terawat.

Tanah dan gedung Candra Naya sudah dibeli oleh salah satu raksasa bisnis negeri ini. Mereka berencana ngebangun dua pencakar langit yang berfungsi sebagai pusat belanja dan apartemen.

Tapi karena kepentok krismon, dua bangunan modern itu mandek di tengah jalan. Jadi kalau kamu lihat sekarang ini, Candra Naya nyelip di antara dua pencakar yang belum selesai dibangun itu. Nah, kalau sudah begini, siapa yang salah? (DIAH RAHAYUNINGSIH)

Sumber: Suara Pembaharuan, 27 Oktober 2002


%d blogger menyukai ini: