Lourdes di Kaki Gunung Wilis

Wisata alam memang mampu memberikan kepuasan batin. Tapi kadang orang merasa perlu untuk menikmati sesuatu yang memiliki nilai religi atau keagamaan. Hal itulah yang tersedia di Gereja Puh Sarang di Kediri.

Gereja Puh Sarang memiliki pesona tersendiri dibanding gereja pada umumnya. Secara fisik bangunan gereja ini bergaya Jawa dan terletak di kaki Pegunungan Wilis. Gereja ini dibangun pada tahun 1935-1937 dan sudah beberapa kali direnovansi. Kini, batang-batang kayu rangka utama atap telah diganti baja dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Gaya bangunan Jawa kuno yang unik dimiliki gereja ini merupakan karya terakhir arsitek kelahiran Jatinegara, Henri Maclaine Pont (1884-1971). Mengapa unik ? Karena tinggal satu-satunya artefak inilah yang merupakan eksperimen arsitek dalam menafsirkan atap arsitektur Jawa sebagai sebuah tenda. Selain itu, kalau dilihat dari jauh, Gereja Puh Sarang mirip perahu (bahtera Nuh). Tapi juga tampak seperti, bentuk rumah adat Minangkabau atau rumah yang biasa dipakai orang Batak Toba.

Mirip Candi
Selebihnya, keindahan Gereja Puh Sarang justru terletak dalam bagian interiornya yang unik. Altar dibuat dari batu massif yang beratnya 7 ton dan berpahat gambar rusa yang melambangkan mereka yang telah dibaptis dan calon baptis (katekumen). Begitulah gambaran umum bentuk fisik bangunan utama dari komplek Gereja Puh Sarang.

Komplek Gereja Puh Sarang ini cukup luas. Masuk gerbang utama pengunjung dapat menikmati beberapa gapura dibuat dari batu kali yang mengingatkan irama yang ada pada candi-candi Majapahit. Beberapa bagian lain, termasuk altar gereja, dibuat dari bahan bata merah. Di luar gereja, di antara tembok-tembok batu, dipasang relief-relief dari bata merah, menceritakan penderitaan Kristus dalam perjalanan menuju penyaliban.

Kemudian sambil melintasi jalan sedikit menurun terdapat bangunan Pendopo Emaus atau gedung serba guna. Bangunan ini setiap hari Minggu digunakan untuk melakukan misa dan rapat atau pertemuan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Tepat di samping Pendopo Emaus terdapat Gua Maria Kedua (karena ukurannya kecil dibandingan dengan gua Maria Lourdes). Gua Maria ini dibuat oleh Romo Emilio Rossi, CM pada tahun 1986 di mana terlihat Bernadett sedang berlutut di hadapan Bunda Maria. Menyatu dengan gua ini juga dimakamkan Romo Emilio yang meninggal pada tahun 1999.

Replika Lourdes
Sekitar 100 meter dari Pendopo Emaus terdapat Gua Maria Lourdes. Sepanjang jalan menuju gua, pengunjung akan melintasi deretan pedagang suvenir yang menawarkan berbagai produk, seperti patung, lukisan maupun berbagai pernik hiasan yang berhiaskan gambar Yesus Kristus. Berbagai cinderamata itu ditawarkan dari harga Rp 5 ribu hingga ratusan ribu. Tapi jika sekadar membawa oleh-oleh biasanya pengunjung justru membeli jerigen untuk tempat air dari sumber air di sekitar Gua Maria Lourdes yang diyakini memiliki berbagai khasiat.

Gua yang dibangun pada 11 Oktober 1998 ini merupakan replika Gua Maria Lourdes di Perancis dengan tinggi 18 meter dan lebar 17 meter. Resmi digunakan pada tanggal 2 Mei 1999 meski bangunan gua baru selesai 40 persen. Di sebelah timur gua terdapat patung Pieta di mana digambarkan Bunda Maria sedang memangku Yesus. Patung Pieta ini mengingatkan kita akan patung serupa yang terdapat di Basilika St. Petrus, Roma.

Tepat di depan Gua Maria Lourdes terdapat tanah lapang yang cukup luas untuk menampung jamaah yang melakukan berbagai kegiatan keagamaan. Uskup Surabaya saat itu. Mgr. Johanes Klosster, CM, pada 26 Desember1999 menetapkan Gereja Puh Sarang sebagai salah satu tempat ziarah resmi Keuskupan Surabaya.

Meski begitu seiring perkembangan waktu peziarah yang datang tidak hanya datang dari Keuskupan Surabaya (Jawa Timur) tapi juga dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Salah satu daya tarik bari para peziarah bukan hanya bentuk gua dan komplek gereja, tapi juga karena keberadaan 12 pancuran air yang melambangkan 12 rasul Yesus. Jika diminum, diyakini sumber air yang berasal dari dalam “perut” gua ini akan memberi kesegaran jasmani Memang belum ada penyelidikan atau penelitian resmi mengenai ini, tapi yang terpenting merasa terbantu dalam devosinya kepada Bunda Maria.

Budaya Lokal
Saat SENIOR berkunjung bulan Juni lalu, Gua Lourdres sangat ramai dikunjungi peziarah karena bertepatan dengan diadakannya Doa Novena. Acara ini juga merupakan rutinitas yang diadakan sejak tahun 1994. Doa sembilan kali ini biasanya dimulai bulan Oktober hingga Juni. Waktu Novena sendiri biasanya pagi hari pukul 11.00 WIB, diadakan pada minggu pertama atau kedua.

Tirakatan Malam Jumat Legi juga menjadi acara rutin yang diselenggarakan di Gua Maria Lourdes Puh Sarang. Misa yang digelar sejak tahun 1998 ini diadakan sebagai suatu usaha untuk mengundang para peziarah lebih banyak.

Bila kita berada di sana, jelas terekam kesan bahwa komplek Gereja Puh Sarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman kristiani dan tempat ibadat Katolik dalam budaya setempat. Dalam Gua Maria Lourdes juga terdapat tulisan dalam bahasa Jawa yang artinya : Bunda Maria, yang terkandung tanpa noda asal, semoga berkenan merestui aku yang datang berlindung kepada-Mu.

Jika Anda tertarik mengunjungi gereja yang terletak di Desa Puh Sarang, Kecamatan Semen, kira-kira 10 kilometer dari pusat Kota Kediri ini dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Dari terminal Kediri Anda bisa menggunakan angkutan atau menyewa mobil dengan biaya Rp 5 hingga Rp 10 ribu. Sementara jika ingin menginap, banyak penduduk yang menyediakan jasa penginapan dengan tarif kurang dari Rp 20 ribu semalam. Silakan. (Lalang Ken Handita)

Sumber: Senior edisi No.171/18-24 Oktober 2002
http://cybertravel.cbn.net.id/detil.asp?kategori=Place&newsno=459


%d blogger menyukai ini: