Pertahankan Arsitektur Kota Lama Banyumas

BANYUMAS – Kondisi arsitektur Kota Lama Banyumas (Jawa Tengah) saat ini memprihatinkan. Selain banyak dibongkar dan dirombak, juga hancur karena tak terawat. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus.

Kota Lama Banyumas harus dilestarikan, tidak hanya memperhitungkan faktor sejarah masa lalu, tapi juga memperhitungkan kemajuan kota di masa mendatang. Demikian kesimpulan dari Seminar “Pengembangan Kota Lama Banyumas” di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas, Minggu (13/10) siang. Acara tersebut diteruskan dengan sarasehan kesenian Banyumas pada Senin sampai Selasa (14 -15/10) dengan menampilkan budayawan Ahmad Tohari.

Dalam seminar tersebut ditampilkan para pakar budaya dan arsitektur Banyumasan. Antara lain Totok Rusmanto, Sugeng Priyadi, dosen sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sunardi Dekan Fakultas Teknik Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto, Rustopo pakar budaya Jawa dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyumas, Santoso.

Berwawasan Budaya

Kota Lama Banyumas, yang terletak 15 km barat daya Kota Purwokerto, kini terkesan sebagai kota mati terutama di malam hari. Melalui acara gelar budaya Banyumas dibicarakan upaya menghidupkan Kota Lama Banyumas menjadi kota yang berwawasan budaya.

Antara lain, dengan mempertahankan Kota Lama sebagai pusat kegiatan kebudayaan Banyumas masa depan, melestarikan kesenian Banyumas yang beraneka ragam, mempertahankan budi pekerti luhur khas Banyumas yang bersikap terbuka sebagai basis terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Kota Lama Banyumas peninggalan zaman kolonial itu kaya akan keseninan tradisional yang khas, antara lain, Aplang, Bongkel, Buncis, Calung, Cowongan, dan Ebeg, yang semuanya merupakan perpaduan seni tari dan seni suara. Selain itu ada kesenian Gubrag Lesung (musik yang terdengar saat orang menumbuk padi), Jemblung, Kaster, Lengger, Macapatan, Ujungan, Teater dan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan.

Saat ini banyak dari kesenian itu yang tak pernah lagi dimunculkan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyumas berupaya menghidupkan kembali kesenian tersebut serta melestarikan arsitektur Kota Banyumas.

Salah satu bangunan yang telah dilestarikan adalah Pendopo Duplikat Si Panji, Gedung Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), dan gedung-gedung peninggalan zaman kolonial lainnya. (057)

Sumber: Suara Pembaharuan 15 Oktober 2002.

Iklan

%d blogger menyukai ini: