Kondisi Arsitektur Kota Lama Banyumas Memprihatinkan

Dijadikan Museum Hidup

BANYUMAS- Pelestarian dan pengembangan kota lama Banyumas tidak hanya mempertimbangkan faktor sejarah masa lalu, tetapi juga memperhitungkan kemajuan kota itu di masa yang akan datang.

Upaya pelestarian dan pengembangan dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu penanganan secara fisik dan non fisik.

Demikian benang merah yang dapat diambil dari empat pembicara dalam Seminar Pengembangan Kota Lama Banyumas di Pendapa Duplikat Si Panji Banyumas, Minggu (13/10). Seminar tersebut menghadirkan Ir Sunardi MTP, Rustopo SKar MS dan Drs Sugeng Priyadi MHum, serta Ir Totok Roesmanto MEng.

Seminar diadakan dalam rangka Gelar Budaya Banyumas 2002 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Gelar Budaya itu berlangsung selama seminggu, (13-19/10).

Pakar sejarah Drs Sugeng Priyadi mengatakan, pelestarian kota Banyumas tidak bisa dilakukan hanya dengan menjadikan bangunan kuna sebagai cagar budaya. Jika seperti itu berarti kota Banyumas hanyalah dijadikan kota mati, kota pensiun, kota monumen dan semacamnya.

Kalau itu ditempuh, maka kota tua Banyumas tidak akan hidup sebagai kota yang produktif. Kota Banyumas seharusnya bukan dimuseumkan, tetapi menjadi museum hidup, ujarnya.

Menurutnya, perpindahan ibu kota dari Banyumas ke Purwokerto sering dianggap kemunduran kota Banyumas di bidang ekonomi. Anggapan itu memang tepat karena Banyumas cukup terisolasi dengan adanya Sungai Serayu, tambahnya.

Menurutnya, bangunan-bangunan kuna di sekitar Pendapa Duplikat Si Panji seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan perkantoran pemerintah dan kegiatan lain. Dengan kata lain, Kota Banyumas dijadikan ibu kota kabupaten yang kedua. Artinya kegiatan resmi bupati tidak harus diselenggarakan di Purwokerto, katanya.

Memprihatinkan

Sedang Sunardi menyatakan, dari aspek arsitektural, kota Banyumas cukup memprihatinkan. Adanya gagasan untuk melestarikan dan mengembangkan arsitektur kota Banyumas, kiranya perlu ditanggapi secara positif dari berbagai pihak, jelasnya.

Namun upaya untuk merealisasikan ide tersebut merupakan pekerjaan yang cukup berat dan besar. Secara fisik, dengan renovasi dan revitalisasi. Renovasi dengan melakukan perbaikan sedemikian rupa sehingga hasilnya sama dengan aslinya tapi dengan fungsi yang berbeda dari aslinya.

Secara nonfisik, Sunardi berpendapat perlu ada kegiatan pemberdayaan pihak terkait, seperti masyarakat, swasta dan pemerintah. Kiranya sektor pariwisata sangat memungkinkan, ujarnya.

Ir Totok Roesmanto mengungkapkan, pelestarian kota lama Banyumas yang bisa dilakukan adalah menjadikan bangunan kuno yang masih ada sebagai aset utama. Jumlah bangunan kuno itu sekitar 135 buah.

Menurut dia, kondisi pada tahun 1944, masih terdapat bangunan kuno tujuh buah di selatan Bankstraat, 45 buah antara Jl Tengah dan Sungai Serayu atau di sebelah timur karesidenan, 75 buah di utaranya, dan 8 buah di bekas lahan tepinya. Semua bangunan kuno itu berarsitektur kolonial, sedangkan bangunan berarsitektur Banyumasan tidak digambarkan. (jm-47)

Sumber: Suara Merdeka, Senin, 14 Oktober 2002.


%d blogger menyukai ini: