Perencanaan Kota Lama Jakarta Tidak Jelas

Jakarta, Kompas – Perencanaan dan pemanfaatan kota lama Jakarta di kawasan Jakarta Utara sampai sekarang tidak jelas. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hanya merencanakan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata, tetapi tidak didukung fasilitas yang memadai sehingga tidak menarik turis untuk datang, dan yang terlihat hanyalah bangunan-bangunan tua, kotor, dan tidak terurus.

Demikian satu hal yang mengemuka dalam “Seminar Internasional Arsitektur Museum Sejarah Jakarta” yang berlangsung hari Rabu (21/8) dan dihadiri beberapa arsitek serta pencinta bangunan tua dari Belanda, Singapura, Bandung, dan Jakarta.

Akibat tidak jelasnya pemanfaatan bangunan tua di Kota Lama Jakarta, kini bangunan-bangunan tua tersebut dijadikan gudang kertas, bahan pokok, dan gudang oli. Kondisi seperti itu mempercepat kehancuran bangunan karena getaran truk-truk sepanjang hari merusak konstruksi dan dinding bangunan tua, sedangkan bangunan tua lainnya justru telantar karena pemiliknya tidak berani merenovasi karena takut melanggar peraturan daerah serta undang-undang cagar budaya.

Bambang Eryudawan, dosen Teknik Arsitektur Universitas Indonesia, mengatakan, mencontoh beberapa kota di Eropa agar bangunan tua terpelihara dengan baik, semestinya kawasan kota lama dijadikan tempat permukiman atau perdagangan. Hanya saja, permukiman tersebut bersifat khusus dengan memperhatikan aspek kelestarian bangunan, seperti memperbanyak bahu jalan untuk pejalan kaki serta membatasi berat dan jumlah kendaraan yang lalu lalang di kawasan kota lama.

Banyak aspek

“Dengan dijadikan tempat hunian, pemiliknya pasti akan memelihara kelestarian bangunan. Langkah ini sekaligus menyertakan masyarakat dalam memelihara bangunan-bangunan tua,” kata Bambang. Namun yang terjadi di Jakarta sekarang, pemeliharaan kota tua seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab Dinas Museum dan Pemugaran.

Martono Yuwono, Pelaksana Harian Badan Pengelola Kawasan Wisata Bahari (BPKWB) Sunda Kelapa mengatakan, restorasi atau pemugaran kota lama Jakarta sudah dimulai tahun 1972-1974 ketika Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin. Misalnya, dengan memugar Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Gedung Joang 45, Museum Sumpah Pemuda, dan berbagai gedung serta kawasan lainnya. Pemugaran dan revitalisasi semestinya terus berlanjut sampai kini.

Dosen Arsitektur Universitas Indonesia Budi A Sukada mengingatkan, untuk merevitalisasi Kota lama Jakarta, tidak bisa hanya mengandalkan arsitek dan ahli planologi. Karena menyangkut banyak aspek, revitalisasi kota lama Jakarta harus melibatkan ahli dari disiplin ilmu lain, terutama sejarah dan arkeologi, sehingga perencanaan kota lama Jakarta bisa jelas dan terarah. (THY)

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 22 Agustus 2002

Iklan

%d blogger menyukai ini: