Bangunan Lama dan Mebel Masa Kolonial

Oleh Grace Pamungkas, Arsitek peneliti bangunan tua di Jakarta.

SEBAGAI bagian dari sejarah, bangunan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang. Sesungguhnya kesadaran akan pentingnya sejarah dengan cara mempertahankan bangunan lama bukan hal baru, terutama di Jakarta. Meski faktanya, masih banyak orang yang lebih mementingkan keuntungan materi semata, dibanding memikirkan keuntungan nonmateri bagi generasi mendatang.

Beberapa bangunan lama yang besar di Jakarta, seperti Bank Indonesia atau bekas Bank Exim di kawasan Kota, Jakarta Barat, termasuk bangunan lama yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahan gedung sekaligus interiornya.

Bangunan lama dalam bentuk rumah tinggal yang umumnya terdapat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bahkan masih menyisakan perabot antik masa kolonial. Seiring dengan masuknya pedagang dari Cina, India, dan Eropa, semakin kentara pengaruh mereka terhadap model mebel pada zaman itu.

Mebel masa kolonial garis besarnya dibagi dalam dua kelompok periode perkembangan gaya, yaitu periode awal era Vereegnide Oost Indische Compagnie (VOC), sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19; dan periode modern awal tahun 1900-an, ketika era modernisasi muncul di Eropa.

Mebel yang digunakan awal abad ke-17 hingga permulaan abad ke-18 ternyata banyak menggunakan kayu eboni (Diospyros ebenum, Diospyros celebica) yang berwarna hitam, juga kayu kalamander (Diospyros quaesita), amboina (Pterocarpus indicus), sonokeling (Dalbergia latifolia), satin (Chloroxylon swietenia), dan jati (Tectona grandis). Sementara pada periode modern, digunakan lebih banyak ragam bahan baku selain kayu, seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, hingga besi.

MEBEL periode awal VOC, bisa dikatakan bentuk dan gayanya banyak dipengaruhi Eropa. Sementara ragam hiasannya, seperti ukiran, sampai abad ke-18 tampaknya masih banyak dipengaruhi India. Kursi Moluccan, misalnya, kursi yang terbuat dari kayu ebony dengan ciri khas ukiran pilin (twisted) banyak ditemukan di Maluku.

Bentuk ukiran pilin seperti itu sudah lama dikenal di India, misalnya, terdapat pada pilar Istana Man Singh yang dibangun tahun 1500. Kursi Moluccan hampir tak memiliki ukiran bunga atau tumbuh-tumbuhan lainnya, seperti kebanyakkan kursi masa itu. Biasanya berdudukan anyaman rotan, yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Bentuk dasar kursi moluccan mirip kursi kayu walnut (kenari) dengan bahan pelapis kulit yang ditemukan di Belanda pada pertengahan abad ke-17.

Meski perabot seperti kursi moluccan yang ada di Indonesia dipengaruhi Eropa, namun teknik anyaman rotan itu sendiri sebenarnya sudah menjadi model di Cina pada akhir abad ke-16.

Selain kursi moluccan, pada masa ini juga berkembang mebel dengan ukiran bunga, daun, dan binatang. Konon, gaya ukiran itu dipengaruhi tradisi tukang kayu Pantai Koromandel, India. Ukiran mebel semacam ini disebut low-relief bila ukirannya berbentuk bunga dan daun berukuran kecil. Sebaliknya, ukiran daun dan bunga yang besar bentuknya disebut half-relief.

Menjelang pertengahan abad ke-18, kayu yang banyak dipakai adalah jati, sonokeling, dan ambon merah. Pada masa ini, ukiran bunga dan daun India berganti dengan model ukiran flora bergaya Eropa. Selain tetap menggunakan ukiran flora, ada pula mebel yang dihiasi ukiran figur malaikat, mahkota, singa, atau simbol, dan lambang lainnya.

Salah satu jenis kursi pada masa itu memiliki sandaran yang tinggi dan ukiran gaya Eropa. Kursi ini biasa disebut Kursi Inggris (english chair) atau Kursi Belanda bersandaran tinggi (dutch high back chair).

Kalau kursi semacam itu memiliki sandaran berbentuk vas bunga yang menyatu dengan dudukannya, hal ini merupakan pengaruh Cina. Sementara kursi bergaya Cina (chinese chair) sendiri sampai sekarang masih terdapat di Gereja Sion, Jakarta Barat. Meskipun kursi bergaya Cina tapi ukirannya dipengaruhi Eropa, karena digunakan khusus untuk Gubernur Jenderal Belanda saat menghadiri kebaktian di gereja.

Pada masa ini, orang juga menggunakan perabot yang disebut kursi Raffles dan krossie gobang (kursi verandah). Kursi Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka trend perabot masa Raffles berkuasa itu (tahun 1811-1816), lebih dikenal dengan sebutan kursi raffles.

Sedang krossie gobang berbentuk kursi malas, dengan bagian bawah lengan kursi dapat diputar ke arah depan, supaya bisa menopang kaki. Kursi yang ditemukan di Indonesia dan India ini disebut kursi gobang, karena menggunakan kepingan uang gobang (2,5 sen) sebagai pengisi poros antara lengan kursi dengan kayu penopang kaki. Model kursi ini juga disebut kursi verandah karena sering digunakan sebagai kursi santai di beranda rumah-rumah bergaya Hindia.

PERIODE modern mebel masa kolonial dimulai awal tahun 1900-an. Ketika Eropa dilanda berbagai gerakan baru seperti Arts and Crafts, Art Nouveau, Art Deco, Bauhaus, Amsterdam School, dan De Stijl. Mereka melahirkan semangat baru untuk merancang bentuk yang tak biasa.

Perubahan mencolok tampak dari banyak berkurangnya ukiran bergaya alami, dan berganti dengan pola-pola geometris. Bentuk fungsional muncul dengan tampilan yang polos tanpa dekorasi, sebagai akibat dari prinsip bentuk mengikuti fungsi (form follows function) pada masa itu. Ketegasan garis-garis struktur benda itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya.

Arsitek-arsitek Belanda yang mulai datang ke Hindia-Belanda awal abad ke-20 memperkenalkan tak hanya arsitektur baru bangunan, tetapi juga rancangan perabot untuk bentuk bangunan tersebut. Salah satunya adalah FJL Ghijsels, arsitek Belanda yang datang ke Indonesia awal abad ke-20 ini, membuat beberapa desain perabot sejak ia masih kuliah di Delft (sekitar tahun 1904) sampai ketika bekerja di Batavia (1910-1929).

Pada masa ini biro-biro arsitektur pun bermunculan. Mereka tak hanya mendesain bangunan gedungnya, tetapi juga mendesain furniturnya. Beberapa di antaranya adalah Algemeene Ingineurs en Architecten Bureau (AIA Bureau), Biro Fermont en Cuypers yang mendesain De Javasche Bank (Bank Indonesia Kota) tahun 1909-1937, Factorij (bekas Bank Exim Kota) yang furnitur dan interiornya digarap arsitek AP Smits (1929).

Kebiasaan mendesain perabot yang dilakukan arsitek pada awal abad ke-20, memunculkan bentuk perabot yang konstekstual dengan gaya bangunannya. Pada masa ini pula kayu sebagai bahan pokok mebel dipadu dengan beragam bahan seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, dan besi.

Kalau Anda punya rumah bergaya lama, tak ada salahnya menggunakan mebel reproduksi. Asalkan, penguasaan esensi bentuk terdahulu tetap dipertahankan. Cara ini akan membuat perabot produk baru dan mutakhir sekalipun tetap akrab dengan lingkungan lama.

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 13 Agustus 2002.


%d blogger menyukai ini: