Cikal Penerbitan Itu Bernama Boekhandel Tan Khoen Swie

TOKO “Surabaya” di Jalan Dhoho, salah satu kawasan bisnis tersibuk di Kota Kediri, kini banyak menjual aneka bahan makanan, seperti abon, dendeng, dan sebagainya. Sosok toko yang berada tepat di depan Hotel Penataran itu benar-benar berbeda dengan sederet toko lain di sepanjang Jalan Dhoho.Kesan tua dan antik tersembul kuat. Benar saja. Pasalnya, di rumah toko itulah, di awal abad ke-19 dulu, beroperasi sebuah bisnis penerbitan yang tersohor di seantero Pulau Jawa. Bahkan, sejumlah pihak menyebutnya sebagai cikal bakal penerbitan di Indonesia.

Boekhandel Tan Khoen Swie, demikian nama penerbitan itu. Tak tanggung-tanggung, sejumlah gagasan milik pujangga dan pengarang kenamaan asal berbagai kota di Jawa, pernah diterbitkan oleh badan penerbitan milik Tan Khoen Swie itu.
Sebut saja pujangga asal Surakarta, Ronggowarsito dan Padmosusastro. Demikian pula dengan sejumlah penulis asal Bojonegoro, Surabaya, serta Yogyakarta. Total jenderal, jumlah buku yang diterbitkan oleh tokoh kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), pada tahun 1883 itu mencapai 400 judul.

Dari penelusuran sementara oleh Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kediri, judul-judul itu tergolong komplet dan multidisipliner. Karena, bidang yang diterbitkan beragam, mulai dari filsafat Jawa, pengetahuan olah rasa, pengetahuan tentang rahasia wanita, pengobatan tradisional, sejarah, dunia binatang, dan lain-lain. Bahasa yang ada di buku juga tak melulu bahasa Melayu dan berhuruf latin. Namun, ada juga buku berbahasa Jawa berhuruf latin, serta buku berbahasa Jawa berhuruf Jawa.

“Mencermati bagaimana kerja penerbitan di masa belum ada komputer dan manajemen transportasi belum secanggih sekarang, saya berpendapat, yang dikerjakan Tan Khoen Swie adalah sesuatu yang luar biasa,” kata Sardono W Kusumo, seniman tari asal Solo, yang banyak membantu penelusuran situs penerbitan ini.

TAN Khoen Swie, seperti dipaparkan Ketua Tim Pelestarian Kusharsono, dilahirkan di Wonogiri, sekitar tahun 1833. Dari berbagai referensi, kemudian diketahui bahwa Khoen Swie adalah pengurus Kioe Kok Thwan, organisasi masyarakat Tionghoa di Kediri.

Lantas, pada tahun 1935 di Kediri sudah terbit majalah bulanan Tionghoa berbahasa Melayu, bernama Soeara Saw Kauw Hwee. Sebagian besar isinya memuat faham kebatinan Tionghoa, yakni Tao, Khong Hu Cu, dan Buddha. Di majalah itu, Khoen Swie menjadi redaktur sekaligus pemimpin redaksi dan penulis.

“Sumber lain juga mengatakan, Tan Khoen Swie kala itu berambut panjang. Ini ada maksudnya, sebab saat itu ada gerakan bersama memanjangkan rambut yang bertujuan diam-diam menentang kekejaman Pemerintah Belanda dan Jepang,” kata Kusharsono.
Perjuangan itu, menurut dia, didasari faham ajaran yang dianut tokoh penerbit Kediri itu, yang umumnya mengajak berbuat baik dan melarang keburukan. Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, ia juga, bersama Kiai Fatah dari Tulungagung, pernah ditahan dan disiksa tentara Dai Nippon.

Militansi Tan Khoen Swie dalam menentang penjajahan antara lain terlihat dari buku Tjinta Kebaktian pada Tanah Air, terbitan tahun 1941. Demikian pula dalam beberapa buku lain, seperti Bhagawad Gita, Dewa Rutji, dan Bima Boengkoes, yang mengurai rasa cinta kebenaran dan cinta Tanah Air.

Ratusan buku terbitan lain, seperti telah disinggung di muka, temanya beragam. Misalnya Nitimani karya pengarang terkenal R Tanojo, yang banyak mengulas rahasia bersuami-istri, termasuk membahas liku-liku bersenggama. Demikian pula buku Asmaragama, yang dalam bahasa kini berisi sex education.

Buku-buku kawruh kebatinan juga banyak diterbitkan dan digemari. Ini juga tak lepas dari strategi kontra penjajahan Belanda, yang akan langsung melarang pengedaran buku tertentu jika terlalu terang-terangan menentang rezim kolonial.
Buku kebatinan yang telah diterbitkan antara lain berjudul Poestoko Rantjang, Tjipto Goegah, Sasmita Rahardja, Niti Prana, Djampi Gaib, juga Wedotomo. Ada lagi buku-buku petunjuk praktis, misalnya buku tulisan Tan Tek Sui tentang cara meramal.

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Kediri kini sedang menelusuri kembali situs-situs kuno, seperti lingkungan penerbitan Tan Khoen Swie, makam ulama Syech Sulaiman al Wasil, dan tokoh kejawen tempo dulu Ponco Legowo.

Wali Kota HA Maschut berharap, keluarga ahli waris Tan Khoen Swie mengizinkan cetak ulang atas buku-buku terbitan Boekhandel tersebut. “Jika sudah ada izin, pemerintah kota akan memasukkan buku-buku cetak ulang itu ke Museum Airlangga, sebagai bukti atas pengakuan bahwa karya Tan Khoen Swie merupakan bagian dari sejarah Kota Kediri,” ujarnya.

Bagi Drs Sudarmono SU, dosen sejarah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), ketertarikan Pemkot Kediri menelusuri kembali titik-titik sejarah tempo dulu tergolong ide yang menarik dan langka.

Sebab, biasanya pemerintah daerah saat ini lebih disibukkan oleh pembangunan proyek-proyek fisik berdana milyaran rupiah. “Dalam konteks Kediri, penelusuran sejarah menjadi makin penting karena kota ini menyimpan banyak kisah, ada banyak memori kolektif di sini,” kata Sudarmono, yang hadir dalam Sarasehan Pelestarian dan Pengembangan Situs Tan Khoen Swie, baru-baru ini.

Hanya saja, baik Sardono W Kusumo, Sudarmono, maupun drg Sutjahjo Gani (cucu buyutnya Tan Khoen Swie), sama-sama mengingatkan agar pelestarian situs penerbitan ini jangan menjebak kita pada pengutamaan hal-hal mistik belaka.
Sutjahjo Gani mengungkapkan, kakek buyutnya memang mempunyai kemampuan supranatural. Itu pulalah yang membuatnya dapat lolos dari sel tahanan Pemerintah Jepang. Namun, ia mengingatkan, olah batin yang didalami dan dimiliki Tan Khoen Swie sama sekali tidak digunakan dalam pengoperasian penerbitan.

“Ini dua hal yang berbeda. Untuk penerbitan, kakek saya 100 persen menggunakan pendekatan bisnis, dan tentu saja perjuangan penyebaran ide-ide. Sementara kemampuan supranatural tak berkait dengan gerak penerbitan. Itu ruang pribadi beliau,” katanya.

Sardono W Kusumo dan Sudarmono menambahkan, akan lebih baik jika buku-buku Khoen Swie dijadikan bahan diskusi rutin di rumah asli Jalan Dhoho. Tentu saja setelah ada izin dari Ny Yuriah Tanzil sebagai ahli waris.

“Diskusi atau bedah buku akan lebih bermakna daripada sekadar mengeramatkan tempat-tempat wingit. Kegiatan semacam itu akan berfungsi ganda. Di satu sisi kepentingan pelestarian tercapai, di sisi lain kepentingan pencerdasan generasi mendatang juga teraih,” ujar Sardono. (ADI PRINANTYO, ARDUS M SAWEGA)

Sumber: Kompas, Jumat, 7 Juni 2002


%d blogger menyukai ini: