Perluasan Museum Nasional Belum Melegakan

KRITIK tajam sering dialamatkan ke dunia permuseuman. Orang malas pergi ke museum karena kotor, sepi, koleksi yang tidak jelas informasinya. Lebih menyebalkan karena pegawai museumnya ogah-ogahan, tertidur di tempat kerjanya, atau asyik baca koran.

Bagaimana pengalaman Anda saat berkunjung ke Museum Nasional, di Jalan Merdeka Barat No 12 Jakarta Pusat, Museum Nasional dengan koleksinya yang tercatat sebanyak 112.246 buah (informasi lain menyebut 109.342 buah) sesungguhnya tergolong museum istimewa di antara museum dunia lain. Koleksinya, diistilahkan Sekretaris Utama Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Nunus Supardi, institusi vertikal yang membawahi lembaga Museum Nasional, sebagai masterpiece.

Mulai dari koleksi zaman prasejarah, koleksi klasik abad ke-4 sampai ke-16, terentang lagi ke zaman kerajaan-kerajaan Islam, hingga masa pendudukan kolonial. Mengamati koleksi Museum Nasional orang akan terangsang memasuki bidang kajian ilmu prasejarah, arkeologi, sejarah, geografi, antropologi sampai seni rupa.

Koleksi itu juga merekam data dasar kearifan lingkungan lingkungan adat, teknologi tradisional misalnya teknik perekatan batu dinding Candi Borobudur, informasi nilai religi, etika, moral di samping estetika. Sebutlah prasasti Gajah Mada dari abad ke-13, koleksi numismatik dari zaman Majapahit yang disebut uang gobog dari perunggu dari awal abad ke-14. Juga koleksi mebel seperti kursi gaya Rococo abad ke-18, peta kuno, keramik, gelas, lampu, gerabah, genta, patung, sampai koleksi etnografi seperti kain batik, keris dan banyak benda lain yang tak ternilai harganya.

NYATANYA hanya 20 persen saja koleksi Museum Nasional yang bisa dipamerkan kepada pengunjung. Ketiadaan tempat untuk penyimpanan, membuat rak lemari pajang juga berfungsi sebagai rak simpan. Muncul ancaman kelestarian karena ruang simpan terbatas dan perlakuan terhadap benda kuno ini menjadi tidak sebagaimana seharusnya.

Umur bangunan Museum Nasional sendiri telah 134 tahun sejak dihuni tahun 1868 yang sekarang berada di sebelah barat Monumen Nasional. Lembaganya sendiri berdiri 24 April 1778 dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetnschappen, badan swasta yang masa itu bertujuan memajukan penelitian bidang seni dan ilmu sejarah. Sir Thomas Stamford Raffles, pada awal abad ke-19 pernah terlibat di sini sebelum akhirnya lembaga ini menempati gedung yang disiapkan pemerintah kolonial Belanda sejak 1868 itu, di tempatnya sekarang di Jalan Medan Merdeka Barat.

Menurut Nunus, Presiden Pertama RI Bung Karno juga punya impian atas Museum Nasional dengan menjadikannya sebagai salah satu dari kesatuan kompleks kebudayaan bersama dengan sejumlah tempat-tempat menarik di kawasan itu yakni Monumen Nasional (Monas), Galeri Nasional, Masjid Istiqlal, dan Istana Negara.

Tahun 1996, lewat Depdikbud pemerintah mengadakan Lomba Desain Tampak Muka gedung Museum Nasional, setelah tahun 1931 tercatat pernah ada bantuan dari Pemerintah Perancis memugar bagian depan gedung Museum Nasional. Ketika itu bangunan di gedung lama, yang sekarang diistilahkan gedung A, sudah seluas 111.500 m2.

Fisiknya berupa bangunan monumental dengan bentuk arsitektur zaman kolonial yang berdiri di atas lahan seluas 13.840 m2. Depdikbud menetapkan kelompok arsitek Atelier 6 sebagai pemenang dan sekaligus terlibat dalam proses pengembangannya. Proyek pengembangan kompleks Museum Nasional yang dipimpin Mendikbud (waktu itu) Wardiman Djojonegoro lantas memungkinkan dilakukannya pembebasan lahan sehingga kini luas tanah seluruhnya mencapai 25.200 m2.

N Siddhartha, salah seorang prinsipal kelompok arsitek Atelier 6 kemudian merancang penyusunan rancangan induk Museum Nasional. Ditambahkan dua bangunan baru yang disebut Gedung B di samping banguan lama (gedung A) dan Gedung C di belakang kedua gedung A dan B itu. Ketika pekerjaan pembangunan gedung B dimulai tahun 1996 dengan rencana luas bangunan 30.000 m2 yang terdiri atas dua lantai basement dan tujuh lantai di atasnya, mestinya tahun 2000 sudah rampung. Bisa ditebak krismon membubarkan semua rencana itu.

Gedung B terhenti sampai lantai empat dari rencana semula tujuh lantai, ditambah sebuah koridor dan sebuah amphiteater di antara gedung A dan B. Gedung C di bagian belakang rencananya dibikin seluas 40.000 m2, terdiri dua lantai basement dan 10 lantai di atasnya.

“Jika gedung B dan C selesai sebanyak 40 persen, area itu nanti bisa dipakai pameran tetap, temporer, dan penyimpanan yang saat ini sangat dibutuhkan, 30 persen lagi untuk ruang publik seperti lobi, auditorium, kafetaria dan toko cindera mata, dan 30 persennya lagi area perkantoran, laboratorium, ruangan konservasi, preparasi dan riset (studi koleksi),” tutur Dr Endang Sri Hardiati, Direktur Museum Nasional.

Pertemuan pengurus Museum Naisonal dengan anggota Komisi VI DPR Jumat lalu itu mengungkapkan, Komisi VI hendak memperjuangkan diperolehnya dana senilai Rp 87,6 milyar lagi untuk merampungkan gedung B dan bagian dasar gedung C.

Sudut paling menarik tentulah pilihan arsitektur gedung B, yang diputuskan berpenampilan sama dengan gedung A, yakni bergaya arsitektur kolonial: tanpa kanopi, jendela-jendela tinggi, deretan pilar yang menopang atap halaman depan. Kedua gedung A dan B dihubungkan dengan jembatan penghubung berupa bangunan berkaca, di atas teater terbuka berbentuk setengah lingkaran.

“Lantai dasar teater ini lebih rendah satu lantai dari permukaan tanah, didesain untuk kelak bisa dibangun dengan sebuah jalan bawah tanah yang menghubungkan teater ini dengan kawasan Monas dari bawah tanah,” kata Siddhartha.

Gedung B saat ini lebih banyak digunakan sebagai ruang pertemuan karena adanya fasilitas ruang aula yang saat ini menolong Museum Nasional secara keuangan karena bisa dimanfaatkan secara komersil untuk pameran kesenian. Masih panjang jalan untuk mendapatkan ruang penyimpanan yang rencananya akan ditempatkan di Gedung C. Apa boleh buat, meski sudah lumayan panjang perjalanan perluasan Museum Nasional, benda-benda koleksi itu sampai saat ini masih berdesakan tak ternikmati kekayaan budayanya. (ODY)

Sumber: Kompas, Minggu, 5 Mei 2002

Iklan

%d blogger menyukai ini: