Waroeng Old Shanghai 1920 Sunda Kelapa di Malang

BUKAN sekadar untuk memanfaatkan peristiwa perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh 12 Februari 2002 lalu, tetapi sekaligus untuk menggali potensi dan peristiwa budaya pada masa lalu. Itu yang dilakukan pemilik Hotel Tugu Malang, Anhar Setjadi Brata, dengan membuat sebuah kedai untuk mengenang Waroeng Old Shanghai 1920 di Sunda Kelapa.

Kedai atau warung bernuansa Shanghai di Hotel Tugu itu berada di pinggir kolam. Peristiwa sejarah yang ingin dikedepankan berdasarkan kisah dari penggalan The Forgotten History of Batavia, mengenai situasi sebuah warung kopi, teh, dan makanan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia, pada masa sekitar tahun 1920.
Tepat pada malam Tahun Baru Imlek, Selasa (12/2) lalu, warung ini dibuka secara resmi. Anhar ternyata tidak hanya sekadar menyajikan tema bersejarah untuk nama warungnya. Tetapi, ia juga menyajikan berbagai poster artistik yang memaparkan kondisi dan peristiwa-peristiwa sejarah berkaitan dengan budaya Shanghai pada tahun 1920 lalu.

Ada sebuah peta asli rencana tata kota Shanghai yang diterbitkan North China Daily News and Herald Limited pada tahun 1928, berukuran satu meter persegi, terpajang di salah satu dinding. Foto-foto peristiwa pada tahun 1930 yang termuat di beberapa koran yang terbit di Shanghai juga menjadi hiasan dinding yang lainnya. Foto-foto itu di antaranya yang terdapat di koran Shun Pao Pictoral Supplement yang terbit pada masanya.

HIASAN dinding berupa reklame-reklame asli pada masa lalu dari Shanghai, banyak pula dipajang. Reklame-reklame itu berasal dari berbagai perusahaan multinasional yang menanamkan modal mereka di Shanghai, lalu diedarkan hingga ke Hindia Belanda atau Indonesia sekarang.

Reklame dari Shanghai pada masa Hindia Belanda itu antara lain untuk produk dari perusahaan Bayer, aspirin, rokok, dan mobil. Selanjutnya, suasana warung seperti pada masa lalu dikesankan melalui atap genteng, meja dan kursi yang dibuat dan tertata sedemikian rupa dengan bentuk yang menyesuaikan kondisi aslinya.

Artikel-artikel dari koran Sin Po yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1925, juga dapat dilihat dalam buku menu makanan yang tersedia. Artikel-artikel itu dapat mengisahkan situasi hubungan budaya, dagang, sosial, dan politik, yang terjadi antara masyarakat Shanghai dan masyarakat Tionghoa di Batavia pada masa itu.
Masih dari artikel tersebut. Ada foto dan kisah dari empat warga Tionghoa yang diusir dari Batavia oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Keempat Tionghoa itu dibawa ke Tiongkok, diangkut dengan sebuah kapal bernama Tjisalak, karena dianggap berbahaya oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Selain itu, ada artikel yang mengisahkan Kwee Hing Tjiat, wartawan Tionghoa di Batavia yang dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Tiongkok. Sebab, ia membuat kritik-kritik keras terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang melakukan kekerasan terhadap penduduk jajahan pada masa itu pula.

Ternyata, masih banyak lagi hiasan yang bernilai sejarah terpajang menjadi hiasan unik warung ini. Di antaranya, ada alat pengisap candu pada masa lalu, alat hitung tradisional swan ban, maupun gambar atau foto hitam putih yang berbicara banyak tentang masa lalu, khususnya berkaitan dengan warga Tionghoa di Indonesia. (p11)

Sumber: Kompas, Jumat, 15 Februari 2002

Iklan

%d blogger menyukai ini: