Kota Taman Pertama di Indonesia

ENTAH mengapa dinamakan “menteng”. Ada yang menyebut nama itu diambil dari nama Daeng Menteng, tokoh Bugis yang sangat berpengaruh di Batavia dan oleh kompeni dua abad lalu diberi konsesi menguasai wilayah yang disebut Menteng sekarang.

Ada pula yang mengatakan, nama itu diambil dari buah menteng (Baccaurea racenosa) yang bentuknya mirip duku Palembang. Kulit buahnya kuning kehijauan, sedangkan daging buahnya putih keunguan dan rasanya manis-manis kecut.

Dari mana pun nama itu berasal tak jadi soal, yang jelas kawasan Menteng mulai dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1920. Tujuannya untuk permukiman orang-orang Eropa dan pribumi kelas atas. Lokasinya persis di sebelah selatan Koningsplein atau Medan Merdeka dan tak jauh dari Weltervreden atau wilayah sekitar Gambir dan Pejambon yang sudah lebih dulu berkembang saat itu.

Dirancang sebagai kota taman, perencanaan kawasan Menteng dilakukan sangat serius. Di kawasan yang asalnya ladang penduduk dan dipenuhi pohon kelapa itu, hanya boleh dibangun rumah-rumah yang bentuknya ditentukan pemerintah kolonial. Selama pembangunan berjalan, disediakan pula trem atau kereta listrik yang masuk dari arah Medan Merdeka Timur terus menuju Menteng Raya-Gondangdia-Wahid Hasyim-Tanah Abang-Glodok dan kemudian Gajahmada.

Khusus untuk rumah, pembangunannya diawasi ketat melalui Bataviasche Bouwverordening 1899 atau Peraturan Tata Bangunan Kota yang pertama untuk Hindia Belanda. Aparat birokrasi pemerintah, betul-betul menegakkan peraturan, tak mau kompromi dalam menindak pelanggaran dan tak bisa disuap seperti birokrat sekarang.

Oleh karena itu, berdirilah rumah-rumah yang bentuknya sangat khas dan unik seperti bergaya klasik, oud indische stijl, art deco, dan gaya vila Eropa di alam tropis. Selain itu terdapat pula bangunan-bangunan pelayanan seperti gedung NV de Bouwploeg yang menjadi Masjid Cut Mutia sekarang, gedung Bataviasche Kunstkring yang menjadi Kantor Imigrasi dan sebagian dihancurkan, maupun gedung Nassaukerk yang kemudian menjadi Gereja St Paulus dan Gereja Theresia.

Sementara itu untuk mewujudkan impian sebagai kota taman, tersedia beberapa ruang terbuka seperti Taman Surapati, Taman Cut Mutia dan ruang hijau terbuka lainnya yang luas dan asri. Tidak lupa disediakan pula saluran pengendali banjir untuk memberikan kenyamanan pada penghuninya.

Maklum saja, kawasan sekitar Sarinah sekarang dan Gereja Theresia, masih sering dilanda banjir besar. “Kalau banjir, banyak mobil mogok,” kata Adolf Heuken SJ, yang tinggal di Menteng sejak tahun 1960-an dan baru saja meluncurkan buku Menteng Kota Taman Pertama di Indonesia.

Menteng menjadi bertambah ramai, ketika tahun 1950-an dibangun Jalan MH Thamrin yang menghubungkan Lapangan Monas dengan Kota Baru Kemayoran. Penghuni Menteng pun semakin terusik ketika tahun 1970-an-seiring dengan melimpahnya rezeki minyak-banyak pejabat-pejabat yang korup mencari rumah di sekitar Menteng. Jalan raya pun kemudian diaspal mulus untuk meningkatkan kenyamanan para pejabat termasuk pimpinan negara yang tinggal di sekitar Menteng.

Penataan kawasan Menteng menjadi tak terkendali ketika tahun 1980-an dibangun jembatan layang yang menghubungkan Jalan HOS Cokroaminoto dengan kawasan Kuningan.

Menteng bukan hanya tak terkendali, tetapi kenyataannya berubah fungsi dari kawasan hunian menjadi kawasan campuran antara hunian, perkantoran dan kegiatan usaha hingga saat ini. Jalan-jalan pun lebih mirip sebagai tempat parkir liar. Jadi tidak usah heran jika di antara rumah-rumah mentereng Menteng, kini menyelip juga perkantoran, rumah makan, salon dan sekolah. (thy)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 22 Juni 2001


%d blogger menyukai ini: