Jakarta Kota Dahulu dan Kini

Dahulu Batavia menjadi pusat pemerintahan VOC Belanda. Kini, Jakarta Kota hanya menyisakan gedung tua tak terawat dan tukang ojek sepeda.
Liputan6.com, Jakarta: Sisa-sisa wajah Kota Jakarta ketika didirikan sekitar lima abad silam masih terlihat di Jakarta Kota. Aktivitas di sejumlah deretan bangunan tua itu masih tampak. Para pengojek sepeda masih mangkal di kawasan Stasiun Jakarta Kota atau yang kerap disebut Beos itu. Namun, suasana tertib pada zaman dahulu telah berganti dengan kepadatan lalu lintas yang semerawut. Namun, bangunan tua itu tetap berdiri kokoh. Meski, tak sedikit yang telah dirombak total atau bahkan dihancurkan.

Adalah Gubernur Jenderal Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) pertama Jan Pieterszoon Coen menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kota ketika mendirikan kerangka awal Batavia pada 1619. Setelah pasukan perusahaan Hindia Belanda itu mengalahkan pasukan Banten yang dipimpin Pangeran Wijayakrama. Sekitar 216 bangunan dibangun di kawasan seluas 139 hektare tersebut. Masyarakat Betawi menyebut daerah itu Jakarta Kota. Istilah itu bertahan hingga kini.

Stasiun Jakarta Kota termasuk gedung yang tak berubah sedikit pun sejak dua abad silam. Banyak yang mengagumi kerja para arsitek pemerintah kolonial Belanda yang mampu memprediksi kapasitas stasiun ini dengan tepat. Buktinya, pertumbuhan kepadatan penumpang masih bisa ditampung hingga kini. Bahkan, rute KA juga diperlebar hingga wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Sayang, pengembangan tersebut tak diiringi perawatan areal di sekitar stasiun. Lihat saja, perawatan areal KA terabaikan. Arus lalu lintas di wilayah ini juga padat dan semerawut. Alhasil, kawasan pusat Batavia yang dahulu dijuluki Jewel of The East atau Permata dari Timur ini mulai luntur dan berganti kawasan kumuh.

Di tengah hiruk-pikuk, tampak para pengojek sepeda berseliweran membawa penumpang menyusuri jalan yang tak dilalui kendaraan umum. Komunitas itu tetap terpelihara hingga kini. Banyak pengojek sepeda yang menjalani profesi tersebut belasan bahkan puluhan tahun. Saban hari, masing-masing pengojek mengayuh sepeda melewati jalur yang dahulu dijejeri gedung antik tersebut.

Kini, banyak bangunan tua yang dibuldozer dan berganti gedung modern. Semula, penghancuran itu dilakukan dengan alasan mengubur dendam atas penjajahan Belanda. Semua yang mengingatkan pada zaman kolonial itu buru-buru disingkirkan. Namun, gairah itu perlahan-lahan menghilang seiring timbulnya kesadaran untuk melestarikan nilai sejarah. Karena itu, pemerintah mulai mencanangkan pelestarian bangunan-bangunan kuno itu.

Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang pertama mencanangkan konservasi sejarah peninggalan Belanda pada 1970. Tapi, usaha ini tak pernah tuntas lantaran warna historis kota tua Batavia terus pudar. Gedung-gedung antik bersejarah ini kian lapuk. Begitu juga dengan para pengojek yang terus tersisih dengan kehadiran kendaraan bermotor. Namun, jejak bangunan tua dan tukang ojek sepeda itu dapat menghidupkan kenangan Batavia tempo doeloe.(TNA/Tim Potret)

Sumber: Liputan 6, 18 Juni 2001

Iklan

%d blogger menyukai ini: