Jejak Multikultural di Banten Lama

KESULTANAN Banten yang mulai dibangun Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati dari Cirebon pada abad ke-16 dan dilikuidasi Daendels tiga abad kemudian kini tinggal reruntuhan. Namun pada puing-puingnya yang kini terserak di daerah Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten, jejak lintasan sejarahnya yang penuh warna masih tampak segar.

Meski sebuah kesultanan Islam, Banten pernah menjadi sebuah tempat di mana berbagai suku dan bangsa hidup berdampingan dengan damai. Rakyat Banten purba merupakan konglomerasi dari sejumlah komunitas etnik yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda, seperti Cina, Arab, Melayu, Eropa dan orang Banten sendiri.

Dengan kata lain, masyarakat Banten tempo dulu adalah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi multikulturalisme, paham yang anehnya justru terasa kian memudar dalam masyarakat Banten masa kini, juga dalam masyarakat Indonesia umumnya.

Sumber: Kompas, Senin, 21 Mei 2001

Iklan

%d blogger menyukai ini: