Malang Dalam Rekaman Lensa

Mia Fiona, detikcom – Dianns Unibraw, Malang memang sudah tak senyaman dulu. Kota yang terkenal dengan hawa sejuknya ini tak lagi menawarkan kesejukan bagi penghuninya. Panas matahari terasa sangat menyengat kulit, udara terasa pengap dan jalan yang dulu lengang kini sangat padat.

Namun, Malang masih menyimpan cerita tentang tempo doeloe. Malang, sang “Interlaken (Swiss)of Java”, Malang si Paris of Java, dan Malang surganya Jawa Timur masih bisa dirasakan lewat hasil bidikan lensa para fotografer yang tergabung dalam Pameran Foto Refleksi Kota Malang.

Melalui pameran yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA)ITN Malang dan Forum Mahasiswa Arsitektur Malang (FMAM), Jumat (18/5/2001) pengunjung dibawa melintasi waktu, menyaksikan keelokan Malang tempo doeloe. Kota ini pernah menjadi ibu kota kerajaan Kanjuruhan dan Singasari. Bahkan kota dengan ketinggian 455 meter di atas permukaan laut ini, pernah menjadi ibu kota dari Kerajaan Mataram Hindu di bawah Mpu Sindok. Di masa kolonial Malang dijadikan ibu kota karesidenan. Dan sisa-sisa peninggalan kolonial inilah yang coba dihaturkan kepada para
pengunjung pameran.

Ir Herman Thomas Karsten yang sangat berpengaruh dalam arsitektur dan tata kota Malang di zaman kompeni menghadirkan sisi romantis kota dalam setiap rancangannya. Ijen Boulevard yang sekarang menjadi lokasi perumahan elite merupakan sentuhan romantis Karsten di Malang.Di sepanjang jalan ini juga kita masih bisa menyaksikan rumah-rumah bergaya kolonial yang telah dipoles sedikit modern. Misalnya, gereja Theresiakerk (Gereja Santa Theresia)yang dibangun oleh biro arsitek Rijksen en Estourgle tahun 1936.

Gedung Bank Indonesia Malang adalah menjadi saksi bisu betapa bangunan kuno peninggalan Belanda masih tersisa di sudut-sudut kota malang yang padat. Gedung yang berada di pusat pertokoan ini seolah tengah bertahan di antara himpitan zaman yang kian menyingkirkannya. Ketika umumnya di daerah lain BI selalu berdiri minimal 11 lantai, maka BI Malang tetap menggunakan bangunan lama-khas bangunan kolonial dengan pilar dan jendela yang tinggi dan kokoh. Pengembangan hanya terjadi di sekitarnya sementara bangunan utama tetap tidak tersentuh.

Foto-foto ditata sedemikian artistik walaupun jalannya sedikit berkelok-kelok, tetapi para pengunjung seolah tak terlalu menyadarinya. Mereka seakan hanyut dalam tour singkat yang membawa mereka tenggelam dalam rekaman sejarah bangunan-bangunan Malang mulai dari yang hitam putih sampai berwarna.

Foto-foto yang merekam sejarah arsitektur kota Malang ini seolah ingin berbicara bahwa konservasi terhadap peninggalan bersejarah di Malang harus segera dilakukan. Sebab, apabila pemerintah dan masyarakat tidak segera menyadari betapa kayanya Malang akan peninggalan bersejarah maka dikhawatirkan Malang akan kehilangan bukti peradabannya. Bukti-bukti sejarah yang menjadi saksi betapa Malang, Surganya Jawa Timur ini hanya akan menjadi dongeng indah pengantar tidur bagi generasi yang akan datang. Ironisnya, ini terjadi karena kita bangsa bersejarah yang tak bisa menghargai sejarah.

Sumber: Detikcom, Jumat, 18 Mei 2001

Iklan

%d blogger menyukai ini: