Besar dengan Warisan Budaya

Sewindu Hotel Phoenix Yogyakarta – Besar dengan Warisan Budaya

DELAPAN tahun memang usia yang terbilang belia. Dalam hitungan waktu pun, kurun waktu delapan tahun bolehlah disebut rentang waktu yang terbilang singkat. Namun, jika selama kurun waktu itu terpatri tekad untuk terus mempertahankan sebuah prinsip tentulah itu sebuah prestasi tersendiri.

Adalah hotel Phoenix Yogyakarta yang selama kurun waktu delapan tahun terus mempertahankan sebentuk warisan budaya yang dimilikinya. Bahkan, 18 Maret 2001, tepat diusianya yang genap sewindu, hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 9-11 semakin mengukuhkan tekad untuk terus melestarikannya. Meskipun -sangat mungkin-, peninggalan bersejarah itu tak begitu berarti dalam kehidupan yang serba modern ini.

Sebentuk warisan budaya berujud bangunan tua dengan nilai arsitektur tinggi adalah pesona tersendiri dalam khasanah perhotelan di Yogyakarta. Bangunan tua yang dibangun pada tahun 1918 itu bukan hanya membedakan Hotel Phoenix dengan sejumlah hotel lainnya di Yogyakarta. Lebih dari itu, ia telah mengantarkan hotel berbintang tiga ini meraih penghargaan “Heritage Award” dari Yayasan Warisan Budaya, September 1997.

“Mungkin, bangunan tua ini tak menarik bagi para tamu domestik yang biasanya mencitrakan sebuah hotel dalam kesan serba “wah”. Tapi, di mata tamu-tamu asing, paduan gaya art noveau, art deco dan indisch landhuis yang melekat dengan elegant di bangunan tua ini menjadi magnet yang membuat mereka selalu ingin kembali ke Hotel Phoenix,” tutur General Manager Hotel Phoenix, Wahyu Wikan Trispratiwi, dalam perbincangan dengan Bernas, di teras Lamesan Cafe, akhir pekan lalu.

Apalagi untuk menghidupkan suasana, Hotel Phoenix juga mencoba menambahkan sejumlah barang-barang antik, semisal piano kuno dan foto-foto Yogyakarta tempo doeloe. Bahkan tata penyajiannya dicoba dipadukan dengan gemericik suara air kolam dan kicauan burung tropis sehingga tercipta nuansa dekat dengan alam. Tak hanya itu, Hotel Phoenix juga terbilang getol menggelar kegiatan seni, mulai dari pameran lukisan, patung, foto, hingga musik klasik dan pementasan drama.

Begitulah, di tengah persaingan bisnis pariwisata yang terbilang ketat serta kondisi keamanan nasional yang tak menentu, Hotel Phoenix nyatanya tetap mampu bersaing dengan hotel bintang tiga lainnya, bahkan dengan hotel bintang empat sekalipun yang kini banyak bertebaran di Yogyakarta. Dan, tidaklah berlebihan jika warisan budaya dan kepeduliannya terhadap seni budaya dan pariwisata sesungguhnya punya andil yang cukup besar dalam membesarkan hotel ini.

Di tahun 1999, misalnya, dengan jumlah kamar sebanyak 66 tingkat hunian kamar di hotel Phoenix mampu menembus kisaran 35,59 persen. Tingkat hunian kamar ini merambat naik mencapai 43,27 pada tahun 2000. Dan, untuk tahun 2001 mereka menargetkan occupancy rate sebesar 48 persen. Pangsa pasar, seperti ditegaskan Wikan, tetaplah tamu domestik dengan besaran 75 persen. Sedangkan selebihnya adalah para tamu asing.

Untuk memaknai peringatan HUT sewindunya digelar sejumlah kegiatan untuk para relasi, masyarakat dan tentunya juga untuk para karyawan, mulai dari kerja bhakti di lingkungan hotel (9/3), ziarah ke makam karyawan yang telah meninggal (15-16/3), Pasar Murah untuk masyarakat di lingkungan hotel Phoenix dan becak binaan (16/3) hingga syukuran ulang tahun (18/3). (idt)

Sumber: http://www.indomedia.com/bernas/032001/19/UTAMA/19bis2.htm

Iklan

%d blogger menyukai ini: