Akankah Jakarta Memelihara “Wajahnya” ?

RAMAINYA rencana penataan Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang dibangun sekitar 28 tahun lalu, setidaknya menyadarkan bagaimana Pemerintah DKI Jakarta memelihara “wajah”atau kesejarahannya.
Bila mengacu kepada sebuah ulasan mengenai kota-kota terbaik di Asia dari suatu majalah mingguan (Asiaweek, 15 Desember 2000), kita perlu malu mengingat Ibu Kota-kebanggaan negara-Jakarta hanya menduduki peringkat 29 di Asia. Peringkat itu turun satu peringkat dari tahun sebelumnya.

Posisi itu mendudukkan Jakarta sebagai peringkat terjelek di antara kota-kota di negara ASEAN. Dan, sementara kita masih berbenah dengan segala kebobrokan sistem birokrasi, kota-kota negara tetangga itu sudah mulai memikirkan pentingnya menjaga dan memelihara “wajah” kota masa lalu. Mereka menganggapnya hal itu sebagai suatu aset yang penting di masa kini.

Tanpa terus berlarut dalam keterpurukan, Jakarta perlu benar-benar mulai memikirkan mempertahankan aset-aset berupa “wajah” kota masa lalu itu, yang memang memiliki kekhasan dan kekayaan tersendiri. Hal itu perlu, sebelum akhirnya perkembangan modernitas yang berjalan pesat telanjur lupa memperhatikan salah satu “jiwa” dari sebuah kota ini.

Manfaat paling jelas yang dapat diambil dalam memelihara aset “wajah” kota masa lalu antara lain sebagai atraksi yang baik bagi turis mancanegara, dan juga sebagai bahan untuk mempelajari perkembangan arsitektur Indonesia. Jangan lupa, sejarah adalah bagian dari proses menuju kehidupan masa depan yang lebih baik.

***
BICARA “wajah” kota masa lalu tidak terbatas dalam pengertian memelihara atau mempertahankan suatu bangunan tua (tunggal). Akan tetapi, juga perlu dilihat dari skala kota/kawasan secara keseluruhan. Jadi juga perlu mempertahankan ruang-ruang kota dengan segala penunjangnya secara terintegrasi. Hal ini yang sering tidak terpikirkan oleh pihak pemda setempat dalam menuangkannya pada perangkat panduan rancang kota wilayah bersangkutan.

Menampilkan kembali atau mempertahankan ruang kota masa lalu berarti memperhatikan elemen-elemen jalan (street-furniture) dan pembentuk ruangnya, baik tata hijau (soft-landscape) maupun perkerasannya (hard-landscape).

Di Menteng misalnya masih dapat dilihat beberapa elemen jalan seperti (sisa) elemen penunjuk jam dekat Stasiun Cikini, elemen komersial di median Jalan Teuku Umar maupun warung sudut jalan yang mungkin sudah tidak menjadi perhatian dalam suatu konsep preservasi kawasan tersebut. Taman sudut jalan lengkap dengan jenis tanaman pun perlu mendapat perhatian untuk ditata/tampilkan kembali dalam bagian konsep itu.

Banyak contoh kota di dunia yang sudah membagi area/kawasan mana yang perlu dipreservasi dan mana yang tidak. Ke arah mana preservasi kawasan tersebut berjalan, perangkat apa saja yang dibutuhkan. Di Jakarta sebenarnya sudah ada pembagian kawasan-kawasan seperti itu, misalnya Jakarta Kota sebagai kawasan museum, Menteng serta Kebayoran Baru sebagai kawasan hunian.

Akan tetapi, yang terjadi adalah penghilangan/penghapusan aset “wajah” kota masa lalu tersebut. Lagi-lagi hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan-atau pura-pura tidak tahu-dari warga masyarakat maupun oknum aparat pemerintah daerah (pemda) serta tentu saja kurangnya pengawasan dari instansi terkait pemda.

Ketidakjelasan dan kurangnya informasi konsep preservasi kawasan tertentu yang sudah dibuat pemda juga menjadi bagian kegagalan Jakarta memelihara “wajah” kota masa lalunya yang sudah berjalan selama lebih dari 25 tahun!

Dalam upaya memelihara dan mengembangkan suatu kawasan bernuansa masa lalu memang tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemda setempat. Tetapi kiranya-dan seharusnya-mereka dapat memotivasi masyarakat berpartisipasi dalam mewujudkannya (bukannya berkolusi dengan bagian masyarakat ekonomi kuat untuk menghapuskannya pelan-pelan).

Di masa yang serba transparan seperti saat ini perlu memang pemda untuk lebih giat menginformasikan secara luas dan mefasilitasi masyarakat umum maupun pemilik aset dengan pakar/akademisi/bagian masyarakat yang peduli terhadap masalah ini.

Sekali lagi siapa yang akan memelihara “wajah” kota masa lalu Jakarta selain kita sendiri yang merupakan bagian dari warga Ibu Kota ini.

* Aditya W Fitrianto, arsitek dan perancang kota, warga peduli bangunan tua di Jakarta.

Sumber: Harian Kompas, Senin, 26 Pebruari 2001.

Iklan

%d blogger menyukai ini: