Sebagian Ruas Ijen Sulit Dipertahankan

Pembangunan yang tak terkendali membuat sebagian ruas Jalan Ijen sulit dipertahankan kelestariannya. Sepanjang 750 meter di sisi kanan-kiri Jalan Ijen telanjur berdiri bangunan-bangunan dengan berbagai ragam arsitektur yang sama sekali tidak memperhitungkan segi-segi historis.

Meski demikian khusus ruas Idjen Boulevard sampai kini perkembangannya masih terkendali. Arsitektur perumahan di sekitarnya dinilai masih cukup ramah terhadap keindahan taman.

“Tapi dari Jalan Pahlawan Trip sampai ke perempatan Jalan Bandung, ruas Ijen sudah sulit dipertahankan. Di situ sudah berdiri banyak bangunan yang tidak mengindahkan arsitektur baru,” ujar Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang Ir Sofyan Edi Jarwoko, kepada Kompas, Minggu (19/11) di Malang.

Sejak lama sebagian ruas Jalan Ijen sudah berkembang menjadi pusat bisnis dan pendidikan, sehingga tidak bisa lagi dipertahankan sebagai kawasan permukiman. Bangunan-bangunan yang ada pun sudah menggunakan konstruksi bertingkat dengan beton-beton bertulang. “Ini sudah sulit kita pertahankan,” katanya.

Kajian akademisi

Edi Jarwoko mengatakan saat ini yang terpenting adalah melakukan pengkajian ulang terhadap surat edaran Wali kota Malang perihal kawasan Idjen Boulevard. “Sekarang, kan, mesti sudah ada kondisi-kondisi aktual yang mesti diperhatikan,” katanya.

Kawasan Idjen Boulevard dirancang oleh arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten sekitar tahun 1922. Di kawasan itu dulu menjadi daerah permukiman orang-orang Eropa dengan bangunan-bangunan berarsitektur zaman kolonial. Kawasan ini pernah menjadi kawasan paling indah di Hindia Belanda.

Edi Jarwoko mengatakan arsitektur merupakan persoalan yang berkembang. “Namun ‘kan ada arsitektur baku yang harus diacu, seperti misalnya tak boleh membangun gedung bertingkat dan harus beratap genteng,” katanya sembari menambahkan sampai kini arsitektur di Idjen Boulevard masih cukup terkendali.

Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (Unibraw) Dr Ir Antariksa mengatakan Pemkot Malang harus segera melakukan pengkajian terhadap berbagai bangunan peninggalan kolonial yang masih ada. Hal tersebut diperlukan guna melakukan identifikasi bangunan-bangunan yang pantas dipertahankan dan yang boleh ditiadakan.

Antariksa mengakui bahwa arsitektur terus berkembang. Namun, ia mengingatkan jangan sampai kelenturan itu justru menghapus nilai sejarah arsitektur bangunan-bangunan yang peninggalan. (can)

Sumber: Kompas, Senin, 20 November 2000

Iklan

%d blogger menyukai ini: