Jangan Anggap Enteng Gedung Tua

UPAYA pemugaran gedung tua dan bersejarah bukanlah pekerjaan enteng. Kalau bangunan bersejarah telah tercatat milik pemerintah, persoalan pemugarannya lebih banyak terkait dengan rentangan birokrasi yang terlampau panjang. bertele-tele dan juga anggaran biaya.

Ada pula bangunan tua milik pemerintah yang ternyata sudah berpindah tangan melalui proses ruilslag, seperti yang menimpa Gedung Imigrasi di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Persoalan paling ruwet melilit upaya pemugaran bangunan cagar budaya milik swasta/perorangan. Setidaknya ada dua kepentingan yang saling berbenturan dalam upaya itu. Di satu sisi, pemerintah memperjuangkan bangunan tua itu tetap dilestarikan agar nilai sejarah/budayanya dipertahankan. Namun di sisi lainnya, sang pemilik bangunan tua itu lebih cenderung berpihak pada kepentingan komersial.

Para pemilik umumnya beralasan, bangunan yang dipertahankan tetap kuno tidak mendatangkan keuntungan secara ekonomis. Sementara harga tanah di lokasi itu sudah sangat tinggi. Atau kalau tidak dijual, mereka mengganti dengan baru sebagai tempat usaha yang akan mendatangkan keuntungan secara ekonomis. Selain itu ada juga yang mengeluhkan, birokrasi Pemda DKI pun sering kali malah mempersulit jika ada keinginan pihak swasta atau pemilik gedung yang ingin merenovasi gedung tua, dan memanfaatkannya untuk bisnis tanpa merubah bentuk.

Dengan demikian tidak terlalu mengherankan jika sebagian bangunan tua milik swasta kini telah berubah bentuk atau telah punah. Ini misalnya dapat disaksikan di kawasan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Bangun cagar budaya langgam Cina di kampung tua itu, sebagiannya memang sudah dipugar dan dimanfaatkan menjadi rumah tinggal. Meski begitu, Hasan Jadid – salah seorang penghuninya mengatakan, perhatian pemerintah tidak cukup hanya sampai pemugaran. “Pemerintah juga harus memikirkan biaya pemeliharaan bangunan ini serta kelanjutan usaha kami,” tuturnya.

Sebagian lain bangunan cagar budaya di Pekojan, sudah hancur dan lenyap tidak berbekas. Bangunan entah mengalami kerusakan atau beralih tangan dan telah diganti dengan bangunan baru yang tidak lagi sesuai aslinya.

Dicky Casnadi (34), seorang pemilik bangunan tua di Pekojan. mengatakan, pihaknya tidak keberatan jika bangunannya yang sejak lama merupakan gudang, dipugar demi kesinambungan sejarah.

“Hanya saja Pemerintah Daerah (Pemda) DKI jangan pilih kasih serta memberikan jalan keluar bagi kelanjutan usahanya,” kata Dicky, seorang pengusaha ekspedisi. Dia melihat, jika bangunan tua di Pekojan harus dilestarikan maka kawasan itu hanya cocok sebagai tempat wisata. “Perkampungan Pekojan ini hampir semuanya berusaha ekspedisi. Usaha jenis ini nantinya tentu tidak bisa dilanjutkan kalau perkampungan ini menjadi kawasan wisata. Soal ini harus ada jalan keluarnya. Kelanjutan usaha kami tidak bisa harus macet hanya demi kepentingan sejarah,” tegasnya.

***

BERKAITAN dengan benturan kepentingan ini, saran Ir Djodi Trisusanto dari PT Procon Indah, Jakarta, sepantasnya menjadi masukan berharga bagi Pemda DKI. Dalam seminar sehari bertajuk “Potensi Ekonomi Pelestarian Kawasan dan bangunan Tempo Doeloe” di Jakarta, bulan Juli lalu, peminat peninggalan kuno itu menyarankan pemerintah agar tidak menganggap enteng benturan kepentingan ini.

Menurut dia, yang harus diupayakan Pemda DKI adalah mendorong keterlibatan investor dalam upaya pemugaran bangunan cagar budaya atau sejarah milik swasta/perorangan. Namun catatan yang harus disampaikan kepada calon investornya adalah agar pemugaran tetap mempertahankan bentuk aslinya. Maksudnya agar nilai sejarah dari bangunan itu tidak sampai memudar. Sebaliknya, melalui upaya pemugaran itu pula, pemilik bangunan selanjutnya bisa memanfaatkannya sebagai tempat usaha apa saja yang bisa memberikan keuntungan secara ekonomis.

Pendekatan seperti itu diharapkan bisa menepis godaan secara komersial yang terus mengusik pemiliknya menjual atau menghancurkan bangunan tuanya. “Di negara berkembang seperti kita, hanya upaya seperti itu yang dapat menyelamatkan keberadaan bangunan tua bernilai sejarah,” sarannya.

Jika di Eropa atau negara maju lainnya, keberadaan bangunan tua yang diketahui bernilai sejarah pasti selalu mendapat perawatan serius dari pemiliknya. Apalagi bangunan seperti itu dipastikan akan selalu dikunjungi wisatawan yang juga berarti akan mendatangkan uang.

Selain itu, pemilik bangunan juga mendapat kepastian bahwa mereka tidak dirugikan dengan mempertahankan bangunan tua miliknya. Di Singapura, misalnya, gudang-gudang tua di pelabuhan bisa disulap menjadi pusat perbelanjaan, restoran, cafe bahkan diskotik tanpa mengusir pemiliknya. Pemerintah bahkan, bisa mendesain ulang lay out gudang-gudang tua itu agar para pemilik bisa tetap tinggal di salah satu bagian bangunan tersebut.

Hal itu tentu saja berbeda dengan di Jakarta, yang umumnya lebih jago dikonsep namun kedodoran implementasinya dengan berbagai alasan. Selebihnya, kita tunggu saja hapusnya jati diri Kota Jakarta. (ans/thy)

Sumber: Kompas, Sabtu, 9 September 2000


%d blogger menyukai ini: