Braga, Sisa Masa Lalu

Jika Yogya punya Malioboro, Surabaya memiliki Tunjungan, Kota Bandung sebenarnya tidak kalah hebat karena punya Braga. Jalan yang membentang utara-selatan di pusat kota itu sekaligus menjadi salah satu landmark dan kebanggaan warga kotanya, karena sulit dicari tandingannya di daerah lain. Braga termasuk jalan paling tua di Kota Bandung. Bangunan-bangunan pertokoan dan restoran yang terletak di kiri kanan jalan tersebut merupakan bangunan tua yang umurnya hampir mendekati seratus tahun.

Bangunan-bangunan tersebut bukan hanya merupakan bukti masa lalunya, pada zaman keemasan kolonial Belanda. Tetapi Braga sekaligus menjadi sebuah museum terbuka yang menyimpan paling banyak langgam gaya arsitektur, seperti klasik-romantik, art deco, Indo-Europeanen, neo klasik, gaya campuran sampai gaya arsitektur modern bisa Anda jumpai di sepanjang jalan tersebut. Sebelum mengalami modernisasi, bangunan-bangunan sepanjang Jalan Braga bergaya arsitektur Oud Holland. Bangunan ini dicirikan dengan bangunan induk dan memiliki gudang atau paviliun yang letaknya sejajar. Tetapi Walikota Bandung pada saat itu, B. Coops sangat berambisi menjadikan Braga sebagai komples pertokoan paling terkemuka di Hindia Belanda, “De meest Europeessche winkel straat van Indie”. Sehingga sejak itu, dua teknisi di Gemeente Bandung, Ir JP Thysse dan Ir EH de Roo menetapkan, setiap bangunan toko di Jalan Braga harus memiliki gaya arsitektur Barat. Tetapi masalahnya Hindia Belanda adalah negeri tropis, bukan seperti halnya Eropa.

Prof Dr Ir CP Mom kemudian memberi jalan keluar untuk mengatasi masalah di daerah tropis. Bangunannya harus memiliki ruang seluas mungkin dengan atap tinggi dan tembok tebal. Lantai dianjurkan terbuat dari marmer supaya terasa sejuk. Untuk memperoleh penerangan pada siang hari tanpa menimbulkan kesan panas, dibuat lubang angin (ventilasi) yang mengatur sirkulasi udara dan jendela kaca warna-warni gaya art deco. Selain untuk menyaring sinar, jendela kaca tersebut sekaligus mampu menimbulkan kesan estetika.

Beberapa toko yang masih mempertahankan ciri lamanya itu antara lain Toko Kacamata Kasoem, toko buku Scientific, dan Gedung gas Negara. Braga bukan hanya merupakan jalan paling tua umurnya dibanding umur kota Bandung sendiri.

Tetapi sejarah panjang yang dilaluinya memberikan subangan yang tidak kecil terhadap perkembangan kota Bandung. Pada awal abad 19 Braga hanyalah sebuah jalan tanah yang berlumpur pada musim hujan dan berdebu pada musim kemarau. Oleh karena hanya dilewati pedatai yang ditarik kerbau untuk mengangkut hasil bumi ke gudang kopi Koffie Pakhuis, jalan tersebut dijuluki Karrenweg atau Pedatiweg. Bekas lokasi gudang kopi tersebut kini dijadikan Balai Kota Bandung. Sementara nama Braga yang menggantikan nama jalan pedati barulah muncul setelah 18 Juni 1882, saat Asisten Residen Bandung Pieter Sijthoff mendirikan kelompok tonil yang diberi nama “Braga”.

Sejak itu Braga tumbuh dan berkembang pesat, diawali dengan dibangunnya Jalan Raya Pos (Grote Postweg) lalu jalur kereta api Batavia-Bandung pada tahun 1884. Namun sampai akhir abad 19, toko-toko yang dibangun sepanjang Jalan braga tak ubahnya dengan warung. Perombakan drastis bangunan- bangunan sepanjang jalan tersebut yang dilakukan setelah tahun 1920-an, telah melibatkan para arsitek. Antara lain tercatat bangunan-bangunan hasil rancangan RA de Waal, Bennink, Brinkman, Gmelig Meyling, Trio arsitek Bel-Kok & Piso, namun yang paling banyak adalah karya dua bersaudara arsitek Prof Ir Richard LA Schoemaker dan adiknya, Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker. Mereka memberikan sumbangan tidak kecil terhadap arsitektur Kota Bandung.

Salah satu bangunan hasil rancangan Wolff Schoemaker di Jalan Braga adalah Gedung Landmark, bekas toko buku Van Dorp dan gedung bioskop majestic yang dibangun pada tahun 1922. Bangunan itu menampilkan perpaduan antara arsitektur Barat dan indonesia. Pada baigan atasnya dipasang tempelan kepala Kala. Di bagian lain sudut jalan yang merupakan simpang empat dengan Jalan Naripan, arsitek AF Aalbers pada tahun 1935 merancang bangunan yang kemudian dijadikan Dennis Building. ia mengambil bentuk melengkung kurva linier dengan sentuhan gaya art deco. Gedung ini dicirikan dengan bentuk menaranya yang menjulang tinggi yang diletakkan pada sudut perpotongan bidang bangunan. Letak bangunan tersebut lebih mundur sehingga memberi kesan ruang lebih luas. Braga sebenarya masih memiliki daya tarik tersendiri walaupun di sana-sini sudah kehilangan pamornya. kita tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa peran Braga sebagai pusat perbelanjaan telah merosot. Hasil penelitian Prof Djoko Sujarto dari institut Teknologi Bandung (1979) menunjukkan, dari 250 konsumen yang dijadikan responden ternyata hanya 11 persen yang mengganggap Braga sebagai kawasan tempat berbelanja. Selebihnya menganggap Braga sebagai tempat bersantai (24.5 persen), temapt jalan-jalan (33.5 persen) dan tempat sekadar lewat (31 persen).

Padahal pada zaman keemasannya, Braga merupakan pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi kebutuhannya dari Braga. Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya sekadaar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko sepanjang jalan Braga sehingga kemudian muncul istilah “Bragaderen”. Sebelum Perang Dunia Kedua, mereka yang ingin membetulkan jam tangan merek-merek terkenal seperti Rolex, Titoni, Mido, dan Omega, hanya bisa dilakukan di toko Horlogerie Stocker dan PE Huber.

Jalan Braga juga merupakan toko induk, agen tunggal pabrik atau produsen serta distributor barang-barang dari Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya.

Perusahaan Fuchs & Rens yang didirikan tahun 1919, merupakan agen tunggal untuk seluruh Nusantara bagi kendaraan-kendaraan Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, Fargo dan merek kendaraan lainnya. Untuk menutupi rasa lapar dan dahaga, tersedia makanan dan minuman di restoran seperti Firma Kuyi en Vesteeg, Maison Boin, Het Snoephuis atau kafe yang paling banyak diminati Maison Bogerijn. Kafe tersebut kini menjadi resotran Braga Permai. Ide dan gagasan untuk mempertahankan sejengkal Jalan Braga itu sebenarnya sudah sangat sering disampaikan. Sayang, gagasan-gagasan itu lebih banyak tertuang di atas kertas.(her suganda)

Sumber: Harian Kompas, April 2000.

Iklan

%d blogger menyukai ini: