Mewujudkan Kota Tua Jakarta

“SELAMAT pagi. Terima kasih atas kesediaannya menghadiri acara kami hari ini,” sapa Mita Wullur, Manajer Humas Hotel Omni Batavia kepada peserta tur yang diadakan oleh hotel tersebut, 31 Agustus lalu.

Tur ini diikuti sejumlah wartawan dari berbagai media di Ibukota. Perjalanan tur kali ini menyusuri misteri “kota tua” Jakarta, tepatnya di belahan barat dan utara.

Dari gedung Tamara yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, rombongan berangkat menuju Pelabuhan Sunda Kelapa dengan menumpang bus dari Hotel Omni Batavia. Di sepanjang perjalanan, Mita yang bertindak sebagai pemandu perjalanan mencoba menerangkan segala sesuatu yang ada di sekitar jalan yang dilalui. “Tetapi kalau mau bertanya, nanti saja ya… langsung ke Pak Walikota. Sebab kita ditunggu Bapak Walikota Jakarta Barat pada pukul 14.00 di Hotel Omni,” katanya. Tampaknya dia ingat kebiasaan peserta turnya yang wartawan ini. Kami pun tertawa mendengar celotehan tersebut dan suasana pun menjadi tambah hangat dan akrab.

Tak lama kemudian, rombongan mulai memasuki Jl Pancoran di kawasan Glodok. Bus merayap berusaha menembus jalan yang dipenuhi pedagang buah dan makanan. Tiba-tiba ada seseorang di tengah jalan berusaha memberi kode yang melarang bus masuk. Saya pun merasa khawatir karena jalan yang akan dilalui ini sempit sekali karena dipenuhi pedagang di sebelah kanan kiri jalan. Namun Achyar Yahya, sang sopir, memilih sikap untuk maju terus pantang mundur. Demikian pula Mita “Tidak apa-apa kok, kita pasti bisa lewat,” katanya.

Akhirnya ‘pasar’ di tepi jalan ini berhasil dilewati. Kemudian bus berhenti di pinggir jalan yang agak longgar. Beberapa teman turun untuk membuat foto kawasan yang sedang direvitalisasi ini. Kawasan Jl Pancoran ini nantinya akan dijadikan sebagai kawasan pedestrian — kendaraan tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki saja yang diperbolehkan masuk. Sedangkan mobil-mobil pengangkut barang hanya diperkenankan masuk pada malam hari, ketika kawasan ini sepi pengunjung.

Bangunan-bangunan yang ada di sepanjang Jl Pancoran ini kelak akan tetap dipertahankan keasliannya, sehingga tidak akan menghilangkan kesan Kota Tua. “Boleh diubah tapi bagian belakangnya saja, untuk bagian depannya harus tetap seperti semula,” jelas Mita. Setelah puas membuat foto, perjalanan kembali diteruskan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.

Memasuki kawasan yang sedang mengalami pembenahan ini memang agak menjengkelkan. Berada di kawasan ini, sinar matahari terasa sangat menyengat kulit. Selain itu kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut terasa membuat suhu udara terasa semakin meninggi.

Dalam benak saya tergambar, betapa indahnya jika revitalisasi kota di kawasan ini sudah berhasil diselesaikan. Saya bayangkan sebuah kota dengan bangunan-bangunan tua yang megah dan kokoh di sepanjang jalan.

Lamunan saya buyar ketika bus memasuki pintu gerbang pelabuhan. Deretan kapal Phinisi yang berlabuh, seolah menyambut kedatangan kami. Kapal-kapal besar dari kayu yang berderet di sepanjang dermaga mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut tangguh. “Kita jalan ke ujung dermaga. Nanti kita akan naik perahu dan berputar-putar menikmati keindahan pelabuhan laut,” ujar Mita.
Rombongan pun bergerak mengikuti anjuran Mita. Di pelabuhan tersebut terlihat banyak pula wisatawan mancanegara yang hilir mudik menikmati keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang penuh kenangan ini. Mereka datang secara berombongan.

Mendekati ujung dermaga tampak pemilik perahu-perahu kecil berusaha menawarkan perahunya untuk dinaiki. “Ayo, Mas. Perahu saya bisa memuat enam orang. Ongkosnya seribu rupiah per orang,” ujar seorang pemilik perahu kecil itu.

Namun rupanya harapan mereka tidak terkabul. Sebab waktu kami sangat singkat di pelabuhan tersebut. Mengingat masih ada beberapa tempat yang harus dikunjungi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Museum Bahari, di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara. Museum ini cukup lengkap menyajikan berbagai macam informasi tentang kebaharian. Koleksinya pun cukup lengkap baik yang berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia maupun tentang peralatan kapal dari luar Indonesia. Dari museum Bahari perjalanan dilanjutkan ke Museum Fatahillah (atau lebih tepatnya Museum Sejarah Jakarta) dan Museum Wayang yang letaknya berseberangan.

Kawasan ini memang akan selalu membangkitkan kenangan pada masa lalu dari bangsa Indonesia. Kenangan ini tentu bukan hanya akan timbul di benak para wisatawan nusantara yang berkunjung ke daerah ini. Tapi tidak ketinggalan pula pesona kota tua ini akan dapat membangkitkan kenangan terhadap bangsa lain yang pernah menjajah bangsa kita di masa lalu. Apalagi di kawasan kota tua ini juga terdapat berbagai macam museum yang menyimpan segala kenangan tentang perjalanan kota Jakarta. “Banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum kita. Di antara mereka adalah kaum muda dari Belanda yang telah mendengar cerita bahwa pada zaman dahulu bangsanya pernah menjajah bangsa Indonesia. Mereka ingin membuktikan kebenaran cerita tersebut. Salah satu cara adalah datang berkunjung ke museum yang ada di sini,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Museum Bahari M Hutagalung.
Menurut Hutagalung, jumlah pengunjung yang datang ke museum tersebut lebih banyak wisatawan manca negara. Persentase perbandingan jumlah wisman dan wisnu yang berkunjung ke museum tersebut adalah 70:30. “Apresiasi bangsa kita terhadap museum masih sangat rendah,” kata Hutagalung.

Menurut dia, rendahnya apresiasi terhadap museum tersebut terkait dengan belum adanya kesadaran masyarakat tentang arti penting sebuah museum. Selain itu juga masih kurang terawatnya sejumlah museum yang ada saat ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihak pengelola museum saat ini sedang mengusahakan bagaimana caranya untuk membuat agar museum menjadi sebuah pesona yang mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu cara adalah menambah fungsi museum, misalnya dengan membuat sebuah perpustakaan, kafe atau menyelenggarakan pameran dan fashion show.

Tak terasa perjalanan merambah kota tua ini telah menyita waktu setengah hari. Kaki saya mulai terasa pegal. Untunglah, acara kemudian dilanjutkan menuju Hotel Omni Batavia untuk bertemu dengan Wali Kota Jakarta Barat Sutardjianto. Menurut rencana dia akan menjelaskan tentang penataan dan penertiban kawasan “kota tua” Jakarta ini.

Hotel Omni Batavia di Jl Kali Besar Barat ini merupakan hotel yang dipersiapkan sebagai aset wisata penting di kawasan kota tua. Karena itu tak heran bila manajemen Omni Batavia sangat mendukung usaha dalam pelestarian kota tua ini.

Banyak usaha yang telah dilakukan pihak hotel untuk memperkenalkan potensi kawasan kota tua ini. Salah satu usahanya adalah kerja sama dengan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta untuk menyelenggarakan secara berkala sejumlah pameran tentang museum.
Pertemuan dengan walikota Jakarta Barat diadakan di Restoran Lotus Hotel Omni Batavia. Dalam pertemuan tersebut walikota memaparkan bentuk yang ingin dicapai dalam penataan kembali kota tua ini. Tak lupa Sutardjianto juga mengatakan perlindungan kawasan ini bertujuan untuk melestarikan dan memanfaatkannya dalam memajukan kebudayaan Nasional Indonesia. “Kalau tidak kita lakukan sendiri, maka siapa yang akan peduli dengan kota kita ini,” katanya di sambut tepuk tangan hadirin.

Kawasan revitalisasi kota tua di Jakarta seluruhnya seluas 139 hektare, di Jakarta Barat 88 hektare dan di Jakarta Utara 51 hektare. Masalah utama dalam revitalisasi kota tua ini adalah kemacetan lalu lintas kurangnya sarana parkir, banyaknya gedung di jalur padat lalu lintas dengan frekwensi bongkar muat yang cukup tinggi dan banyak truk angkutan barang diparkir di badan jalan serta banyaknya pedagang kaki lima.

Menurut Sutardijanto, pedagang kaki lima yang selama lebih 30 tahun memenuhi dan menutup jalan umum itu ditawari untuk pindah ke pasar-pasar lain yang selama ini kosong. “Tugas pemda adalah bagaimana memfungsikan kembali jalan-jalan yang dipenuhi pedagang kaki lima sebagai jalan umum,” katanya. (TT\W-2).

Sumber Media Indonesia, Selasa, 3 September 1996.

Iklan

%d blogger menyukai ini: