Arsip untuk ‘Rumah Ibadah’ Kategori

Chandra Nadi, Klenteng Tertua di Palembang

Oktober 10, 2005

Keberadaan Kampung Kapitan dan sejarah masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Dewi penyembuh

Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.

Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.

Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.

Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Kini setelah 272 tahun berdiri, Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (eca)

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005

Wisata Gereja Tua Jakarta – Menggali Memori lewat Rumah Ibadah

Januari 9, 2005

JAKARTA – Gereja tua bukan saja sebagai rumah Tuhan umat Kristiani, namun juga mampu berperan sebagai kenangan di tengah modernisasi kota. Dari situ, gereja tua bisa jadi pengorek memori histori yang andal. Itu sebabnya, pelestarian gereja tua perlu mendapat perhatian. Sayangnya gereja tua ini terkesan hanya sekadar pajangan. Pasalnya pada hari kerja hanya dikunjungi wisatawan asing saja.

Sebagian besar warga kota hanya memandang gereja tua sebagai rumah ibadah. Ibarat penyakit menahun, pandangan sempit ini tak pernah pupus dalam diri. Selalu saja membuka jarak dengan posisi gereja tua. Alhasil tak ada keinginan untuk bergaul lebih dekat. Padahal bila ditelusuri, gereja tua mampu menguak sepenggal kisah unik Jakarta.

Bila penasaran, silakan buka catatan sejarah tentang keberadaan gereja tua di Ibu Kota. Saat bedah ilmiah selesai, kenapa tak mencoba melihatnya dari dekat? Membuktikan apakah catatan itu masih valid, atau malah sudah harus direvisi. Dengan cara ini, dijamin kita bakal terseret ke dalam permainan sejarah metropolitan ini.

Gereja Sion bisa jadi contoh pembuka. Gereja yang terletak di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya ini punya segudang memori. Dari kisah pembuatan, kemegahan arsitektur hingga kiat bertahan di tengah laju modernisasi kota.

Adolf Heuken SJ – pengamat sejarah Jakarta – menyebutkan, dulu Gereja Sion ini disebut Gereja Portugis. Gereja ini punya nama Belanda, Portugeesche Buitenkerk. Artinya, Gereja Portugis di luar (tembok) Kota. Semasa Kompeni menguasai Batavia, dibangun tembok tinggi sebagai batas kota. Sampai awal abad ke-19 masih ada gereja Portugis lainnya, yang ada di dalam kota.

”Mulai tahun 1957, oleh sinode (rapat akbar), gereja ini resmi disebut Gereja Sion,” tutur Hadikusumo, kepala tata usaha Gereja Sion. Sion berasal dari bahasa Israel dan merupakan lambang bukit keselamatan. Jadi dipilih nama Sion dengan harapan, setiap jemaat akan diberkati sehabis beribadah di sini.

Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja.

Gereja dibangun dengan fondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Konstruksi ini berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. ”Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas,” cerita Hadikusumo, pria ramah asal Yogyakarta.
Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32 meter persegi. Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18 meter persegi. Gereja mampu menampung 1.000 jemaat. Sedang luas tanah seluruhnya 6.725 meter persegi.

Menurut Heuken, Gereja Portugis termasuk gereja bangsal (hall church). Gereja ini membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang.

Interior
Boleh dibilang Gereja Portugis merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan. Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang sama juga. Sudah pasti, gedung ini termasuk bangunan budaya yang amat bernilai. Dari catatan Heuken, Gereja Portugis pernah dipugar pada 1920 dan sekali lagi pada 1978.

Jika melongok ke bagian dalam, ada mimbar unik bergaya Barok. Salah satu perabot asli gereja ini merupakan persembahan indah dari H. Bruijn. Letaknya ada di bagian belakang bersama bangunan tambahan. Mimbar ini bertudung sebuah kanopi, yang ditopang dua tiang bergulir dengan gaya rias Ionic serta empat tonggak perunggu.

Beberapa kursi berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih juga dipakai. Dilengkapi meja kayu, kursi-kursi itu dipakai untuk kepentingan rapat gereja. Tak ketinggalan acara sidang pencatatan sipil bagi anggota jemaat yang akan menikah secara gerejawi.

Selain itu, ada organ seruling (orgel) gereja yang sampai sekarang masih terawat baik. Organ ini diletakkan di balkon yang disangga empat tiang langsing. Kata Hadikususmo, organ pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor ini terakhir kali dipakai pada 8 Oktober 2000. Waktu itu, komponis Marusya Abdullah Nainggolan memainkan organ untuk mengiringi ibadah Minggu.

Gereja Sion dibangun sebagai pengganti sebuah pondok terbuka yang sangat sederhana. Pondok ini sudah tak memadai bagi umat Portugis yang berasal dari Malaya dan India untuk beribadah di zaman baheula itu. Sebagai tawanan, mereka ini dibawa ke Batavia oleh perusahaan dagang termasyhur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku.

Dari catatan sejarah, Gereja Sion beberapa kali sempat terancam. Pada masa pendudukan Jepang, bala tentara Dai Nippon ingin menjadikan gereja ini tempat abu tentara yang gugur. Tahun 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

Soal perawatan, Hadikusumo hanya menyebut satu sumber, sumbangan para jemaat. Berkurangnya wilayah hunian sekitar gereja mau tak mau mengurangi sumber pendapatan. Itu sebabnya, Hadikusumo berharap ada campur tangan Pemerintah dalam memelihara gereja. Padahal, bila melihat buku tamu, setiap hari gereja yang dilindungi lewat SK Gubernur DKI Jakarta CB/11/1/12/1972 ini selalu dikunjungi wisatawan mancanegara. Kebanyakan mereka datang dari wilayah Eropa, seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Austria, Prancis, Denmark, Swedia dan lainnya.

Dari Gereja Sion, kita bisa mengarahkan tujuan ke daerah Pejambon, tepatnya Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Di sini, ada sebuah gereja tua yang berdiri gagah di seberang stasiun kereta, Gambir. Gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia ini disebut Gereja Immanuel.

Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Tepat empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini ditahbiskan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda. Pada gedung gereja dicantumkan nama ”WILLEMSKERK”.

Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah.

Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Organ yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di Negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, organ ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.
(SH/bayu dwi mardana)

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/014/wis01.html

Gereja Katedral Ujung Pandang

Januari 9, 2005

Gedung gereja katolik tertua di kota Ujung Pandang dan wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara ini, didirikan pada tahun 1898, pada permulaan masa kedua (1892 – sekarang) kehadiran Gereja Katolik di Makassar (masa I : 1525 – 1668). Maka sejarah bangunan ini sekaligus merupakan sejarah Gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Masa I : 1525 – 1668 pertama kali disinggahi 3 pastor misionaris asal Portugal (Pastor Antonio dod Reijs, Cosmas de Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder) pada tahun 1525. Namun baru pada 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan tinggal menetap di Makassar untuk melayani para saudagar Portugis yang Katolik serta beberapa raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang juga sudah dibaptis Katolik; saudagar kayu cendana Portugis, Antonio Payva, berhubungan baik dengan Raja Suppa dan Raja Pangkajene.

Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam (22 September 1603), Sultan Alauddin (1591-1638) dan beberapa raja penggantinya seperti Sultan Mohamed Said memberi kebebasan kepada orang-orang Katolik mendirikan gereja (1633). Atas anjuran Sultan, Bangsawan Karaeng Pattingaloang yang juga seorang intelektual banyak bekerja sama dengan misionaris, juga seorang intelektual banyak bekerjasama dengan misionaris, juga dalam bidang ilmu pengetahuan.

Milles seorang sejarawan yang tidak Katolik dalam catatannya pada tahun 1560, menulis bahwa ada sekitar 50.000 orang Katolik di pulau-pulau bagian timur.

Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC (1641). 40 imam dan sekitar 20.000 orang Katolik diperintahkan meninggalkan Malaka; sekitar 3.000 orang dan beberapa Pastor pindah ke Makassar (1649). Demi monopoli dagang VOC (perjanjian Batavia, 19 Agustus 1660) mengharuskan Sultan Hasanuddin mengusir semua orang Portugis dari Makaasar (1661); Sultan mengatur dengan baik keberangkatan orang-orang Portugis itu, dan atas bantuan Sultan baru pada 1665 Pastor Antonio Francesco, pastor terakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio Francesco, pastor teakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio de Torres yang mengasuh suatu sekolah kecil untuk anak laki-laki meninggalkan Makassar pada 1668 karena pecahnya perang. Sejak itu selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar, orang-orang Katolik yang masih ada, hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.

Masa II: 1892 – sekarang. Tahun 1892, Pastor Aselbergssj, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal pada suatu rumah mewah di Heerenwerg (kini Jl. Hasanuddin); 1895 di beli tanah dan rumah di Komedi straat (kini Jl. Kajaolalido, yang adalah tempat gedung gereja sekarang. Gereja dibangun pada tahun 1898 selesai 1900; direnofasi dan diperluas pada tahun 1939, selesai pada 1941 dengan bentuk seperti sekarang.

Pada Tanggal 19 Nopember 1919 misionaris Jesuit diganti oleh misionaris MSC, ketika dibentuk Prefektur Apostolik Sulawesi, dengan Mgr. Vesters sebagai prefek yang berkedudukan di Manado. Pada Tanggal 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Pada tanggal 13 mei 1948 menjadi Vikoriat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar, sampai sekarang : Mgr. Nicolaus Martinus Schneiders cicm (1961 – 1973), Mgr. Dr. Theodorus Martinus Schneiders cicm (1973-1981), Mgr. Dr. Frans van Roessel cicm (1981/1988 – 1995), Mgr. Dr. John Liku-Ada pr. (1995 – sekarang). Sejak gereja ini menjadi Stasi dan Paroki (7 September 1892) sampai (19 Oktober 1997), ada 61 pastor yang pernah melayaninya (pastor paroki dan pastor pembantu), ada 14.860 orang baptis, dan 2567 pasangan pengantin diberkati di gereja ini

Sumber: http://www.geocities.com/capitolhill/5796/sejarah1.htm

Kelenteng Wan Ji Sie Jakarta

Januari 7, 2005

Sejarah Kelenteng Sentiong (Kelenteng Kuburan Batu) atau Kelenteng Wan Jie Si, sama sekali berbeda. Kelenteng ini terletak di Jl. Lautze no. 38 dan dalam bahasa Indonesia disebut Vihara Buddhayana. Sejarah bangunan ini menjelaskan banyak segi unik dari kelenteng ini yang sama sekali tidak tampak seperti bangunan Tionghoa. Kenapa?

Pada tahun 1736 Frederik Julius Coyett, seorang anggota Dewan Hindia, mendirikan sebuah rumah peristirahatan dalam taman luas diluar Kota. Rumah ini dibangun disisi barat ‘Jalan raya ke selatan’ yang kini disebut Jalan Gunung Sahari. Pada tahun 1733 F.J. Coyett mengepalai sebuah utusan resmi ke Istana Susuhunan di Kartasura. Anggota rombongannya C.A. Lons, mengunjungi reruntuhan candi Prambanan dan dua patung Buddha dari Kalasan. Ia menghadiahkan patung- patung itu kepada tuannya, Coyett. Sumber lain mengatakan bahwa Coyett membawa patung-patung itu dari Srilangka juga. Ia memasang beberapa patung pada tembok rumah barunya, dan tempat lain dalam kebunnya yang luas. Patung-patung ini akan memainkan peranan penting dalam sejarah masa depan rumah ini.

Pada hari terakhir hidupnya (1736) Coyett yang tidak mempunyai anak menikah dengan G.M. Goossens, Wanita cantik dan kaya. Dia adalah janda M. Westpalm, yang batu nisannya dapat dilihat di Taman Prasasti. Tahun berikutnya Ny. Goossens menikah lagi dengan Johannes Thedens, Gubernur Jendral Batavia 1740-1743. Ny. Goossens menjual rumah dan kebun yang diwarisi Coyett itu beberapa tahun sebelum meninggal. Rumah besar itu berganti-ganti pemilik lagi sampai diperoleh oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel (1761).

Pemilik rumah berikutnya Simon Josephe membeli rumah Sentiong sebagai obyek spekulasi semata. Ia menjualnya dengan harga mahal kepada Kapten Tionghoa Lim Tjipko. Dalam ‘Kronik Sejarah Tionghoa’ di Batavia dicatat:

Pada tahun 1760 kapten kaum Tionghoa bersidang bersama letnan-letnannya guna memperoleh pekuburan baru. Mereka meminta semua warga memberi sumbangan untuk mendapatkan ‘taman gubernur’ di Golong Sari (Gunung Sahari), dimana terdapat kelenteng Buddhis dengan banyak patung dari batu, yang dahulu dibuat oleh orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa bergembira, bahwa mereka dapat membeli tanah ini …

Pada tahun 1888 rumah ini menjadi milik resmi Gong guan atau ‘Dewan orang-orang Tionghoa’. Dua segi khas kelenteng ini perlu diperhatikan. Kelenteng ini semula dibangun sebagai rumah peristirahatan Belanda, dan kini dewa-dewa Hindu-Jawa disembah dalam sebuah kelenteng yang pada dasarnya Buddhis.

Karena rumah peristirahatan Belanda ini menjadi kelenteng Buddhis pada akhir abad ke-18, maka tiada lagi barang-barang antik, selain patung-patung tersebut yang mungkin berasal dari abad ke-8 atau ke-10.

Sebuah tambahan yang menarik pada Kelenteng Wan Jie Si ini telah dibongkar. Diseberang pintu masuk, dihalaman Club Indonesia AA, sejak awal abad ini pernah terdapat Kramat Kuda, sebuah keramat kecil, tempat pemujaan sinkretis. Sebuah patung Dewa Hindu Kuwera dari abad ke-10 ditemukan kembali di tempat ini pada tahun 1904 diantara akar-akar sebuah pohon besar. Pada tahun 70-an patung tersebut hilang begitu saja. Pada umumnya, barang-barang kuno yang bertalian dengan ibadat Hindu dan Tionghoa di Jakarta belum dipelihara dan dilindungi sebagaimana mestinya.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/wanjisie.htm

Kelenteng Da Bo Gong Jakarta

Januari 7, 2005

Meskipun seusia dengan kelenteng Jin-de Yuan di Glodok, Kelenteng Da-ba-gong (Kelenteng Ancol) mempunyai latar belakang yang berbeda. Kelenteng ini dalam bahasa Tionghoa disebut Da-bo-gong miao atau Kelenteng Da-bo-gong. Dewa Da-bo-gong identik dengan dewa yang telah disebutkan dalam hubungan dengan kelenteng Jin–de yuan, yaitu Fu-de zheng-shen, ‘Dewa bumi dan kekayaan’. Biasanya Da-bo-gong digambarkan bersama istrinya (Bo-pong). Dari Da-bo-gong atau Toa-pe-kong (lafal Hokien) muncul istilah bahasa Indonesia untuk patung–patung dewa Tionghoa, yaitu ‘topekong’.

Terdapat dua kelenteng lain teruntuk dewa yang sama, yaitu kelenteng di Tanjungkait (dari sekitar tahun 1792) di utara Tangerang dan kelenteng You-mi-hang-hui di Jl. Pejagalan II (dari tahun 1823).

Ada sesuatu yang mengherankan mengenai kelenteng ini. Orang Tionghoa tidak boleh membawa daging babi kedalam pekarangan kelenteng. Mengapa? Ini bertautan dengan ciri khasnya: Kelenteng Ancol adalah tempat keramat ganda. Pada zaman dahulu, orang Tionghoa dan orang Islam keduanya beribadat ditempat yang sama. Jadi tempat ini merupakan kelenteng Tionghoa dan sekaligus tempat keramat bagi orang Islam. Tempat keramat ganda seperti kelenteng Ancol, juga ditemukan di Semarang (Gedung Batu) dan Palembang (Pulau Kemarau).

Ada sebuah cerita yang patut disimak tentang kelenteng ini.
Suatu ketika seorang jurumudi jung Tionghoa tiba ditempat ini dan jatuh cinta dengan seorang ronggeng sunda. Karena wanita ini seorang Muslimat, maka sebelum menikah mereka berjanji satu sama lain, bahwa mereka tidak akan pernah makan daging babi yang dianggap haram oleh kaum Muslim dan petai yang oleh orang Tionghoa totok dianggap menjijikan karena baunya. Itulah sebabnya para dewa akan marah jika seseorang membawa kedua jenis makanan tersebut kedalam kompleks kelenteng.

Suatu hari juru mudi tersebut hendak berlayar jauh, maka ia menyuruh seorang yang bernama Kong Toe Tjoe Seng membangun sebuah kelenteng dan menjaganya selama seratus tahun. Tetapi sebelum kelentang ini selesai, juru mudi tersebut dan istrinya Sitiwati meninggal. Mereka dikuburkan dalam kelenteng bersama-sama dengan adik istrinya Ibu Mone. Nama tiga orang ini terdapat dalam ruang utama pada altar-altar dengan beberapa patung. Tetapi terdapat sebuah makam lain tanpa patung, yaitu makam pembangun kelenteng Kong Toe Tjoe Seng. Sebelum meninggal ia berubah bentuk menjadi Toa Pekong atau Da-bo gong, inkarnasi dari Dewa Bumi, dewa utama kelenteng Ancol.

Majikan juru mudi tersebut disebut Sampo Toa Lang atau Sampo Tai Jin, yang diartikan oleh orang setempat sebagai ‘Yang Dituankan’ atau ‘Orang Tersohor’. Dia mendaratkan kapalnya dekat Semarang di Jawa Tengah antara tahun 1405 dan 1413. Jangkar kapal ini dipertunjukan di kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu di Semarang. Inilah pokok tradisi kedua kelenteng ini.

Ruang utama kelenteng ini dipersembahkan kepada Da Bo Gong dan istrinya Bo Pong, keduanya dipandang sebagai wujud sepasang suami-istri yang dikuburkan disana. Disebelah kanan tampak patung Wang Zhu Cheng, seorang perwira yang katanya ditinggalkan Laksamana Zheng Ho. Laksamana ini dikenal sebagai Kasim atau Sida-sida Agung dari Zaman Wangsa Ming, yang didewakan sebagai Sampo Tai Jin di Kelenteng Gedung Batu di Semarang. Zheng Ho adalah putra seorang haji dan banyak perwiranya yang beragama Islam juga. Hal ini dapat menerangkan sifat ganda Kelenteng Ancol.

Sebatang papan kayu horisontal dari tahun 1756 memuat nama serta jabatan tokoh-tokoh Tionghoa di Batavia sesudah pembantaian massal tahun 1740. Papan ini dapat dilihat diatas altar utama dalam ruang utama. Salah satu dari papan nama yang terpasang diatas meja besar pada pintu masuk bahkan lebih tua, yakni dari tahun 1755. Masih terdapat banyak papan dari kayu dan batu dalam kelenteng ini dan kebanyakan berasal dari abad ke-19.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/jindeyuan.htm

Kelenteng Jin De Juan Jakarta

Januari 7, 2005

Sekitar tahun 1650 letnan Tionghoa Guo Xun-guan mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan-yin di Glodok. Guan-yin adalah dewi belas kasih Buddhis, yang lazim dikenal sebagai Kwan-Im. Kelenteng tersebut dinamakan Guan-yin Ting atau Kelenteng Kwan-Im. Kata Tionghoa ‘yin ting’ ini diubah kedalam bahasa indonesia klen-teng, yang kini menjadi istilah lazim bagi semua tempat ibadat Tionghoa di Pulau Jawa.

Pada tahun 1755 seorang kapten Tionghoa menamai kembali kelenteng yang telah dipugar itu dengan nama Jin-de Yuan – Kelenteng “Kebajikan Emas”. Orang setempat menyebut kelenteng ini Kim Tek I. Pada dasarnya kelenteng ini bercorak Buddhis, dahulu delapan belas orang biksu tinggal di kelenteng ini. Namun demikian, beberapa unsur Taois ditemukan juga.

Jika kita berdiri di halaman luar yang dikelilingi tembok – setelah melewati pintu gerbang pertama di selatan – disebelah kiri terdapat tiga kelenteng sekunder dan modern: Hui-ze Miao (kelenteng untuk leluhur Hakka), Di-cang-wang Miao (dipersembahkan kepada Raja Neraka) dan Xuan-tan Gong atau Vihara Dharma Sakti, yang dipersembahkan kepada dewa pemberi kekayaan. Lalu, kita masuk kehalaman kedua dimuka kelenteng utama dan melihat dua singa (bao-gu shi) yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok Selatan (1812). Sebuah pembakar kertas (uang kelenteng) yang disebut jin-lu, berdiri di bawah atap bertingkat. Jin-lu tertua ini sekarang diletakan di halaman belakang. Pada alat itu tertera dibuat di Kwangtung pada tahun 1812.

Gedung utama Kelenteng Jin-de Yuan rupanya dibangun sesudah tahun 1740, karena kelenteng yang lama ikut dihancurkan pada tahun itu. Ujung-ujung atap gedung induk dengan genteng yang bagus melengkung keatas, dihiasi dengan naga-naga dan berbagai patung porselin. Bagian muka kelenteng ini agak rumit. Pintu ganda utamanya dilukisi gambaran penjaga (men-shen). Kedua jendela bundar dari ukiran kayu yang tembus pandang, melambangkan qi-lin, binatang menakjubkan yang menyerupai kuda bercula satu. Binatang ini dianggap lambang keberuntungan yang luar biasa. Gambar timbul modern disebelah kanan dan kiri melukiskan burung phoenix dan naga, simbol kaisar dan ratu. Empat lentera menghiasi ruang depan ini. Tulisan horisontal pada papan kau diatas pintu masuk menunjukan nama kelenteng ini. Diatas pintu masuk disebelah dalam, didalam sebuah kotak tampak patung San-yuan, Kaisar Tiga Dunia. Patung dewa Taois ini mungkin berasal dari abad ke-17.

Diruang tengah – ta tieng – tampak banyak patung buddhis yang berkualitas baik, namun berasal dari sebelum tahun 1740. Pada tembok kanan dan kiri bagian tengah dipasang kotak berkaca dengan delapan belas patung Arahat atau Luohan. Tiga patung besar dibelakang patung Kwan-Im pada tembok belakang melambangkan San-zun Fo-zu, semacam tritunggal Buddhis, yang disertai sejumlah patung lebih kecil, yang sebagian berasal dari abad ke-18.

Dalam gedung samping kiri terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Nama mereka masih tertulis pada beberapa lempeng batu. Dalam kamar pertama terpasang altar paling tua dari seluruh kelenteng. Kamar kedua diisi dewa Taois Fu-de Zheng-shen (atau Hok-tek Tjen Sin) – Dewa bumi dan kekayaan. Dialah dewa yang paling dihormati di Jakarta, karena orang Tionghoa pada jaman dahulu bekerja sebagai pedagang dan petani.

Di gedung belakang, dalam kamar sembahyang tengah, terdapat patung seorang dewa setempat yang dihormati. Nama dewa itu Tikhai tjindjin atau Ze-hai Zhen-ren – ‘Penjaga abadi pelindung laut&’. Nama sesungguhnya adalah Kwe Lak Kwa, seorang pedagang. Sebuah lonceng buatan tahun 1825 dipojok kanan halaman belakang merupakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Akhirnya di sayap kanan, dua kamar sembahyang diisi sebuah altar untuk menghormati Qing-shui Zu-shi, ‘Tuan karang terjal yang disebut Qing-shui Yan’. Nama sesungguhnya Chen Pu-zu dan dihormati juga di kelenteng Tanjungkait di utara Tangerang.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/jindeyuan.htm

Kelenteng Boen Tek Bio, Tangerang

Januari 7, 2005

Berbicara tentang Kelenteng Boen Tek Bio (Padumuttara) tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang.

Mengenai kedatangan orang Tionghoa pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan. Perahu rombongan Halung terdampar dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.

Rombongan Halung ini membawa tujuh kepala keluarga dan diantaranya terdapat sembilan orang gadis dan anak-anak kecil. Mereka kemudian menghadap Sanghyang Anggalarang untuk minta pertolongan. karena gadis-gadis yang ikut dalam rombongan itu cantik-cantik, para pegawai Anggalarang jatuh cinta dan akhirnya kesembilan gadis itu dipersuntingnya. Sebagai kompensasinya, rombongan Halung diberi sebidang tanah pantai utara Jawa di sebelah timur sungai Cisadane, yang sekarang disebut Kampung Teluk Naga.

Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. VOC yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama: Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren dsb. Disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

Berdirinya Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan sekitar tahun 1750. Para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang.

Sebagai tuan rumah kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Selain Dewi Kwan Im di sebelah kiri dan kanan kelenteng ini juga dibangun tempat untuk dewa-dewa lain. Berbeda dengan kebanyakan kelenteng yang ada di Indonesia maupun yang ada di negri Tiongkok, Kelenteng Boen Tek Bio mempunyai satu tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yaitu apa yang dikenal dengan nama Gotong Toapekong. Setiap 12 tahun sekali yaitu saat tahun Naga menurut kalendar China, didalam Kota Tangerang berlangsung arak-arakan joli Ka Lam Ya, Kwan Tek Kun dan terakhir Joli Ema Kwan Im. Pesta tahun Naga ini dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai dan Wayang Potehi yang berhasi menyedot ribuan pengunjung. Pesta ini terakhir kali diadakan tahun 1976.

Disamping acara gotong Toapekong, sejak tahun 1911 para umat Boen Tek Bio menyelenggarakan pesta Petjun yang diadakan di Kali Cisadane, yaitu perlombaan balap perahu naga. Perlombaan ini berlangsung sekitar bulan Mei-Juni saat musim kemarau dimana air sungai jernih dan tenang. Setelah peristiwa G-30 S/PKI, acara Petjun dilarang pemerintah.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/boentekbio.htm

Kelenteng Sam Po Kong, Semarang

Januari 7, 2005

Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana China bernama Zheng Ho (Cheng Ho) atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, didalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Menurut cerita, Laksamana China bernama Zheng Ho sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa, Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. karena ia tertarik dan merasa tenang ditempat itu, ia memutuskan untuk sementara waktu beristirahat dan menetap ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Konon, setelah Zheng ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng Ho memberikan pelajaran bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng Ho memberikan pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur – nenek moyang.

Sehingga setalah Zheng Ho meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng Ho guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.

Siapakah Zheng Ho ?

Dalam buku Amen Budiman ‘Semarang Riwayatmu Dulu I’ halaman 10 ditulis bahwa Zheng Ho adalah seorang Islam, dilahirkan di daerah K’un Yang di kawasan Yunnan tengah. Dari sebuah batu bersurat yeng terukir diatas makam ayahnya yang berada didaerah itu dapat diketahui bahwa ayahnya adalah seorang Ha-tche, sedang nama keluarganya adalah Ma. Seperti juga ayahnya, kakeknya juga disebut Ha-tche. Adapun nama Ha-tche tidak lain adalah merupakan salinan dari kata Haji. Dengan demikian jelas sekali, bahwa baik ayah maupun kakek Zheng Ho adalah orang Islam dan Telah menunaikan rukun Islam yang kelima.

Menurut Ir. Setiawan dalam bukunya ‘Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang’, dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid.

Zheng Ho mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng Ho lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai Kam. Karenanya Zheng Ho sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.

Meskipun diatas disebut bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya.

Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/sampokong.htm

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dengan Gaya Arsitektur Cina

Januari 20, 2004

MENCARI bangunan seperti kelenteng yang bergaya arsitektur Cina tentu tidak sulit di beberapa daerah di Indonesia. Namun, masjid yang berarsitektur Cina pastilah jumlahnya sedikit sehingga sulit ditemukan. Lalu, di mana gerangan masjid dengan gaya arsitektur Cina itu?

Kalau berkunjung ke Kota Surabaya, anda akan menemukan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang dibangun dengan arsitektur Cina. Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri, menjadi satu di antara tiga mesjid di Surabaya yang disarankan oleh Dinas Pariwisata Surabaya untuk mendapatkan prioritas sebagai objek wisata rohani maupun wisata umum. Dua masjid lainnya, masing-masing Masjid Ampel yang termasuk masjid tertua di Surabaya serta Masjid Agung Surabaya (MAS).

Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo , Ustad Drs H Burnadi ketika menerima rombongan ibu-ibu yang secara khusus melakukan silaturahmi Sabtu pekan lalu menuturkan, memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan,”kata ustadz yang memiliki nama asli Tjhia Sin Hak ini.

Sedangkan untuk memperingati Imlek, menurut Burnadi tidak ada peringatan secara khusus, karena masjid ini sebagai tempat ibadah. ”Kalau ada warga keturunan yang mau melakukan sujud syukur di masjid ini, selalu terbuka,” katanya.

Dia menjelaskan, Masjid Muhammad Cheng Hoo selalu terbuka untuk semua golongan. Burnadi menyebut contoh ketika masjid dipergunakan untuk Sembahyang Tarawih pada bulan Ramadhan, para jemaahnya melakukan sholat 11 rakaat dan 23 rakaat secara berurutan. (Sholat sebelas rakaat dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sedangkan sholat 23 rakaat dilakukan oleh Muhammadiyah).

Setiap Jumat tuturnya, masjid ini tidak mampu menampung luberan jamaah yang melakukan sholat Jumat. Karena itu, Takmir menyiapkan tenda dalam ukuran sebesar dua kali lapangan bola basket.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yeng terletak di jalan Gading, tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kusumabangsa, Surabaya ini, merupakan masjid pertama yang dibangun dengan gaya arsitektur Cina di abad ke-20 ini, mirip Klenteng tempat ibadah umat Tri Dharma.

Masjid ini bernaung dibawah Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) d/h Persatuan Islam Tionghwa Indonesia) Korwil Jawa Timur. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang memiliki areal seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 orang jemaah ini, memang terletak pada arsitekturnya.

Mirip Nie Jie Beijing

Rancangan awal Masjid Cheng Hoo diilhami dari bangunan Masjid Nie Jie di Beijing. Warna-warna merah , kuning dan hijau sangat menonjol membalut bangunan masjid, mulai dari dinding, pilar, genteng.

Selintas seperti sebuah bangunan klenteng. Tetapi sebuah bedug berukuran sedang di teras menunjukkan ciri khas masjid.

Arsiteknya Ir Aziz dari Bojonegoro kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasn dan Pembangunan masjid dari PITI (Perhimpunan Iman Tauhid Indonesia) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Bangunan utama memiliku ukuran sebelas kali sembilan meter. Disamping itu terdapat delapan sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran atau angka-angka itu menurut Sekretaris Korwil PITI Jatim, H.S.Willy Pangestu kepada Pembaruan, memiliki mana tersendiri. Angka sebelas untuk ukuran Kakbah saat baru dibangun. Angka sembilan melambangkan Wali Songo yang menjebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sedangkan angka delapan, melambangkan Pat Kwa atau keberuntungan dan kejayaan.

Masjid yang dibangun mulai 10 Maret 2002 ini dengan mempergunakan bahan baku lokal ini, selesai pada 13 Oktober tahun 2002 lalu dengan beaya sebesar Rp 700 juta. Mengenai arsitektur khas Cina yang menjadi pilihan menurut Willy, tidak terlepas dari era keterbukaan yang mulai mengijinkan peringatan Imlek serta berbagai bentuk kesenian Cina ditampilkan kembali.

Nama Muhammad Cheng Hoo, menurut Willy sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee atau dikenal dengan nama Ma Zheng He. “Bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih dikenal dengan nama Sam Poo Kong bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang,”katanya.

Ekspedisi Laksamana HM.Cheng Hoo ( tahun 1405 – 1433 M) untuk keliling dunia membuka “Jalur Sutera dan Keramik”, selalu melintasi Indonesia. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi antara lain, Pulau Jawa, Palembang, Aceh, Lamuri, Batak, Lide, Pulau Aru, Tamiang, Pulau Brass, Pulau Lingga, Kalimantan, Pulau Gelam, Pulau Karimata, Beliton.

Bahkan di Jawa, Panglima perang sekaligus muslim yang saleh, Laksamana H Muhammad Cheng Hoo bersama anak buahnya mendirikan sejumlah masjid dan mushola. Ekspedisinya melewati Indonesia, ketika masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Samboja di Palembang, Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.

Sebetulnya, Cheng Hoo sudah pernah membangun masjid di beberapa tempat dalam perjalanan ekspedisinya lain Masjid di Gedung Batu Semarang yang sekarang dikenal menjadi Klenteng Sam Poo Kong dan beberapa musholla di Ancol Jakarta, Cirebon Jawa Barat, dan di pantai utara Jatim mulai Tuban, Gresik, Surabaya (Klenteng Makam Mbah Ratu) dan di Bangil, Pasuruan.

Willy mengakui PITI Kabupaten Sidoarjo berminat untuk membangun masjid dengan arsitekur Tionghoa. ”Ada gagasan seperti itu, tetapi masih menunggu waktu dan dana yang cukup,” katanya. Kegiatan Imlek menurut Willy bukan milik warga keturunan Tionghoa yang beragama Tri Dharma, tetapi milik warga keturunan Tionghwa dengan agama apapun.”Imlek bukan acara ritual, tetapi merupakan suatu aktifitas budaya, yang belakangan bisa diselenggarakan secara terbuka” katanya.

Willy berharap, Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo ini dapat dijadikan sebagai sentral kegiatan ibadah maupun kegiataan keagamaan lainnya bagi PITI. Misalnya penelitian dan pengembangan dakwah Islamiah, menyelenggarakan Majelis Taklim dan kajian agama, pelayanan kesehatan dan usaha sosial lainnya.

PEMBARUAN/EDI SOETEDJO

Sumber: Suara Pembaharuan Daily, 20 januari 2004

Gereja Sion, Gereja Tertua di Jakarta

Desember 23, 2003

“Gereja tua ini ditopang 10.000 kayu dolken bulat sebagai fondasi bangunan, ya, semacam pasak bumilah untuk ukuran zaman sekarang,” kata Hadikusumo, jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat Sion, Jakarta Barat.

Berkat fondasi itu, kata Hadi, gedung tua ini tetap tegak berdiri sampai saat ini. Bahkan, gempa bumi besar yang menjalar sampai ke Australia Selatan, Sri Lanka, dan Filipina, akibat letusan Krakatau pada Agustus 1883 tak sedikit pun meretakkan gereja ini.

Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.

Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal. “Batu nisan itu berasal dari India dan bernama Koromandel, mungkin nama tempat asal batu itu,” kata Hadi.

Melayangkan pandangan ke altar gereja, hanya keagungan Tuhan semata yang terucap. Betapa tidak, interior Gereja Sion sangat menakjubkan. Terlebih lagi, kanopi berukuran besar dengan bentuk atap menyerupai mahkota, yang konon berasal dari bongkaran Gereja Kubah, Jakarta. Tepat di bawah kanopi terdapat mimbar bergaya Barok, yang hampir serupa dengan mimbar Gereja Katedral. Menurut Hadi, mimbar ini bergaya Katolik yang sekarang jarang digunakan. Ornamen pada sisi bawah mimbar berbentuk kepala malaikat lengkap dengan sayap yang dicat serupa warna kulit manusia.

Bagian depan gereja sisi utara, ada balkon yang memuat orgel gereja. Menurut Hadi, orgel ini hibah putri Pendeta John Maurits Moor, pada abad ke-17. Orgel ini masih dapat digunakan sesuai mekanisme aslinya, hanya saja pemompa orgel kini tak lagi diengkol dengan tenaga manusia. Orgel ini terbuat dari kayu terukir dengan pipa-pipa besi di dalamnya.

Enam tiang besar menopang langit-langit yang berbentuk lengkungan. Ada pula, empat kandelar kuningan, kandil tempat lilin yang kini digantikan lampu bohlam. Kandelar itu dipesan dari India dengan lambang singa, perisai, dan pedang sebagai lambang Kota Batavia. Lantai gereja tersusun dari ubin granit berwarna keabuan.

Menurut skala peta Gunter W Holtorf, Gereja Sion hanya berjarak 200 meter barat kompleks pertokoan Mangga Dua dan bukan mustahil perluasan kompleks Mangga Dua akan merambah ke Gereja Sion. (K01)

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Desember 2003


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.