Arsip untuk ‘Pelestarian’ Kategori

Bandung Lestarikan 637 Bangunan Cagar Budaya

Juni 29, 2007

BANDUNG, SELASA – Sebanyak 637 bangunan tua di Kota Bandung dipertahankan keberadaanya sebagai cagar budaya yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Kota Kembang. “Ke depan tidak akan ada lagi pembongkaran atau perubahan fungsi bangunan cagar budaya di Kota Bandung sehingga keaslian Bandung tempo dulu masih bisa dinikmati,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, HM Askari di Bandung, Selasa (5/12).

Dari sejumlah bangunan tua itu, sebanyak 140 bangunan diantaranya termasuk bangunan yang paling wajib dilestarikan. Pemkot Bandung, lanjut Askari, saat ini tengah mempersiapkan Perda khusus untuk perlindungan bangunan-bangunan tua yang bersejarah di kota itu agar tidak terusik oleh proyek pembongkaran dan perubahan fungsi bangunan. “Kota Bandung akan menjadi kota ketiga di Indonesia yang punya Perda untuk bangunan tua dan bersejarah,” kata Askari.

Dua kota lainnya yang sudah memiliki Perda tentang bangunan bersejarah adalah DKI Jakarta dan Surabaya. Ia menyebutkan, kriteria bangunan cagar budaya itu salah satunya adalah peninggalan Belanda atau bangunan-bangunan yang punya nilai sejarah. “Banyak bangunan-bangunan yang punya sejarah atau pernah didiami oleh pelaku sejarah tempo dulu. Sebagian menjadi milik perorangan meski sebagian milik pemerintah,” kata Askari.

Pelestarian bangunan tua dan bersejarah di Kota Bandung saat ini ditangani oleh Bandung Harritage yang saat ini cukup aktif melakukan sosialisasi dan langkah-langkah untuk mempertahankan bangunan Bandung tempo dulu.

Beberapa kompleks bangunan Bandung Tempo dulu antara lain di bangunan Art Deco di sepanjang Jalan Braga, Museum Mandala Wangsit, Museum Geologi, Gedung Sate, Balaikota Bandung, Pendopo Kota Bandung, dan Gedung Merdeka. “Kesadaran masyarakat yang memiliki atau menguasai bangunan tua itu semakin baik dan cukup mendukung program pemerintah,” katanya.

Sementara ketika ditanya pengaruhnya terhadap kunjungan wisata mancanegara, menurut Askari pengaruhnya cukup besar terutama bagi wisatawan asal Belanda yang cukup banyak datang ke Bandung untuk melihat bangunan-bangunan yang dibuat oleh leluhurnya.

Sumber: Antara
Penulis: Ima

Sumber: Kompas, 29 Juni 2007

Bangunan Kuno Terlantar – Dinas Pariwisata Bertanggung Jawab

April 21, 2006

Purwakarta, Kompas – Upaya pelestarian terhadap bangunan peninggalan sejarah masih menghadapi kendala dana pemeliharaan. Selain itu, minimnya dana kesejahteraan juru pelihara yang selama ini sudah terjadi sejak lama juga harus menjadi inti permasalahan tersendiri. “Sejak tahun 2005, uang pemeliharaan sudah tidak dikirim lagi. Padahal, bangunan harus tetap dijaga kelestariannya dan tidak boleh diubah,” ujar Endang Awali (52), Kamis (20/4).

Endang adalah juru pelihara sekaligus ahli waris Rumah Kuno Citalang, di Desa Citalang, Kecamatan dan Kabupaten Purwakarta. Rumah yang didirikan sekitar tahun 1900 itu, oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai satu dari 149 bangunan dan situs peninggalan sejarah purbakala di Jawa Barat. Namun, dana pemeliharaannya dinilai kurang, bahkan sering terlambat penyalurannya.

Endang menambahkan, ia terakhir menerima dana pemeliharaan dari Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung sekitar pertengahan 2004 lalu. Jumlahnya sebesar Rp 120.000 per bulan. Adapun dana dari pemerintah setempat, ia mengaku belum pernah menerima.

“Kalau dilihat dari besaran uangnya, jelas kurang karena harga-harga kebutuhan sudah melambung jauh. Pengucurannya pun sering terlambat, bahkan berhenti sejak awal 2005 lalu,” ujarnya.

Untuk mengambil dana tersebut, Endang harus datang langsung ke kantor suaka peninggalan sejarah dan purbakala di Serang, Banten, selama tiga bulan sekali. Dengan ongkos transportasi sekarang, lanjutnya, sudah tidak sebanding.

“Kalau tidak bekerja sambilan di sawah, saya pasti sudah tidak sanggup merawat bangunan ini. Untung istri juga bekerja di pabrik,” kata Endang menambahkan.

Soal tanggung jawab

Sementara itu, kondisi bangunan-bangunan peninggalan lainnya di Kabupaten Purwakarta memprihatinkan dan tidak terawat. Kepemilikannya berganti-ganti dan tidak semua pemilik merawatnya dengan baik.

Beberapa bangunan kurang terawat dan dibiarkan rusak itu, misalnya, bekas Bioskop Priangan atau salah satu Gedung Kembar di Jalan KK Singawinata.

RH Garsoebagdja Bratadidjaja (73), sesepuh sekaligus Ketua Dewan Penasihat Badan Musyawarah Putra Daerah Purwakarta, mengatakan, kepedulian pemerintah daerah terhadap peninggalan sejarah masih minim.

Itu terlihat hampir dari periode ke periode pemerintahan. Akibatnya, beberapa bangunan sudah tidak ada, dan beberapa lainnya dibiarkan tidak terawat.

Minimnya perhatian pemerintah itu, lanjutnya, bisa dilihat dari anggaran yang dikucurkan untuk merawat bangunan-bangunan bersejarah. Selain itu juga bisa dilihat dari program-program pelestarian yang dilaksanakan.

Menurut Garsoebagdja, beberapa gedung peninggalan penjajah di- hancurkan oleh pemerintah di zamannya karena minimnya kesadaran akan nilai-nilai sejarah. Peninggalan itu masih dianggap barang biasa yang bisa diganti dengan yang baru.

Upaya melestarikan peninggalan sejarah dari pemerintah daerah, menurut dia, sangat penting. Pemda sebaiknya tidak hanya menginduk pada undang-undang tentang pelestarian benda bersejarah, tetapi juga menerbitkan peraturan daerah. Dinas atau badan terkait, seperti pariwisata dan kebudayaan, mempunyai tanggung jawab besar untuk melestarikan gedung bersejarah. (MKN)

Sumber: Kompas, 21 April 2006

Nasib Gedung Kuno – Peran Serta Masyarakat Masih Sangat Kurang

April 21, 2006

Cirebon, Kompas – Hingga kini, pemeliharaan dan perawatan gedung- gedung tua yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau BCB terkendala masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran.

Untuk itu, perlu partisipasi masyarakat luas guna menjaga kelestarian bangunan-bangunan yang didirikan ratusan tahun lalu itu. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Moch Hanafiah mengatakan, pelestarian BCB seharusnya tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat. “Kalau ada investor yang mau mengelola bangunan-bangunan bersejarah itu, kami akan menerima dengan tangan terbuka,” ujar Hanafiah, Kamis (20/4). Masalahnya, kata Hanafiah, investor pasti tidak mau hanya mengeluarkan uang, tetapi juga memiliki tujuan keuntungan, yakni dengan peningkatan jumlah pengunjung.

Padahal, untuk meningkatkan jumlah pengunjung perlu peningkatan daya tarik. Untuk itu, sangat mungkin diperlukan perubahan, yakni penambahan fasilitas atau pembongkaran di bagian tertentu. “Ini yang sulit, karena sebagai BCB, ia harus tetap seperti aslinya,” kata Hanafiah, Kamis (20/4).

Kepala Seksi Bina Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Adin Imanuddin mengatakan, dulu pernah ada sebuah hotel yang ingin ikut serta dalam membiayai perawatan sebuah keraton sebab keraton itu dimasukkan dalam paket wisatanya. Namun, upaya itu batal terlaksana.

Adin menambahkan, perubahan pada BCB untuk menarik jumlah pengunjung bisa dilaksanakan dengan metode zonasi. “Misalnya saja dibangun tempat bermain anak-anak yang letaknya di dekat BCB,” kata Adin. Sebagai kota tua, banyak bangunan tua yang berdiri di Kota Cirebon. Surat Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 mengenai Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Bangunan Cagar Budaya di Kota Cirebon menetapkan 52 bangunan tua sebagai BCB.

Bangunan itu dibagi dalam tiga klasifikasi tingkat perlindungan, yakni sangat ketat, ketat, dan cukup ketat. Bangunan tua itu, antara lain Gedung Balaikota, Karesidenan, Masjid Al-Athyah, dan Klenteng Talang.

Masalahnya, untuk BCB sebanyak itu, tahun ini Pemerintah Kota Cirebon hanya menyediakan anggaran sekitar Rp 150 juta. “Ini pun sudah meningkat 150 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 60 juta,” ujar Adin.

“Untuk bangunan yang masih digunakan, biaya pemeliharaan dan perawatan kita serahkan pada pemiliknya. Untuk bangunan yang tidak digunakan, ada biaya meski tidak bisa menutup keseluruhan yang diperlukan,” kata Adin.(LSD)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Bangunan Kolonial Terabaikan – Perlu Aturan untuk Melindungi

April 21, 2006

Bandung, Kompas – Keberadaan bangunan peninggalan masa kolonialisme di Kota Bandung terabaikan. Dari ratusan bangunan yang dibangun, hanya 50 bangunan yang tercatat di Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar. Menurut Prama Putra, Kepala Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisional Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Kamis (20/4) di Kota Bandung, dari 50 yang terdata, 60 persen di antaranya terawat dengan baik dan digunakan oleh instansi pemerintah.

Bangunan tersebut antara lain adalah Gedung Sate, Gedung Dwi Warna, Pendopo, Gedung Polwiltabes, Balaikota, Kantor Kodam III Siliwangi, Gedung SD Merdeka, Gedung Sekolah Santa Angela, dan Museum Pos. Ia menjelaskan, banyak bangunan kolonial hilang karena pembangunan, misalnya dibuat mal dan apartemen. “Itu kebijakan pembangunan, lalu yang berubah menjadi factory outlet (FO) juga bukan target kami,” tutur Prama.

Dari Rp 800 juta anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan bangunan lama, baru Rp 6 juta yang dialokasikan untuk bangunan lama. Itu pun untuk biaya rapat penetapan Sekolah Luar Biasa Tunarungu di Jalan Cicendo, Bandung, sebagai bangunan cagar budaya dan pembangunan taman kecil di sekitar tugu sekolah.

Sejumlah bangunan yang pernah berdiri di Kota Bandung dengan nilai arsitektur tinggi kini telah lenyap, antara lain Singer Building di Simpang Lima, kompleks bangunan pertokoan di Naripan, dan gedung bekas Departemen Sosial (Depsos) di Jalan Ciumbuleuit yang kini berubah menjadi pusat pertokoan dan restoran.

Perda

Wakil Ketua Bandung Heritage Society mengatakan, gedung bekas Depsos merupakan satu-satunya bangunan dengan desain berlanggam nautical deco yang sangat langka.

“Sekitar 10 bioskop bergaya art deco juga bernasib sama. Seluruhnya, termasuk Bioskop Oriental, kini sudah menghilang dan berganti dengan mal,” ucap Dibyo.

Dibyo menambahkan, dari sekitar 600 bangunan bersejarah di Kota Bandung yang pernah terdata, sebagian telah berubah bentuk. Sementara, sebagian lainnya, lanjut Dibyo, direstorasi atau direnovasi dan berubah fungsi, seperti Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Heritage Outlet di Jalan Banda. Hilangnya bangunan-bangunan bersejarah, menurut dia, merupakan konsekuensi penataan kota yang tidak berperspektif budaya atau sejarah, tetapi lebih berorientasi komersial. Bangunan bersejarah dikorbankan untuk pembangunan mal atau FO.

Untuk menekan pembangunan fisik yang mengancam eksistensi bangunan bersejarah lainnya, Bandung Heritage Society menggagas dibuatnya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Bangunan Bersejarah di Kota Bandung.

Aturan yang termuat dalam perda itu sebagai rambu bagi pemerintah, investor, maupun pengembang dalam melaksanakan kebijakan tata ruang kota.

“Raperda tidak hanya berisi pelarangan, tetapi juga pemberian insentif berupa pemotongan pajak atau bantuan bagi swasta atau individu yang ikut merawat dan melestarikan bangunan bersejarah,” papar Dibyo. (ynt/jon)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Bekas Gedung Imigrasi Selesai Direnovasi

Februari 14, 2006

Pemprov DKI Jakarta tengah mencari pihak yang dinilai mampu untuk mengelola eks gedung Imigrasi di Jalan Teuku Umar, Jakpus. Gedung yang dibangun 1913 oleh arsitek Belanda, Pieter Adrian Jacobus Moojen, telah selesai direnovasi dan akan dijadikan tempat galeri lukisan. Diharapkan galeri sudah bisa dibuka untuk umum pada pertengahan tahun ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan, mengemukakan hal itu di Balaikota, Selasa (14/2). Ia menjelaskan sudah ada beberapa pihak yang menyatakan tertarik, namun pihaknya belum menentukan pilihan.

Pihak yang dicari, lanjut Aurora, adalah yang mampu mengelola dan sanggup mempertahankan nilai heritage dari gedung yang dulu dibangun sebagai tempat lingkar seni Hindia Belanda. Pengelola, nantinya akan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Aurora mengatakan pihaknya belum memikirkan nama galeri tersebut dan belum memutuskan apakah akan dijadikan galeri murni atau galeri yang dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, seperti kafe.

Sementara soal koleksi lukisan yang akan dipamerkan, Aurora menyebutkan, lukisan yang akan dipajang merupakan lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta. Jumlah lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta saat ini sebanyak 339 buah.

Proses renovasi eks gedung Imigrasi itu berlangsung 3 tahun dan memakan biaya belasan miliar rupiah.

Penulis: Ima

Bangunan Lama di Tanjung Emas Akan Diperbaiki

Desember 22, 2005

SEMARANG – Pelabuhan Tanjung Emas adalah salah satu bandar lama yang menjadi titik simpul penghubung dan penyambung antardaerah di Indonesia, melalui pelayaran dan perdagangan laut.

Bangunan yang ada di bandar itu merupakan benda bersejarah peninggalan penjajah Belanda. Namun saat ini, bangunan-bangunan itu banyak yang tidak terawat karena berusia rata-rata di atas 50 tahun dan rusak akibat air laut.

Dengan alasan tersebut, para pakar dari berbagai disiplin ilmu yang peduli terhadap bandar lama Semarang, membentuk Perhimpunan Pecinta Bandar Lama Nusantara Pusaka Bangsa Cabang Semarang.

Pengukuhan pengurus dilakukan Rabu (21/12) di Gedung Prof Soedharto Kampus Undip Tembalang oleh Menteri Perhubungan M Hatta Rajasa yang diwakili Staf Ahli Menteri Perhubungan Dr Ir H A Razak Manan MSi MM.

“Kita harus menyadari arti penting sejarah dan nilai budaya bangsa. Karena itu, kajian dan pembahasan tentang bandar lama di Indonesia menjadi sangat penting,” tandas Hatta Rajasa dalam pidato yang dibacakan Razak Manan.

Mangkrak

Banyak bangunan bersejarah di kawasan pelabuhan yang mangkrak, akan segera didata dan diharapkan bisa diperbaiki. Razak yang juga ketua umum perhimpunan itu mengatakan, salah satu tugas utama yang diemban pecinta bandar lama setelah dilantik adalah membuat daftar bangunan yang memiliki sejarah di kawasan bandar lama.

Data-data selanjutnya akan dipadukan dengan data Pemkot untuk segera ditindaklanjuti. Karena itu, pihak perhimpunan dalam hal ini akan menggandeng Pemkot agar terlibat dalam pendataan.

“Selain itu, kami akan menganalisis Perda Bangunan Konservasi. Bila dirasa masih ada yang kurang, kami memberikan masukan agar bangunan bernilai sejarah bisa dilindungi,” katanya.

Wakil Wali Kota Machfudz Ali mengatakan, Pemkot akan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan perhimpunan pecinta bandar lama. “Dengan pengumpulan data-data tentang bangunan bersejarah, generasi mendatang bisa tahu dan memahami arti penting sejarah.” Selain itu, apabila bangunan bisa dikelola secara baik dan tetap dilestarikan, diharapkan mampu memacu dunia pariwisata. Mahfudz berharap, perhimpunan itu bisa bekerja secara maksimal untuk melestarikan cagar budaya dan bukan sekadar organisasi dengan papan nama. (sjs-18m)

Sumber: Suara Merdeka, 22 Desember 2005.

Wajah Fungsionalisasi Bangunan Kuno

Desember 9, 2005

Oleh: Tri Agung Kristanto

Bangunan kuno, di mana pun di negeri ini, kerap diidentikkan dengan suasana yang temaram, dinding yang dipenuhi lumut, runtuh pada sebagian bagiannya, dan bernuansa angker. Akan tetapi, bayangan itu sama sekali tidak tampak pada sebuah rumah bergaya art deco yang didirikan tahun 1938 di Jalan Dr Radjiman 501, Solo, Jawa Tengah.

Meski dinding bagian depannya, yang menjadi tempat ”menempelnya” dua pintu gerbang kokoh yang terbuat dari kayu jati, dihiasi tanaman merambat, tidak ada kesan angker. Tak ada dinding yang retak, seperti rumah kuno pada umumnya. Bahkan, memasuki bagian dalam, terasa keramahan rumah keluarga, seperti keramahan warga negeri ini di masa lalu.

Sebagai bangunan bergaya art deco, rumah yang didirikan Ny Poespo Soemarto, saudagar batik dari perkampungan batik solo, Laweyan, langsung menyergap perhatian siapa pun yang datang dengan keindahan ornamen kaca dalam timahnya (kaca patri). Hampir setiap sudut bangunan ini dihiasi ornamen kaca warna-warni yang masih utuh.

Berbagai ornamen kaca patri tersebut semakin mengokohkan citra rumah ini sebagai kediaman orang kaya Solo pada masa lalu, yang elegan dan berselera tinggi. Apalagi, bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1.950 meter persegi itu masih utuh, dengan kelengkapan ruangan seperti ”rumah besar” pada masa lalu di Jawa, yakni mempunyai pendopo, tempat untuk menerima tamu dan melakukan aktivitas lainnya.

”Bangunan rumah ini masih seperti saat didirikan, terutama bangunan induknya. Hampir tidak ada perubahan dari bangunan aslinya, kecuali perubahan fungsi ruangan,” ungkap Supardi, penjaga rumah yang sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1982.

Pendopo kini difungsikan sebagai lobi dan ruang penerima tamu, karena sejak tahun 2001 rumah juragan batik ini difungsikan sebagai rumah makan. Pada tahun 2002 dikembangkan menjadi guest house, bukan hotel, yang hanya menawarkan 13 kamar, dengan nama Roemahkoe Bed and Breakfast. Namun, kamar untuk tamu dan tempat untuk makan itu juga tidak ”merusak” komposisi dan fungsi bangunan induknya.

Selain pendopo, bangunan induk rumah keluarga Jawa pada masa lalu memiliki krobongan. Ruangan untuk keluarga di Roemahkoe sampai kini pun masih dipertahankan, dengan tidak dimanfaatkan untuk ruang apa pun, kecuali sebagai ruang keluarga. Di ruang ini, ”simbol” krobongan masih dipertahankan, yakni adanya lemari kaca ”terbuka” yang menyimpan bantal dan guling.

Bantal dan guling itu menggambarkan kehangatan keluarga. ”Ruangan ini tidak dipakai untuk keperluan lain, selain sebagai simbol ruang keluarga,” ujar Ari Kurniawan, Operation Manager Roemahkoe, pekan lalu.

Tamu dan pengunjung rumah itu hanya boleh memanfaatkan ruangan ini untuk sekadar duduk di atas karpet di depan lemari kaca atau sekadar melihat-lihat. Tidak ada aktivitas lain yang boleh dilakukan.

Krobongan terletak tepat di belakang pendopo. Di belakang krobongan, terdapat sentong. Pada rumah keluarga Jawa pada masa lalu, sentong biasanya dipakai sebagai ruangan tidur kepala keluarga (bapak dan ibu) atau menjadi tempat menyimpan barang berharga, termasuk pusaka dan songsong (payung) untuk keluarga bangsawan.

Sentong di Roemahkoe pun masih dipertahankan, seperti saat didirikan. Namun, tidak ada lagi tempat tidur kepala keluarga di ruangan itu. Ruangan ini kini difungsikan sebagai perpustakaan dan ruang baca. Bukankah buku pun merupakan barang berharga, yang bisa menjadi payung (pelindung) kita dari kebodohan.

”Tamu dipersilakan membaca buku koleksi perpustakaan kami di ruangan ini,” papar Ari. Beranda depan dan samping bangunan induk tetap dipertahankan seperti semula. Fungsi beranda depan, yang pada masa lalu biasanya dipakai menerima kerabat, kini dimanfaatkan untuk ruang duduk tamu. Kalau tamu menghendaki, di ruang ini juga bisa dilakukan konsultasi pawukon (horoskop Jawa) dengan ahli yang diundang pengelola Roemahkoe.

Beranda samping dipertahankan sebagai ruang aktivitas keluarga. Kini di ruangan ini tamu Roemahkoe bisa belajar membatik dengan peralatan, canting dan malam, serta kain yang disediakan pengelola.

Fungsionalisasi ruangan

Dengan mempertahankan ruangan bangunan induk, Roemahkoe memang tidak mempunyai banyak tempat untuk tamu restorannya. Bangunan yang kini dimiliki kakak-beradik Ny Minul Haryanto dan Ny Krisnina Maharani Tandjung itu hanya menyisakan beranda belakang untuk tempat makan tamu.

Tidak banyak tamu yang bisa dijamu. Kapasitas tempat duduk sekitar 50 orang saja. ”Tetapi, kalau mau menggelar standing party, bisa sampai 200 orang yang tertampung,” ungkap Ari lagi. Pesta ini pun hanya bisa memanfaatkan ruang bagian belakang, bukan di krobongan atau sentong.

Jamuannya juga makanan tradisional Jawa, termasuk bisa memesan sayur lodoh pindang yang sudah jarang ditemui. Jika memakai meja makan, memang dimungkinkan memesan aneka steak gaya Eropa. Karena, orang kaya di Solo pada masa lalu pun biasa menikmati steak daging maupun ikan.

Adapun 13 kamar yang ditawarkan untuk disewa menempati bangunan kamar dan (bekas) ruangan lain yang berada di sekitar bangunan induk. Deretan kamar ini membentuk huruf U, di samping kiri-kanan dan belakang rumah induk.

Salah satu kamar yang ditawarkan, royal suite, benar-benar masih menggunakan material bangunan awal Roemahkoe, termasuk lantainya. Bahkan, di kamar ini tamu bisa merasakan tidur di atas tempat tidur kuno, yang masih menggunakan satu per serta berkonstruksi besi batangan yang kokoh, peninggalan Ny Poespo Soemarto.

Supardi mengisahkan, tempat tidur itu adalah ranjang pengantin saudagar batik dan sebelumnya berada di sentong. Di samping kamar royal suite ini, terdapat ruang makan dan bangunan tambahan untuk tempat gamelan, yang dimainkan secara rutin setiap Sabtu malam.

Kamar lainnya adalah (bekas) kamar anak-anak Ny Poespo Soemarto. Sebagian lagi adalah bekas ruang untuk pekerja membatik serta gudang bahan dan hasil batik. Bahkan, Supardi menjelaskan, ada juga kamar yang awalnya adalah lorong koridor dari rumah itu ke rumah lain, di kiri-kanannya, yang dahulu juga dimiliki juragan batik asal Laweyan tersebut.

Ruangan itu, termasuk gudang dan lorong, ditata kembali sehingga kini nyaman menjadi ruangan tidur dengan ornamen dan furniture modern dan klasik. Fungsionalisasi dan pengoptimalan ruangan, dengan tanpa mengubah fungsi maupun komposisi rumah kuno juragan batik Laweyan itu, setidak-tidaknya membuat kita tidak kehilangan sebuah wajah Solo di masa lalu.

Sumber: Kompas, Jumat, 09 Desember 2005

Revitalisasi Kawasan Pusaka di Berbagai Belahan Bumi

November 13, 2005

Penulis: Laretna T. Adishakti

Pembangunan kota tidak jarang meninggalkan kawasan tertentu yang justru mati tanpa sinar kegiatan. Meskipun tanda kehidupan yang pernah berkibar dan mengukir sejarah masih tersisa. Bangunan-bangunan pusaka kumuh tak terurus menjadi penanda.

Ketika ada upaya untuk revitalisasi—membangkitkan kembali vitalitas—banyak benturan dihadapi. Umumnya bermuara pada konsep yang tidak tepat.

Di antaranya: (a) sekadar pemolesan fisik belaka; (b) tidak menyentuh properti individu masyarakat dan roh kawasan; (c) terjebak paradigma bahwa pelestarian pusaka bertentangan dengan pengembangan ekonomi.

Persoalan menghidupkan kembali kawasan pusaka melalui kaidah pelestarian justru harus terpadu dengan pengembangan ekonomi. Di samping partisipasi penghuni yang mutlak perlu.

Konsekuensinya pasti membutuhkan waktu panjang. Karena, revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa.

Berbagai revitalisasi yang telah sukses diupayakan lebih dari 30 tahun di banyak negeri bisa dipelajari. Ada enam pendekatan yang tersarikan menjadi tulang punggung upaya ini.

Pertama, adanya organisasi yang mengelola langsung revitalisasi. Melalui organisasi ini dibangun kesepakatan dan kerja sama antarkelompok dan perseorangan yang berperan serta tahapan pelaksanaan kegiatan di masa depan.

Bentuk organisasi beragam. Di Amerika Serikat, banyak yang langsung ditangani pemerintah setempat. Misalnya Kota Savannah, Georgia; kawasan Society Hill, Philadelphia; kawasan Dupont Circles, Washington, DC, dan lain-lain. Meskipun bermitra juga dengan LSM setempat dan pihak swasta.

Di pihak lain, sejak tahun 1977 Amerika Serikat memulai upaya revitalisasi kawasan komersial yang kemudian dikenal dengan istilah Main Street Program (MSP). Berawal dengan pilot projects di tiga lokasi, kini diaplikasikan lebih dari 1.600 komunitas, tersebar di berbagai negara bagian. Masing-masing komunitas memiliki organisasi pengelola yang independen dan profesional.

Di Jepang, revitalisasi kawasan pusaka umumnya langsung dikelola organisasi penghuni sendiri. Bahkan organisasi yang mengandalkan partisipasi masyarakat (machizukuri) ini telah memiliki jaringan secara nasional dan rutin mengadakan seminar tahunan. Dalam seminar, diadakan pula kunjungan dan dialog langsung dengan penghuni kawasan pusaka setempat.

Sementara revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko, sebuah proyek nasional yang melibatkan banyak lembaga, nasional dan internasional, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan Maroko. Tetapi pengelolaan serta pelaksanaan teknis diserahkan kepada sebuah lembaga independen yang khusus dibentuk, yaitu Ader Fez.

Kedua, dokumentasi dan presentasi yang selalu terbarui. Adalah mutlak dilakukan inventarisasi secara menyeluruh potensi dan masalah kawasan. Termasuk fisik dan nonfisik, baik pusaka atau tidak.

Hasil inventarisasi disusun dalam dokumentasi yang terus diperbarui dan mudah diakses oleh publik. Dokumentasi menjadi dasar pertimbangan aksi revitalisasi. Termasuk memanfaatkan pula sebagai materi promosi. Seperti peta jelajah pusaka, web-site, pameran sepanjang tahun, dan lain-lain.

Di Fez, Maroko, lembaga independen Ader Fez menangani semua dokumentasi dan pembaruannya dengan menggunakan GIS. Di banyak negara, proses inventarisasi dan dokumentasi bisa mencapai waktu dua tahun lebih, bahkan program revitalisasi belum dilaksanakan.

Untuk promosi data kepada publik, American Express Foundation, New York, memberikan hibah pembuatan Peta Jelajah Pusaka (Heritage Trail Map). Penerima hibah antara lain kawasan lama Malaka; kawasan George Town-Penang; kawasan pusaka nJeron Beteng Kraton, Yogyakarta.

Ketiga, promosi. Pendekatan ini perlu dimulai sebelum revitalisasi. Awalnya ditujukan pada masyarakat lokal, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Promosi dan pemasaran selanjutnya kepada pembeli, pengembang potensial, pelaku bisnis baru, dan wisatawan.

Seperti promosi dalam revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko. Salah satunya melalui Festival Musik Sakral Dunia yang rutin diselenggarakan di sana setiap tahun. Dihadirkan kelompok musik sakral dari berbagai negara. Dan tak pelak, banyak wisatawan berdatangan pula.

Minat pihak luar terhadap pusaka Fez akan mendorong rasa memiliki bagi warganya. Karena sebelumnya banyak penduduk tidak menyadari akan nilai budaya yang terkandung di kotanya. Mengingat sepertiga dari 150.000 keluarga yang bermukim di Kota Lama ini merupakan golongan berpenghasilan rendah. Kekumuhan ada di sana-sini. Padahal, tahun 1976 kota ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Pusaka Dunia.

Keempat, mewujudkan roh/kegiatan kawasan pusaka yang akan membuat vitalitas kawasan tumbuh kembali. Bahkan, bila perlu mencangkokkan roh baru. Ini merupakan hakiki upaya revitalisasi yang justru sering terabaikan.

Salah satu contoh revitalisasi kawasan pusaka pusat kota Nagahama, Jepang. Kerajinan gelas yang sebelumnya tidak ada di kawasan ini justru dihadirkan dan digelorakan sebagai citra industri kota yang baru. Sebuah komoditas yang bernilai seni dan jual tinggi serta, tanpa merusak, mampu mengisi bangunan dan kawasan pusaka yang sebelumnya terbengkalai. Kerajinan ini sekarang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat.

Singapura sangat gigih dalam mewujudkan kembali roh kawasan-kawasan revitalisasinya. Meskipun banyak kegiatan baru yang berlebihan dicangkokkan.

Kelima, meningkatkan rancangan fisik kawasan. Dilaksanakan melalui rehabilitasi bangunan pusaka dan membangun desain pengisi (infill design) yang tepat. Juga memformulasikan arahan desain (design guidelines) tanpa merusak kualitas tatanan yang ada. Justru meningkatkan serta mewadahi kebutuhan kontemporer.

Umumnya, revitalisasi kawasan didukung adanya lembaga struktural yang mengelola penampilan fisik kawasan. Di antaranya dalam bentuk Komisi Pertimbangan untuk Kawasan Pusaka (Historic District Commission) dan unit pelaksana teknik pelestarian di bawah Dinas Tata Kota dan Bangunan.

Keenam, mengembangkan dan menciptakan ekonomi kawasan setempat melalui berbagai terobosan dan kesempatan baru tanpa merusak tatanan kehidupan lokal.

Umumnya, revitalisasi yang dikendalikan secara benar dalam waktu panjang kini merupakan daerah bernilai ekonomi tinggi. Padahal, rata-rata 30-40 tahun lalu merupakan daerah kumuh yang dihindari orang.

Menanggulangi kemiskinan

Revitalisasi, salah satu tujuannya, adalah juga untuk menanggulangi kemiskinan, seperti di Kota Lama Fez. Untuk itu, sumber daya manusia harus ditingkatkan pula. Sejalan dengan revitalisasi Kota Pusaka di Maroko ini dibuka Community Colleage (tiga tahun) bidang teknik pelestarian pusaka arsitektur. Dan, perguruan tinggi bidang arkeologi, arsitektur, dan ekonomi yang sudah ada di Maroko membuka pelajaran khusus pengelolaan pusaka budaya.

Pelajaran lain dari MSP di Amerika Serikat yang hampir 30 tahun dijalankan. Kini, secara kumulatif rerata komunitas akan menerima 39 dollar AS dari setiap 1 dollar AS ditanamkan. Memberikan 226.900 lapangan kerja baru dan 56.300 bisnis baru diciptakan. MSP menjadi salah satu strategi pengembangan ekonomi yang sangat berhasil di AS.

Mencermati berbagai revitalisasi kawasan pusaka tersebut, keenam pendekatan di atas perlu dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Meskipun perlu dipahami bahwa setiap kasus memiliki keunikan dan permasalahan masing-masing yang solusinya akan berbeda-beda.

Laretna T Adishakti Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM dan Penggiat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Indonesian Heritage Trust)

Sumber: Kompas, Minggu, 13 November 2005.

Pasar Tanah Abang Blok A Pasar Tradisional dengan Sentuhan Modern

Oktober 28, 2005

Untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan sistem sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Namanya Ricky Alaydrus. Pria berusia 29 tahun ini pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Usai menyelesaikan studinya di Negeri Paman Sam, Ricky bekerja di sebuah perusahaan elektronik di sana. Karirnya menanjak sehingga berhasil meraih posisi sebagai general manager.

Namun, pada 2002 Ricky memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena rindu dengan orang tua dan tanah kelahirannya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ricky memilih untuk membuka usaha sendiri dengan berdagang di Pasar Tanah Abang Blok A.

Pemilihan tempat berdagang di pasar ini dilandasi dengan pertimbangan lokasi yang strategis, lingkungan yang aman dan nyaman.”Keberhasilan sebuah usaha sangat tergantung dari keinginan, keahlian, dan usaha kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip A-Kita, media internal Pasar Tanah Abang Blok A.

Ricky adalah salah satu dari ribuan pedagang di Pasar Tanah Abang Blok A. Pascakebakaran pada 2002 Blok A kini memang berubah menjadi sebuah pusat bisnis yang megah. Arsitektur bangunannya khas dengan corak Betawi yang dipadukan dengan sentuhan dan nuansa Islam. Alhasil, Pasar Blok A menjadi pusat perbelanjaan modern yang juga menjadi simbol pelestarian budaya lokal Betawi.

”Sebagian besar pedagang pasar Blok A adalah warga sekitar yang asli Betawi. Dan mayoritas mereka beragama Islam. Karenanya, kami konsep bangunan Pasar Blok A ini dengan arsitektur khas Betawi tapi kami beri sentuhan Islam,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya. Perusahaan ini adalah pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Modern pascakebakaran
Pascakebakaran, pasar Blok A memang mengalami perubahan wajah yang cukup drastis jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Jika semula pasar ini adalah pasar tradisional yang kumuh, sumpek, panas, dan tidak nyaman, kini Blok A menjadi sebuah bangunan megah yang berkonsep modern. Fasilitas dan prasarana yang ada di dalamnya tidak kalah dengan pusat perbelanjaan (shopping mall) maupun pusat perdagangan (trade center) modern.

Di bangunan seluas 151.202 meter persegi ini terdapat 149 unit eskalator, empat unit passenger lift (capsule), dan empat unit passenger lift biasa. Di gedung 18 lantai ini juga tersedia delapan unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), AC central, tiap kios memiliki satu line telepon, serta sejumlah fasiltas lainnya.

Soal parkir tidak lagi menjadi kendala, karena lahan parkir yang tersedia mampu menampung dua ribu mobil. Namun, ciri khas pasar Blok A sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim, tidak lantas hilang.

Sedangkan untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan beberapa sistem. Ada sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Fire roller shutter adalah sistem pengamanan kebakaran yang membagi ruangan menjadi tiga kompartemen. Apabila terjadi kebakaran di lantai tertentu, maka motor roller shutter akan bekerja secara otomatis menutup daerah kompartemen yang terbakar dengan sekat antikebakaran. Sekat ini mampu menahan kobaran api selama empat jam.

”Pasar Blok A tetap menjadi pasar tradisional pusat grosir tekstil dan garmen. Hanya saja, sekarang sentuhannya modern. Jadi, Blok A merupakan pasar tradisional namun dengan sentuhan modern,” ungkap Faridz.

Karena tetap menjadi pasar tradisional, harga yang berlaku di sini juga layaknya harga pasar tradisional, namun dengan kualitas barang yang tetap terjaga. Artinya, harga barang di Blok A yang sudah dibangun dengan konsep modern tidak berbeda dengan harga di Blok B, C, dan D yang masih berupa pasar tradisional tanpa sentuhan modern. ”Di sini lah kelebihan pasar Blok A. Meski sentuhannya modern, harga tetap pasar tradisional,” ujar Faridz menegaskan.

Miniatur Indonesia
Pasar Blok A terdiri dari 12 lantai pertokoan, 5 lantai parkir, dan satu lantai food court. Di bagian atap terdapat masjid yang mampu menampung dua ribu jamaah.

Tiap lantai terbagi dalam beberapa zoning yang masing-masing menjual komoditi yang sama. Selain padagang lokal Jakarta (Betawi), para pedgaang di Pasar Blok A juga berasal dari beragam etnis. Misalnya Padang, Makassar, Jawa, keturunan Arab dan Tionghoa, dan sebagainya.

”Pedagang di sini multi etnik karena dari semua suku ada. Jadi seperti miniatur Indonesia. Namun mereka kompak dan tidak bersaing secara tidak sehat,” ujar Faridz menerangkan.

Pemilik kios di sini biasanya juga memiliki kios di Blok yang lain, yang diatasnamakan isteri atau anaknya. Dengan demikian, harga yang berlaku di Blok A sama dengan di Blok lain karena memang pemiliknya sama.

Karena merupakan pusat grosir, maka para pemilik biasanya langsung menunggui kiosnya dan tidak diserahkan kepada pembantu atau pekerjanya. Sebab ketika bertransaksi dengan pembeli, banyak keputusan yang harus langsung diambil sendiri oleh pemilik kios dan bukan oleh pembantunya.

”Karena pusat grosir, maka banyak negosiasi yang akan terjadi. Dan itu harus dilakukan sendiri oleh pemilik kios. Misalnya negosiasi tentang harga, pembayaran utang, desain kain, dan sebagainya. Sebab pembeli biasanya kan membeli dalam partai besar jadi harus diputuskan sendiri oleh pemilik kios. Ini beda dengan kios retail biasa,” jelas Faridz.

Dengan kondisi saat ini yang lebih nyaman dan aman jika dibandingkan sebelum terbakar, maka Pasar Blok A makin diminati oleh pengunjung dan pembeli. Tren yang saat ini terjadi, pembeli lebih suka berbelanja di Blok A daripada di Blok B, C dan D karena suasananya yang berbeda.

Bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri saat ini, pengunjung di Pasar Blok A bisa mencapai seratus ribu orang per hari.”Sekarang pembeli di Blok A makin meningkat. Sementara di Blok yang lain justru menurun,” ujar Faridz.

Mengundang Pembeli dari Mancanegara
Sekitar 300 tahun yang lalu pemerintah Kolonial Belanda membangun Pasar Tanah Abang di sebuah kawasan yang diberi nama Weltevreden yang berarti benar-benar puas. Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang menjadi magnet bisnis yang besar di Jakarta.

Bahkan, dalam perkembangannya Pasar Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Para saudagar dan pembeli dari mancanegara pun banyak yang berdatangan ke pasar ini. Antara lain dari Arab, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan negara-negara lain.

Namun, setelah terjadi kebakaran pada 2002 para pembeli dari mancanegara itu banyak lari ke negara lain. Salah satu negara yang menjadi tujuannya adalah Cina.

Kini, setelah Pasar Tanah Abang direnovasi dan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern, ada semacam keinginan untuk mengundang kembali para pembeli dari manca negara tersebut.

”Kami akan berusaha mengembalikan para pembeli mancanegara itu ke Tanah Abang. Untuk itu, kami akan bekerja sama dengan kedutaan besar kita di luar negeri,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya, pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Menurut Faridz, lewat kerja sama dengan kedutaan besar Indonesia di luar negeri, maka pihaknya akan mengundang dan memfasilitasi para pembeli dari mancanegara untuk datang dan meninjau Pasar Blok A yang baru diresmikan Juli 2005 lalu ini. Diharapkan, dengan melihat kondisi saat ini yang jauh berbeda dengan sebelum terbakar, mereka akan tertarik kembali untuk membeli barang-barang dari sini.

Selain pembeli dari luar negeri, pihaknya juga akan mengundang pembeli dari dalam negeri untuk datang ke Pasar Blok A. ”Kami juga melakukan kampanye dan sosialiasi ke daerah-daerah agar mereka tahu Pasar Tanah Abang Blok A sudah mulai beroperasi,” tutur Faridz.

Namun Faridz memiliki ganjalan untuk mewujudkan obesesinya itu. Hal ini terkait dengan semrawutnya arus lalu linta di kawasan Tanah Abang. Karena itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk benar-benar memperhatikan dan menyelesaikan masalah ini.

”Pemerintah harus tegas terhadap persoalan parkir, pedagang kaki lima, dan ojek yang selama ini membuat lalu lintas di sini sangat semrawut. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan masalah ini dan mencarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, maka ini tidak mendukung Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara,” kata Faridz menegaskan. (jar )

Sumber: Republika, Jumat, 28 Oktober 2005

“Mengusik” Ke-(tidak)-pedulian Warga pada Pesona “Kota Tua”

September 13, 2005

Oleh: FX Triyas Hadi Prihantoro

Kegiatan festival kesenian kota tua dan pecinan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jakarta Barat bulan Agustus 2005 perlu dilestarikan dan diberdayakan. Pemberdayaan, pengoptimalan, penggalian, dan restorasi kawasan kota tua (Batavia) Jakarta perlu dilakukan guna ”mengusik” ke-(tidak)-pedulian stakeholders kota dengan ”menggelitik” mereka untuk selalu terlibat di dalamnya.

Kegiatan itu bertujuan untuk menumbuhkan empati dan menjaga peninggalan sejarah sebagai nilai budaya dan pengetahuan terbentuknya kawasan kota tua.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 Ayat (1), disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagian atau sisa-sisanya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun dan mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bagaimana upaya ”memoles” kawasan kuno ini agar tidak seram? Bagaimana dapat menarik untuk dinikmati hingga banyak orang sudi berlama-lama di sana? Upaya pengadaan festival, berkesenian, pameran/kegiatan saja belumlah cukup. Yang dibutuhkan adalah hati semua warga Kota Jakarta untuk terusik sehingga merasa memiliki peninggalan sejarah ini.

Rasa memiliki tumbuh, niat mempertahankan ada, upaya mengembangkan sudah masuk rencana kemudian tinggal optimalisasi pemberdayaan dengan berbagai program.

Ketidakpedulian warga kota terhadap bangunan kota tua terlihat dari banyaknya bangunan yang tak terawat. Kondisi bangunan memprihatinkan; tembok mengelupas, berlubang, kayunya lapuk, dan genting bocor.

Belum lagi digusurnya beberapa bangunan tua (gedung Harmonie) hanya untuk ”memoles” pembangunan ”masa depan” demi kepentingan ekonomi/komersial semata. Bila demikian, tidak malukah kita dengan bangsa lain yang ”berani” bersatu padu melawan untuk mempertahankan bangunan kuno (heritage building) sebagai salah satu bentuk lahirnya heritage society yang memiliki bobot nilai budaya sejarah bangsa tersendiri.

Ratusan bangunan kawasan tua di Kota Jakarta butuh sikap peduli warga. Wisatawan asing datang ke Jakarta perlu untuk melihat sajian bangunan gaya art nouvo (Museum Fatahillah dan Museum Wayang) abad ke-18, art deco (Bank Exim Jakarta Kota, Museum Seni Rupa Jakarta, Stasiun Kota) awal abad ke-19 serta tembok kasar dari abad ke-16 sisa warisan kejayaan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

Sekarang bagaimana sikap peduli warga kota terhadap perjalanan sejarah budaya di pesona kawasan kota tua Jakarta? Meski banyak bangunan kota tua yang sebagian besar milik perseorangan yang berkekuatan hukum, tidak ada salahnya pihak Pemprov DKI membuat peraturan daerah tentang pelestarian dan pemberdayaan bangunan tua bersejarah berdasarkan pengkajian dari banyak segi, antara lain arsitektur, sosial, sejarah, budaya, tata kota, lingkungan, dan kepentingan.

Ruilslag bangunan dan pemberian penghargaan kepada pemilik bangunan bersejarah yang mampu mempertahankan keasliannya perlu diberikan. Juga perlu hukuman bila pemilik atau siapa pun melakukan perusakan, corat-coret, dan penelantaran terhadap bangunan tua yang bernilai sejarah budaya.

Sejalan dengan visi Jakarta dalam upaya mengoptimalkan kunjungan wisata, langkah-langkah kepedulian terhadap pesona ”kota tua” merupakan impian semua pihak. Pengembangan wisata budaya dengan ”menjual” pesona ”kota tua” menjadikan aset sejarah itu sebagai aset wisata yang potensial untuk menambah pendapatan asli daerah.

Misalnya saja, optimalisasi Gedung Arsip Nasional dengan banyaknya mata acara (pameran, konser musik, pembuatan film, dan hajatan) menjadikan segala ”kebutuhan” untuk tetap menjaga keasrian dan keasliannya bukanlah hal yang sulit. Bagaimanakah dengan bangunan lainnya? Mampukah disetting seperti Gedung Arsip Nasional?

Semua tergantung kepedulian stakeholders kota. Semoga.

Fx Triyas Hadi Prihantoro, Pemerhati Budaya dan Bangunan Tua

Sumber: Kompas, Selasa, 13 September 2005


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.