Arsip untuk ‘Arsitektur’ Kategori

Spirit ”Art Deco” Perlu Dihidupkan

Maret 23, 2004

Oleh : Dr. Mauro Rahardjo

KOTA Bandung termasuk dari sederetan kota-kota di dunia yang memiliki Arsitektur langgam Art-Deco yang signifikan. Langgam Art Deco sangat indah dan dapat dinikmati oleh setiap orang. Di Asia disebutkan hanya ada tiga kota yang memiliki koleksi bangunan dan kawasan dengan Arsitektur langgam Art-Deco, yaitu Shanghai, Bombay, dan Bandung.

Keunikan karya Arsitektur yang satu ini adalah karena kelahiran Art-Deco terjadi di antara dua Perang Dunia, yaitu antara tahun 1920 s.d 1939. Periode setelah itu, yaitu sekitar tahun 1950-an, memang masih ada karya Arsitektur yang bernafaskan Art-Deco, tetapi lebih karena pengaruh Art Deco yang masih berlangsung. Dengan alasan sejarah karya seni inilah, maka dirasakan perlunya satu konsensus nasional untuk bukan saja mengamankan benda bersejarah di Bandung ini, tetapi juga menghidupkan kembali.

Pada masa dilahirkannya karya Arsitektur berlanggam Art Deco, tentu saja nama itu belum ada. Yang dikenal adalah istilah Modernistic atau Style Moderne. Barulah di tahun 1960-an Bevis Hllier, seorang sejarawan dan kritikus seni dari Inggris menggunakan istilah Art-Deco dengan resmi.

Nama Art Deco diilhami dari satu pameran Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriale et Modernes yang diadakan di Paris pada tahun 1925. Art Deco menunjukkan suatu istilah langgam decoratif yang terbentuk di antara tahun 1920-1930.

Sejak tahun 1970-an hingga kini istilah Art Deco telah diterima dengan luas. Pada munculnya seni Art-Deco ini boleh dikatakan listrik dan lampu tidak banyak dipakai, mengingat bahaya perang. Suatu masa depresi yang sangat besar terjadi. Pada masa itu juga banyak perubahan sosial, ketika wanita tidak lagi harus menggunakan corset dan boleh merokok. Masa yang penuh dengan “kebebasan” untuk mengekspresikan diri dan sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Demikian pula terjadi dengan gerakan-gerakan Arsitektur.

Jadi apa yang membedakan antara langgam Arsitektur ini dengan langgam lainnya? Pada dasarnya karena adanya gerakan Modernisme. Gerakan ini memenuhi konsep modernisme, yaitu tuntutan estetika menuju bentuk sederhana. Hanya saja kelemahannya di satu pihak gerakan modernisme membebaskan diri dari keterikatan Arsitektur Klasik, tetapi di pihak lain membuat “ikatan” sendiri dalam bentuk konsensus internasional (International Style).

Art Deco menginduk pada modernisme hanya saja lebih fokus pada berbagai variasi dekoratif dalam berbagai produk. Karakter yang paling utama adalah bentuk Geometrik murni dan Kesederhanaan (Simplicity); acapkali dengan warna-warna cemerlang dan bentuk sederhana untuk merayakan hadirnya dunia komersial dan teknologi. Dari sinilah lahir Art Deco yang menjadi penanda jaman dalam bentuk-bentuk Arsitektur yang anggun.

Sesuai dengan klasifikasi yang ada; arsitektur langgam Art-Deco dibedakan menjadi empat, yaitu Floral Deco , Streamline Deco, Zigzag Deco, dan Neo-Classicael Deco. Di Indonesia, banyak dikenal dua langgam yang pertama disebut pertama; jarang didapati corak ketiga dan keempat.

Karya Arsitektur langgam Art Deco di Bandung terlihat dua macam mainstream; yaitu yang penuh dengan inovasi seni dekoratif, antara lain diwakili oleh Gereja Katedral St. Petrus (1922), Gereja Bethel (1925), Hotel Preanger (1929), Vila Isola (1932), dirancang oleh CP Wolff Schoemaker. Yang kedua, yaitu yang memanfaatkan dekorasi florel; jumlah bangunan seperti ini saat ini paling besar di Bandung. Yang ketiga yang mengutamakan fasade streamline, yaitu Hotel Homann (1931), Bank Pembangunan Daerah, Villa Tiga Warna dan Vila Dago Thee dirancang oleh A.F. Albers antara tahun 1931 s.d 1938.

Seluruh karya arsitek Belanda di Bandung ini menjadi Penanda Jaman. Yang paling menonjol dalam konsep mereka adalah pemikiran hadirnya bangunan-bangunan tersebut di Bandung, sebagai daerah beriklim tropis; sehingga respons terhadap iklim itu sangat terasa terlihat dalam orientasi bangunan dan bentuknya yang mereka sebut tropische art deco.

Popularitas Art Deco merupakan spirit dan semangat yang menjiwai karya-karya arsitektur pada masa kini. Dapat diramalkan Arsitektur langgam Art-Deco ini menjadi daya tarik yang makin besar. Art Deco Look akan menjadi gerakan “lama” yang baru dan menjadi pendorong bagi investor untuk menghasilkan karya-karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat Kota Bandung dan masyarakat yang lebih luas.

(Dr. Ir. Mauro Rahardjo, M.Arch, Pendiri Feng Shui School Indonesia dan Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan)

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/23/0804.htm

Arsitektur Jengki, Perkembangan Sejarah yang Terlupakan

Februari 17, 2002

Oleh Imam Prakoso

SEJARAH perkembangan arsitektur di Indonesia di era tahun 1950 sampai 1960-an diwarnai dengan hadirnya sebuah gaya yang dikenal dengan nama arsitektur jengki. Penampilannya yang unik menjadikannya berbeda dengan arsitektur kolonial Belanda sebelumnya. Kehadirannya merupakan jawaban langsung terhadap tantangan yang dihadirkan dan diwarnai dengan semangat zaman di masa lampau.

Hadirnya arsitektur jengki di Indonesia sebenarnya tidak terlepas dari sejarah perkembangan Indonesia sebagai sebuah negara. Kepergian Belanda secara perlahan meninggalkan Indonesia turut mewarnai masa hadirnya arsitektur jengki. Hal ini beriringan dengan kepergian para arsitek Belanda yang kemudian digantikan oleh beberapa arsitek Indonesia pertama dan para tukang ahli bangunan yang menyebar di kota-kota Kolonial Belanda. Asal penggunaan kata jengki sering dihubungkan dengan hal-hal di luar dunia arsitektur. Menurut morfologi atau pembentukan kata, istilah “jengki” mungkin berasal dari kata Yankee, yaitu sebutan untuk orang-orang New England yang tinggal di bagian Utara Amerika Serikat. Menurut Budi Sukada, ada yang menyebut sosok arsitektur jengki sebagai arsitektur Yankee yang populer di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Penamaan jengki juga dihubungkan dengan model busana celana jengki yang marak pada saat yang bersamaan.

Konteks bagi hadirnya arsitektur jengki di Indonesia adalah munculnya para arsitek pribumi yang notabene adalah tukang yang ahli bangunan sebagai pendamping para arsitek Belanda. Para ahli bangunan pribumi ini kebanyakan merupakan lulusan dari pendidikan menengah bangunan. Di tengah bergolaknya kondisi perpolitikan di masa 1950 sampai 1960-an yang ditandai dengan semakin berkurangnya arsitek Belanda dan mulai munculnya para ahli bangunan dan lulusan pertama arsitek Indonesia menjadi poin yang turut membentuk perkembangan arsitektur jengki. Beberapa pola yang menjadi ciri arsitektur jengki kemungkinan berhubungan erat dengan pola penyebaran para arsitek Belanda yang tersisa serta arsitek Indonesia yang masih dapat dihitung jumlahnya serta banyaknya ahli bangunan yang sebelumnya menjadi asisten para arsitek Belanda. Pada kota-kota besar, kemungkinan banyak menyisakan para arsitek untuk mendesainnya. Tetapi, untuk kota-kota kecil, keahlian para tukang bangunan yang lebih banyak berperan pada periode perkembangan arsitektur jengki.

Sebagai sebuah karya arsitektur, arsitektur jengki memiliki beberapa perbedaan dengan arsitektur kolonial pada umumnya. Menurut Josep Prijotomo, karakter arsitektur jengki ditandai salah satunya dengan kehadiran atap pelana. Tidak seperti rumah tinggal pada umumnya, atap pelana pada rumah bergaya jengki memiliki perbedaan tinggi atap. Biasanya kemiringan atap yang terbentuk tidak kurang dari 35 derajat. Penggunaan atap pelana ini menghasilkan sebuah tembok depan yang cukup lebar sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tampak depan bangunan. Tembok depan yang dikenal dengan gewel ini yang kemudian menjadi sarana kreativitas arsitek. Pengolahan tampak depan bangunan juga diperkuat dengan kehadiran dinding yang berkesan miring dan membentuk geometri segi lima terhadap tampak bangunan. Dinding miring ini sebenarnya tidak berkaitan langsung terhadap kekuatan konstruksi bangunan, tetapi lebih kepada kreativitas untuk menghadirkan tampak bangunan.

Penggunaan sudut kemiringan atap yang cukup tinggi ini memberikan karakter lain, yaitu bentuk beranda sebagai unsur mandiri. Beranda inilah yang menandai pintu masuk ke dalam bangunan yang kerap dihadirkan sebagai sebagai sebuah portico, yaitu bangunan beratap di depan pintu masuk. Pada umumnya atap datar menjadi pilihan utama bagi beranda. Atap datar inilah yang memberikan artikulasi untuk membedakannya dengan bangunan utama yang beratap pelana. Beberapa fungsi yang diwadahi di dalam beranda ini adalah sebagai penegas pintu masuk ke dalam bangunan, sebagai tempat penerima, dan sebagai ruang peneduh dan penyejuk bagi ruangan di dalamnya.

Ciri lain yang kerap dijumpai pada arsitektur jengki adalah digunakannya karawang atau rooster. Sebenarnya fungsi utama dari karawang adalah sebagai anginan. Lancarnya sirkulasi di dalam setiap ruang pada rumah tinggal merupakan fungsi yang utama. Namun, pada arsitektur jengki fungsi ini berlanjut dengan hadirnya kreativitas. Penggunaan karawang tidak lagi dipahami sebagai sebuah fungsi, tetapi juga merupakan bagian dari wahana untuk menghadirkan estetika baru.

Di dalam arsitektur dikenal istilah ekletisme sebagai sebuah fenomena yang menandai dimilikinya beberapa gaya dalam sebuah bangunan. Fenomena ini juga terlihat pada perkembangan arsitektur jengki di Indonesia. Semangat untuk berbeda dalam penampilan merupakan pendorong bagi munculnya ekletisme. Arsitektur kolonial Belanda menjadi tolak ukur bagi hadirnya unsur-unsur di dalam bangunan bergaya jengki. Pemahaman ini mengantarkan kita akan hadirnya bentuk-bentuk bangunan yang tidak kita jumpai pada bangunan rumah tinggal sebelumnya. Bentuk kusen yang tidak simetris, pemakaian beberapa macam bahan dalam sebuah bangunan, penegasan yang terkadang berlebihan pada tembok, bingkai kusen bahkan bentuk kusennya menandai akan hadirnya sebuah arsitektur baru. Pengenalan akan bahan-bahan bangunan sebagai sebuah unsur yang melebihi dari sekadar sebuah penutup bangunan adalah poin pentingnya. Kedewasaan dan kematangan dalam mengolah komposisi bahan terhadap lahirnya wajah bangunan yang ideal merupakan logika dasar yang menyertainya.

Perbedaan mendasar antara arsitektur jengki dan arsitektur kolonial Belanda ada pada tingkat pemikiran, yakni penempatan arsitektur yang membumi. Beberapa arsitek Belanda secara bersungguh-sungguh mencoba pendekatan iklim tropis dan kebudayaan sebagai sumber inspirasi terbentuknya karya arsitektur yang ideal. Sedangkan arsitektur jengki beranjak kepada arsitektur modern untuk menemukan jati dirinya. Perbedaan ini terwujud dalam bentuk fisik yang dapat kita lihat secara langsung. Dengan sedikit mengabaikan kondisi iklim, terutama unsur atap sebagai pelindung, arsitektur jengki memiliki ketahanan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan arsitektur kolonial. Hal ini berakibat langsung pada pemeliharaan bangunan terutama pada sudut bangunan yang menggunakan beton dan sedikit terlindung dari ganasnya iklim tropis.

Tingkat perkembangan kawasan lingkungan permukiman turut membentuk identitas arsitektur jengki. Pertumbuhan penduduk dan semakin padatnya lingkungan permukiman di perkotaan menghadirkan lahan siap bangun yang tidak seluas dulu lagi. Bentuk khas dari tampak bangunan rumah bergaya jengki berkaitan langsung dengan lahan di mana ia terbangun. Dalam perkembangannya, sejauh menyangkut letak lahannya, kita mengenal dua jenis arsitektur jengki. Yang pertama adalah arsitektur jengki untuk hunian rumah tinggal dan arsitektur jengki bagi bangunan vila.

Pemukiman yang relatif padat merupakan tempat di mana hunian rumah tinggal bergaya jengki berada. Sedangkan untuk jenis vila biasanya terletak di pinggiran kota atau pada sudut kota yang memiliki halaman yang cukup lapang dengan jarak antarbangunan satu dengan lainnya yang renggang.

Keberadaan arsitektur jengki pada kota-kota kolonial memberikan keunikan tersendiri. Sejauh ini arsitektur jengki lebih dipahami sebagai sebuah unit tunggal. Jarang kita jumpai berderet rumah bergaya jengki pada sebuah lingkungan. Belum ada penelitian lebih lanjut mengapa penyebarannya tidak pernah menjangkau masyarakat luas. Kontribusinya bagi perkembangan sejarah perkotaan di Indonesia masih jarang dilihat. Sebagai sebuah unit yang utuh, arsitektur jengki belum sampai membentuk identitas lingkungan yang nyata. Hal ini diperkuat dengan pola penyebaran pada sebuah kawasan belum terlihat secara jelas. Kehadirannya menjadi menarik karena memiliki penampilan yang berbeda dengan hunian yang ada di sekitarnya.

Perbedaan fisik yang tampak masih menyisakan pertanyaan yang perlu kita renungkan. Walaupun dari eksplorasi desain terutama dari pendekatan iklim tropis, arsitektur jengki belumlah sekritis para pendahulunya, yaitu arsitektur kolonial Belanda, namun hal ini tidak mengurangi arti penting yang dikandungnya. Sebagai sebuah karya bangunan, arsitektur jengki merupakan sumber inspirasi dan contoh yang tidak dapat diabaikan. Bangunan yang tersisa dapat menjadi contoh atau bahan studi untuk dilihat kelebihan, kekurangan, dan acuan dalam perancangan untuk masa sekarang dan akan datang (Yulianto Sumalyo: 1993). Dengan pemahaman ini setidaknya kita memiliki sebuah masa yang penuh dengan berbagai tantangan dan kondisi masyarakat yang membentuknya. Tidak untuk dilupakan dan dilihat dengan sebelah mata tentunya.

Imam Prakoso, pemerhati lingkungan binaan.

Sumber: Harian Kompas, 17 Februari 2002.

Arsitektur “Indis” Tinggal Kenangan

Oktober 14, 2001

Oleh J Pamudji Suptandar

SEBUTAN Indis berasal dari istilah Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda dalam bahasa Indonesia. Itulah nama suatu daerah jajahan Pemerintah Belanda di Timur Jauh, dan karena itu sering disebut juga Nederlandsch Oost Indie.Menurut Pigeaud, orang Belanda pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1619. Mereka semula berdagang tetapi kemudian memonopoli lewat VOC dan akhirnya menjadi penguasa sampai datangnya Jepang pada tahun 1942. Kehadiran orang-orang Belanda selama tiga abad di Indonesia tentu memberi pengaruh pada segala macam aspek kehidupan. Perubahan antara lain juga melanda seni bangunan atau arsitektur.

Menurut Lombard pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya. Sebutannya landhuiz, yaitu hasil perkembangan rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah dengan penggunaan teknik, material batu, besi, dan genteng atau seng. Arsitek landhuizen yang terkenal saat itu antara lain Wolff Schoemaker, DW Berrety, dan Cardeel.

Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkantoran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouwkunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan rumah adat Indonesia.

Penggunaan kata Indis untuk gaya bangunan seiring dengan semakin populernya istilah Indis pada berbagai macam institusi seperti Partai Indische Bond atau Indische Veeneging. Arsitektur Indis merupakan asimilasi atau campuran dari unsur-unsur budaya Barat terutama Belanda dengan budaya Indonesia khususnya dari Jawa.

Dari segi politis, pengertian arsitektur Indis juga dimaksud untuk membedakan dengan bangunan tradisional yang lebih dahulu telah eksis, bahkan oleh Pemerintah Belanda bentuk bangunan Indis dikukuhkan sebagai gaya yang harus ditaati, sebagai simbol kekuasaan, status sosial, dan kebesaran penguasa saat itu.

Sebelum kedatangan Belanda, sebenarnya sudah banyak bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu datang ke Indonesia antara lain dari Cina, India, Vietnam, Arab, dan Portugis, yang memberi pengaruh pada budaya asli. Karena itu, dalam bangunan Indis juga terkandung berbagai macam unsur budaya tersebut. Faktor-faktor lain yang ikut berintegrasi dalam proses perancangan antara lain faktor lingkungan, iklim atau cuaca, tersedia material, teknik pembuatan, kondisi sosial politik, ekonomi, kesenian, dan agama.

Bentuk rumah bergaya Indis sepintas tampak seperti bangunan tradisional dengan atap berbentuk Joglo Limasan. Bagian depan berupa selasar terbuka sebagai tempat untuk penerimaan tamu. Kamar tidur terletak pada bagian tengah, di sisi kiri dan kanan, sedang ruang yang terapit difungsikan untuk ruang makan atau perjamuan makan malam. Bagian belakang terbuka untuk minum teh pada sore hari sambil membaca buku dan mendengarkan radio, merangkap sebagai ruang dansa.

Pengaruh budaya Barat terlihat pada pilar-pilar besar, mengingatkan kita pada gaya bangunan Parthenon dari zaman Yunani dan Romawi. Lampu-lampu gantung dari Italia dipasang pada serambi depan membuat bangunan tampak megah terutama pada malam hari. Pintu terletak tepat di tengah diapit dengan jendela-jendela besar pada sisi kiri dan kanan. Antara jendela dan pintu dipasang cermin besar dengan patung porselen. Khusus untuk gedung-gedung perkantoran, pemerintahan, dan rumah-rumah dinas para penguasa di daerah masih ditambah lagi dengan atribut-atribut tersendiri seperti payung kebesaran, tombak dan lain-lain agar tampak lebih berwibawa.

Orang-orang Belanda, pemilik perkebunan, golongan priayi dan penduduk pribumi yang telah mencapai pendidikan tinggi merupakan masyarakat papan atas, ikut mendorong penyebaran kebudayaan Indis lewat gaya hidup yang serbamewah.

Kebudayaan Indis sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa juga terjalin dalam berbagai aspek misalnya dalam pola tingkah laku, cara berpakaian, sopan santun dalam pergaulan, cara makan, cara berbahasa, penataan ruang, dan gaya hidup. Arsitektur Indis sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu ditampilkan lewat kualitas bahan, dimensi ruang yang besar, gemerlapnya cahaya, pemilihan perabot, dan seni ukir kualitas tinggi sebagai penghias gedung.

Mengamati arsitektur Indis hendaknya kita jangan terpaku pada keindahan bentuk luar semata, tetapi juga harus bisa melihat jiwa atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Rob Niewenhuijs dalam tulisannya Oost Indische Spiegel yaitu pencerminan budaya Indis, menyebutkan bahwa sistem pergaulan dan tentunya juga kegiatan yang terjadi di dalam bangunan yang bergaya Indis merupakan jalinan pertukaran norma budaya Jawa dengan Belanda. Manusia Belanda berbaur ke dalam lingkungan budaya Jawa dan sebaliknya.

Pengukuhan kekuasaan kolonial saat itu tertuang dalam kebijakan yang dinamakan “politik etis”. Prinsipnya bertujuan meningkatkan kondisi kehidupan penduduk pribumi. Di lain fihak penguasa juga memperbesar jumlah kedatangan orang Belanda ke Indonesia yang secara langsung membutuhkan sarana tempat tinggal berupa rumah-rumah dinas dan gedung-gedung.

Di sini terlihat jelas bahwa ternyata semua peristiwa yang dialami pada tiap kehidupan manusia bisa memberi dampak yang besar terhadap pandangan arsitektur. Bahwa gagasan arsitektur sesungguhnya juga dipengaruhi oleh situasi dinamika sosial budaya manusia dan sekaligus menjadi bagian dari padanya.

Arsitektur Indis telah berhasil memenuhi nilai-nilai budaya yang dibutuhkan oleh penguasa karena dianggap bisa dijadikan sebagai simbol status, keagungan dan kebesaran kekuasaan terhadap masyarakat jajahannya. Perkembangan arsitektur Indis sangat determinan karena didukung oleh peraturan-peraturan dan menjadi keharusan yang harus ditaati oleh para ambtenar, penentu kebijaksanaan. Pemerintah kolonial Belanda menjadikan arsitektur Indis sebagai standar dalam pembangunan gedung-gedung baik milik pemerintah maupun swasta. Bentuk tersebut ditiru oleh mereka yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu dengan harapan agar memperoleh kesan pada status sosial yang sama dengan para penguasa dan priayi.

Arsitektur Indis tidak hanya berlaku pada rumah tinggal semata tetapi juga mencakup bangunan lain seperti stasiun kereta api, kantor pos, gedung-gedung perkumpulan, pertokoan, dan lain-lain. Adapun pudarnya arsitektur Indis mungkin disebabkan oleh konsekuensi historis yang menyangkut berbagai aspek sosial budaya.

Menurut Denys Lombard, sejarah terbentuknya budaya Indis karena didorong oleh kekuasaan Hindia Belanda yang berkehendak menjalankan pemerintahan dengan menyesuaikan diri pada kondisi budaya masyarakat di wilayah kolonialnya. Dengan datangnya perubahan zaman dan hapusnya kolonialisme, maka berakhirlah pula kejayaan budaya feodal termasuk perkembangan arsitektur Indis. Dalam periode kemerdekaan, bangsa Indonesia menganggap arsitektur Indis sebagai monumen dan simbol budaya priayi yang tidak bisa lagi dipertahankan dan dijadikan kebanggaan, maka kehancurannya tidak perlu diratapi.

Arsitektur Indis mencapai puncaknya pada akhir abad ke- 19. Seiring dengan perkembangan kota yang modern, lambat laun gaya Indis ditinggalkan dan berubah menjadi bangunan-bangunan baru (nieuwe bouwen) yang bergaya art-deco sebagai gaya internasional.

Bang Namin (83) bekas sopir Eykman kontrolir di Batavia berkata sambil menunjuk: “Di sini dulu ada gedung megah namanya “Sositet Harmoni” tempat dansa orang-orang Belanda, sekarang digusur untuk taman. Di sono tuh! di Molenvlit ada hotel mewah Des Indes yang juga digusur untuk pertokoan dan masih banyak lagi gedung-gedung bekas orang-orang Belanda yang megah di Mester Kornelis, Weltevreden, Pejambon, Petojo, dan lain-lain, juga sudah pada digusur.” Sekarang arsitektur gaya Indis hanya tinggal kenangan.

J Pamudji Suptandar, Guru Besar pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, Jakarta.

Sumber: Harian Kompas, 14 Oktober 2001.

Arsitektur Geomansif

Juni 3, 1996

Oleh Koestomo Andreas Corsini

TIGA sampai lima tahun terakhir ini metode Feng Shui menjadi semakin populer sebagai kelengkapan merancang bangunan atau alat evaluasi pasca-huni bangunan. Para eksekutif bisnis atau birokrat mencari penasihat Feng Shui untuk mencocokkan nilai ketenteraman atau keuntungan dari bangunannya. Mereka percaya bahwa perbaikan bangunan dengan metoda Feng Shui akan menaikkan harkat hidupnya.

Di Jawa Tengah, di samping metoda Feng Shui nilai rancang bangunan perlu dicocokkan dengan rumus Petung Pawukon yakni pengetahuan kosmologi Jawa, Angsar atau Kawruh Kalang yaitu tata-nilai mistis arsitektur Jawa. Bersamaan dengan maraknya Feng Shui atau Hong Shui, marak pula masyarakat yang mempelajari daya prana tubuh manusia dalam bentuk olahraga tenaga dalam. Bagi yang mempelajari kosmologi kuno, menganggap bahwa bumi dan angkasa memiliki pelbagai daya prana atau energi gaib. Arsitektur sebagai lingkungan ciptaan manusia dianggap perlu berkontekstualisasi dengan fenomena alam tersebut.

Di universitas para dosen arsitek tua-muda menjadi penganjur, agar beberapa mahasiswa mencoba menerapkan metoda geomansi Timur dalam menggarap tugas kuliah desain. Bahkan kosmologi dan geomansi Jawa, telah menjadi bahan dasar disertasi Dokter Arsitek Heinz Frick di Universitas Teknik Eindhoven Belanda awal tahun 1995. Para akademisi meletakkan bidang ini dalam disiplin anthropologi arsitektur yang mengkaji kecenderungan perubahan sosial budaya dalam rupa bangunan dan tata letak bangunan. Peminat bidang studi ini sangat sedikit jumlahnya di Indonesia, namun sering menjadi bahan penelitian para arsitek Barat.

GEJALA penerapan arsitektur geomansif akan dapat merubah pelbagai tatanan yang berlangsung; terutama perilaku masyarakat, sosial-budaya, tata perkotaan dan lingkungan. Kepedulian terhadap pengetahuan geomansi kuno dapat disebut mengangkat dan menyambung kembali sejarah arsitektur lokal yang diputus masa modernitas. Modernitas sendiri dipandang sebagai implementasi dari perkembangan teknologi dan ekonomi dengan doktrin desain: fungsi yang efektif dengan teknologi efisien.

Modernitas arsitektur dan perkotaan dipandang semakin menyempitkan kepekaan manusia terhadap kesadaran meruang dan dicap tidak manusiawi. Sehingga perlu kesadaran inklusionistik, manusia perlu kembali menjadi bagian dari alam. Pengetahuan relasi ke alam telah ditelaah kembali dari naskah kosmologi lama atau kesadaran estetik seperti pada masa romantik Eropa. Oleh sebab itu arsitektur modern direvisi maknanya, karena dianggap lepas dari konteks alami. Pemikiran eko-arsitektur atau desain yang biologis menjadi salah satu betuk tanggapannya di samping arsitektur geomansif.

Khusus di Indonesia, sejarah budaya arsitektur asli telah diputus dan ditidurkan oleh kolonialisme. Tidurnya ragam arsitektur asli yang dipenuhi aturan kosmologi dan ciri geomansi, memberi kesempatan pengetahuan arsitektur Barat makin marak dan memungkinkan Feng Shui yang fleksibel subur ke Indonesia.

Beragam istilah para arsitek dalam mengemukakan revitalisasi geomansi kuno. Sebagian menyebut bagian dari paradigma postmo yang ingin merangkai sejarah, ada yang mengkategorikan sebagai gejala regionalisme arsitektur belaka. Macam-macam sebutan lain misalnya gejala renaisansi Timur, eko-desain, ikonokulturalis, demistikasi arsitektur, dan sebagainya.

Geomansi dan kosmologi kuno dapat menjadi pendekatan perancangan arsitektur, bahkan dapat dikembangkan sebagai metoda desain. Di sisi pandangan environmentalis, revitalisasi geomansi kuno dapat dimasukkan sebagai kesadaran moral kembali ke alam dengan pandangan holistik. Aturan geomansi arsitektur kuno di mana pun kebudayaan berkembang, meletakkan alam sebagai faktor yang menentukan dan mengikat bangunan di atasnya. Relief bumi alami tak boleh diubah, konon agar energi alam tak berkurang. Arsitektur-environmentalis perlu memulai meneliti potensi energi alam dalam arsitektur dengan alat-alat deteksi elektromaknit.

OLEH beberapa pakar bangunan, geomansi dan kosmologi arsitektur dianggap mampu memberi nilai tenteram bagi pengguna bangunan dan menerbitkan energi kehidupan yang mendorong kegiatan manusia. Katakanlah, terjadi keadaan mistikasi dalam arsitektur. Manusia kini yang terlibat dalam kehidupan material dan rasional, semakin mengendurkan diri dari ikat tali rohani Illahi. Kemudian mencari keselamatan lain dengan mendaras energi pada alam. Manusia kini tengah mencari Tuhannya dalam energi alam.

Gejala tersebut perlu disambut dengan sebagai pandangan eko-theologi. Tuhan semakin menyatakan dirinya dalam daya energi alam bumi, seperti halnya semasa awal Tuhan menciptakan semesta. Manusia masuk dalam kesadaran penciptaan pro-alam tersebut. Tuhan selalu bersemayaman dalam ruang waktu kehidupan, sehingga bersemayam pula dalam keindahan dan kekuatan daya alami. Manusia kembali sadar dalam pemikiran holistik; Tuhan, manusia dan biosistem bumi, lingkungan buatan seperti arsitektur, perubahan nilai kehidupan, merupakan keutuhan yang menyeluruh dalam satu suprasistem.

DALAM ungkapan anthropologis dikatakan bahwa budaya material tengah menguasai budaya immaterial! Dalam kebudayaan material manusia semakin menjauhkan jarak dengan kekaguman pada mitos dan estetik alami. Revitalisasi geomansi dan kosmologi untuk arsitektur adalah sublimasi kebudayaan immaterial dalam rupa bangunan. Namun perlu ada penafsiran atas dasar kesesuaian zaman. Perlu proses demistikasi dalam mengangkat kosmologi dan geomansi kuo ke dalam nilai manusia Timur yang tengah mencari makna hidup baru. Oleh sebab itu penafsiran kosmologi dan geomansi lama dalam logika kehidupan masa kini, memerlukan proses lama dan langkah yang rumit. Situasi tersebut merupakan proses pengutuhan kembali kesadaran spritualisasi manusia.

Kini terdapat kencenderungan kembali bahwa seluruh piranti kebudayaan asli yang mistis diotak-atik lagi dan dicoba direvitalisasi. Gejala ini pernah muncul pada masa 1980-1985 dan mungkin terulang tahun 2000-2005 nanti. Sehingga sering terjadi suatu repetisi pemikiran budaya namun tak pernah mampu meramal kecenderungan ke depan. Salah satu kelemahannya adalah proses sejarah sosial budaya terutama bidang arsitektur yang putus atau tidur lama. Diskusi tentang metoda revitalisasi arsitektur geomansif dan kosmologik jarang digelar, sehingga jarang ditemukan ide atau strategi penyelesaian. Mungkin juga terjadi kebuntuan karena ide rasional melawan ide mistikasi, suatu situasi diskursus yang tak pernah mendapat jawaban selesai.

Revitalisasi geomansi lama dalam arsitektur akan dapat menciptakan kaidah baru dalam perancangan bangunan dan tata letaknya (site-plan), sekaligus dapat berpengaruh dalam penataan kota (urban-design). Permasalahannya, dapatkah arsitektur geomansif dirumuskan sebagai salah satu pertimbangan dalam peraturan bangunan dan peraturan penataan kota? Oleh sebab itu perlu proses polemik dan legitimasi dari pelbagai unsur, masyarakat pengguna karya arsitektur, arsitek, pengelola kota, dan budayawan.

Patut diisyaratkan, legitimasi Feng Shui dalam peraturan bangunan dan perkotaan akan dapat menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan sosial. Apalagi geomansi lokal belum dapat dibangunkan dan disaingkan keberadaannya. Kendatipun demikian revitalisasi geomansi kuno dalam arsitektur masih menjadi gejala dan sedang mencari kesesuaian dengan zaman kini. Namun kenyataan, proses pengembangannya semakin semarak luas, sehingga perlu dicermati dan diteliti.

Revitalisasi geomansi dan kosmologi arsitektur mungkin hanya menjadi bagian dari gejala pengulangan budaya, sebentar meredup dan mungkin akan menghangat 5-10 tahun lagi. Di sisi lain ada harapan, bahwa salah satu kekhasan perancangan arsitektur dan perkotaan Asia mungkin dapat muncul dari revitalisasi geomansi-kosmologi setempat, kita sangat berharap!

Ir Kostomo Andreas Corsini, MSi, arsitek dan dosen tetap Universitas Katolik Sugijapranata Semarang.

Sumber: Harian Kompas, Senin, 3 Juni 1996.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.